suplemenGKI.com

KEBAIKAN KASIH ALLAH

Maleakhi 3:2-4

 

PENGANTAR
Petani rutin memotong daun tanaman apel hingga hampir habis; termasuk membersihkan ranting-ranting yang menua dan kering.  Kebiasaan ini meski tampak merugikan, tapi sebenarnya dilakukan untuk mendorong pertumbuhan buah yang lebih baik. Allah pun melakukan hal yang sama kepada Israel. Meski seolah tampak susah atau menderita tapi dibalik itu, Allah mengerjakan kebaikan kasih-Nya kepada Israel.  Bagaimana memahami karya Allah yang demikian?  Mari kita merenungkan!

PEMAHAMAN

  • Apa yang Allah akan lakukan kepada Israel? (ayat 3, 5)
  • Bagaimana kemungkinan respons Israel? (ayat 2)
  • Pernahkah saudara mempertanyakan kebaikan kasih Allah?

Maleakhi mengambarkan keadaaan Israel setelah masa pembuangan. Pada masa itu Israel sedang berada dalam kondisi yang tidak baik.  Israel melakukan pelanggaran dengan sadar, yaitu: mencemarkan korban persembahan (1:6-14), para imam mengajarkan kesesatan dan tidak setia (2:1-9), terjadi perkawinan campur dan perceraian (2:10-16) serta mengabaikan kewajiban persepuluhan (3:6-12).  Dari semua daftar kesalahan itu, umat Israel bukan sadar diri melainkan mempertanyakan keadilan Allah dan membela diri seakan tidak bersalah.  Kebaikan kasih seperti apa yang Allah lakukan kepada Israel?

Maleakhi menggambarkan Allah sebagai pribadi yang sedang duduk dan mengerjakan sesuatu yang mendatangkan kebaikan Israel, “seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak” (ayat 3a).  Pada umumnya emas atau perak mengandung unsur-unsur lain, sehingga jenis ini tampak buram atau kotor.  Harganya pun menjadi murah.  Untuk memperbaikinya,   maka emas atau perak itu harus dibakar pada suhu tertentu.  Pembakaran perlu diulang beberapa kali sampai emas atau perak itu benar-benar terpisah dari unsur-unsur lain yang mempengaruhi kemurniannya.  Fungsi api bukanlah menghancurkan emas atau perak tersebut;  tetapi justru memurnikan. Semakin panas nyala api, semakin ketahuanlah mana yang tulen dan mana yang palsu.  Demikian halnya dengan Allah yang mengijinkan kesulitan dan tantangan hidup, bukan hanya sebagai teguran atau hukuman, tetapi juga sebagai sarana memurnikan iman.  Keadaan sulit memposisikan Israel pada pilihan: mempercayai “tukang-tukang sihir” (ayat 5) atau tetap setia kepada Allah.  Kemurnian iman akan tampak dari pilihan hidup yang mengutamakan Allah. Sesungguhnya, kebaikan kasih Allah bertujuan mengerjakan hal-hal yang baik dalam hidup umat-Nya.

Bagaimana keadaan kita hari ini?  Bukankah kesibukan berpotensi menggeser Allah dalam keutamaan hidup?  Bila demikian wajar jika kemudian Allah mengijinkan keadaan sulit sebagai sarana untuk memurnikan iman dan ibadah kita.  Allah tidak membuang tapi menunjukkan kebaikan kasih-Nya dengan cara memurnikan motivasi dan tujuan hidup kita agar selaras dengan maksud Allah.  Jika hari ini kita merasa sedang dimurnikan Allah melalui keadaan sulit, tetap berharap pada-Nya.  Yakinlah bahwa Allah ada, mengawasi dan tidak meninggalkan kita.  Kebaikan kasih Allah mengajak kita kepada pertobatan dan tetap melangkah bersama-Nya.

REFLEKSI
Mari merenungkan: kebaikan kasih Allah berkenan mengijinkan keadaan apapun terjadi dengan maksud memurnikan motivasi dan tujuan hidup kita agar selaras dengan kehendak dan rencana-Nya. 

TEKADKU
Ya Tuhan, tolonglah agar aku mampu mengutamakan Engkau di setiap pergumulan hidup.  Ajar aku untuk selalu terbuka dengan keadaan apapun yang Engkau pakai untuk membentuk aku.  

TINDAKANKU
Hari ini saat keadaan sulit terjadi, aku mau belajar tidak menggerutu atau putus asa.  Tetapi justru belajar menemukan pelajaran berharga sebagai wujud kebaikan kasih Allah yang memiliki rencana baik atas hidupku melalui keadaan apapun.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«