suplemenGKI.com

Senin, 26 April 2021

25/04/2021

HATI YANG BERARTI

1 Samuel 16 : 6 – 13  

 

Pengantar
Tak semua hal yang terlihat baik dan enak yang dirasakan adalah sesuatu yang berarti dalam hidup ini. Dalam banyak peristiwa yang terjadi, kita menyaksikan dan merasakan bahwa ada hal-hal yang terlihat tidak menarik dan terasa kurang sedap atau sulit justru menjadi sangat berarti dalam hidup ini. Maka melalui kitab 1 Samuel 16 : 6 – 13 yang kita baca dan renungkan pada hari ini, kita akan diajak untuk memahami keberadaan “hati” yang walau tidak bisa digambarkan wujudnya, namun sangat penting untuk diperhatikan.

Pemahaman
Ayat 6 – 10          :  Apa yang menjadi dasar pemilihan TUHAN?
Ayat 11 – 13        :  Bagaimana keberadaan Daud waktu dipilih TUHAN?

TUHAN berfirman kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab AKU telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat ALLAH; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Ini menunjukkan bahwa hal yang perlu mendapat perhatian utama kita sebagai umat-NYA adalah bagaimana keberadaan hati kita, apa isi hati kita. Dan ini sekaligus juga mengingatkan bahwa tidak mudah bagi kita untuk menilai seseorang, karena belum tentu kita mengenal hatinya.

Lalu apakah hati itu? Agar memudahkan memahami yang dimaksudkan sebagai hati, maka seringkali kata hati disejajarkan dengan kata pikiran, sehingga muncul ungkapan sehati sepikir, atau jika dikaitkan dengan perasaan maka muncul ungkapan sehati sejiwa. Padahal sesungguhnya hati adalah ruang spiritual (rohani), dan bukan sekedar ruang psikis, apalagi ruang fisik. Hati adalah tempat berdiam roh kita, di mana sebagai orang yang percaya kepada Kristus, roh kita disertai dan dipelihara (dibimbing, disucikan) oleh Roh Kudus.

Jadi jika TUHAN memilih berdasarkan keberadaan hati kita, atau menurut apa yang  menjadi isi hati kita maka itu berarti kita perlu selalu menjaga relasi kerohanian kita dengan TUHAN, menjaga hidup spiritualitas kita agar dapat berkenan dan selaras kehendak TUHAN melalui bimbingan Roh Kudus.

Secara manusiawi dan tradisi masyarakat, Daud hanyalah seorang anak bungsu dari delapan bersaudara, ia juga masih sangat muda, yang mana digambarkan sebagai sosok yang kemerah-merahan. Dan jika dikatakan bahwa Daud bermata indah dan elok parasnya, itu lebih menunjukkan pancaran dalam dirinya yang baik, dan bukan pada soal fisiknya. Dari pancaran mata dan ekspresi wajah dapat terlihat hal positif dalam diri seseorang. Lagipula Daud adalah sosok pribadi yang mau bekerja (bertanggung jawab) sebab dikatakan bahwa saat itu ia sedang menggembalakan kambing domba. Ia belajar (sedia) menjadi gembala, sebagaimana ia juga mempersaksikan bahwa TUHAN adalah Gembala yang baik bagi dirinya.

Refleksi
Marilah kita berdiam diri sejenak dan mencoba merenungkan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apakah kita cenderung menilai seseorang berdasarkan penampakan fisiknya dan perasaan kita?
  • Apakah kita telah menjaga kehidupan spiritual kita secara baik? 

Tekadku
TUHAN, jadikan aku sebagai umat-MU yang tetap menjaga hatiku agar dapat selaras dengan hati-MU. 

Tindakanku
Dalam situasi pandemi Covid-19 dan di segala waktu, aku akan mencoba menyikapi berbagai realitas kehidupan ini dengan keberadaan hati yang dipimpin ROH TUHAN.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*