suplemenGKI.com

DI BALIK KATA BAIK

Amsal 22 : 1 – 9

 

Pengantar
Apa yang kita pikirkan jika mendengar kata “baik”? Apakah kita juga ingin hal baik itu terjadi dalam hidup kita ataupun keluarga kita, dan juga dialami semua orang? Saya yakin bahwa kita semua berharap mengalami hal baik dalam hidup ini, namun tak semua orang dan semua keluarga menyadari sumber atau pemberi kebaikan yang sejati. Dalam kitab Amsal 22 : 1 – 9  yang kita baca pada hari ini, kita diajak untuk memperhatikan apa yang ada di balik kata “baik”, khususnya berkaitan dengan ungkapan “nama baik” dan “baik hati” serta bagaimana agar dapat mengalaminya.

Pemahaman
Ayat 1 – 4   :  Mengapa nama baik itu lebih berharga dari kekayaan?
Ayat 5 – 9   :  Apa yang dialami dan terjadi dalam hidup orang yang baik hati?

Nama baik ternyata tidak saja dikaitkan dengan hal kekayaan tapi juga dengan hal kehormatan dan hal kehidupan (ayat 4). Ini yang menyebabkan nama baik menjadi sesuatu yang sungguh (lebih) berharga. Adapun beberapa hal yang kemudian dihubungkan dengan nama baik adalah keberadaan yang dikasihi orang lain, mendapatkan kebijakan, ada kerendahan hati, serta hidup takut akan TUHAN. Ini berarti kita perlu memperhatikan beberapa hal tersebut dalam kehidupan secara baik, yang sebenarnya justru dapat kita urutkan secara terbalik, yaitu mulai dari hidup takut akan TUHAN sehingga memiliki kerendahan hati, mendapat kebijakan atau hikmat serta dikasihi orang lain. Dalam Kisah Para Rasul 2:47 disebutkan hal serupa kepada jemaat Kristen mula-mula, yaitu: “… dan mereka disukai semua orang.”

Selain nama baik, maka bacaan Alkitab kita pada hari ini juga menyatakan tentang hal baik hati. Bahwa orang yang baik hati diberkati TUHAN. Dan bahwa orang yang baik hati adalah orang yang berbagi rezekinya dengan orang miskin. Namun jika kita perhatikan secara lebih cermat, maka orang yang baik hati tidak saja berbagi rezeki tapi juga tidak ada duri dan perangkap dalam jalan hidupnya seperti orang yang serong hatinya. Orang yang baik hati juga tidak menabur kecurangan.

Jadi hal baik hati ini tidak saja dikaitkan dengan hal jasmaniah (berbagi rezeki) tapi juga hal rohaniah, yaitu hidup yang tidak menyimpang dari jalan TUHAN. Dan hidup di jalan TUHAN berarti hidup yang penuh atau diwarnai rasa kasih sayang, sehingga hal ini perlu dididik sedini mungkin (yang dibahasakan dalam Amsal mulai masa muda) agar sampai masa tua tidak menyimpang jalannya.

Salah satu pernyataan tentang sumber kebaikan hati terdapat dalam Kisah Para Rasul 17:11 : “ Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya … karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab suci …”

Refleksi
Marilah kita berdiam diri sejenak dan mencoba merenungkan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apakah kita telah memperhatikan nama baik (bukan sekedar pencitraan) dalam hidup ini?
  • Apakah kita telah mewujudkan kebaikan hati yang bersumber dari TUHAN? 

Tekadku
TUHAN, jadikan aku sebagai pribadi yang hidup dalam segala kebaikan-MU.

Tindakanku
Dalam segala waktu, juga di masa Bulan Keluarga ini, saya akan berusaha untuk menjaga nama baik sebagai umat-MU dan berbagi kebaikan hati kepada sesama.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*