suplemenGKI.com

DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT

Yehezkiel 29:1-12

Pengantar
Pernahkah Saudara mendengar ungkapan “di atas langit masih ada langit”?  Ungkapan ini mengingatkan  kita agar rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Sehebat apa pun kita ternyata masih ada orang lain yang lebih hebat. Apalagi ketika kita menempatkan diri di hadapan ALLAH, kita adalah manusia yang kecil dan amat terbatas. ALLAH yang kita sembah adalah Sang Maha kuasa, yang penuh kedahsyatan karya. Di hadapan Allah yang dahsyat, beranikah kita merasa paling hebat? Pertanyaan kritis inilah yang akan kita renungkan melalui nubuat nabi Yehezkiel tentang Firaun dan Mesir!

Pemahaman

  • Ayat 1-2  : Mengapa nabi Yehezkiel diutus TUHAN untuk bernubuat melawan Mesir?
  • Ayat 3-12: Apa isi nubuat yang disampaikan nabi Yehezkiel kepada Firaun dan Mesir?
  • Ayat 6      : Apa tujuan pemberitaan nubuat kepada Mesir?

Nubuatan perlawanan terhadap Mesir ini ditulis setelah masa pengepungan dan penaklukan Yerusalem. Tampaknya Firman TUHAN menyorot kepada Firaun yang merasa sebagai raja besar yang paling hebat.  Digambarkan dalam ayat 3, Firaun berbaring di tengah anak-anak sungainya, bergulingan dengan puasnya dalam kekayaan dan kesenangan-kesenangannya. Dan dengan arogan ia berkata, “Sungai Nil aku punya”. Ia menyombongkan diri bahwa ia seorang raja yang berkuasa penuh atas apa saja. Padahal sesungguhnya betapa pun tingginya raja-raja dan penguasa-penguasa di bumi, ada yang lebih tinggi daripada mereka. Ada ALLAH di atas mereka yang dapat mengendalikan mereka. Bila mereka lalim dan menindas, ada ALLAH yang melawan mereka. ALLAH pun bebas mengadakan perhitungan dengan mereka. Firman TUHAN yang ditujukan kepada Firaun  ini sesungguhnya juga mewakili segenap bangsanya. Pada saat itu semua penduduk Mesir akan mengetahui bahwa tangan TUHAN telah turun atas Mesir.

Nubuat ini mau mengatakan kepada kita bahwa  sesungguhnya manusia tak layak menyombongkan diri. Tak seorangpun layak  berbicara dengan nada arogansi. Manusia mesti menyadari bahwa segala berkat materi, prestasi atau apa pun yang dimiliki sesungguhnya  pemberian ALLAH. Kita mungkin berbangga hati atas semua kesuksesan yang kita raih, namun bila hati tidak terkontrol, nada bicara kita akan berubah menjadi arogansi sehingga kita melupakan ALLAH, Sang Pemberi. Nubuat ini hendak mengingatkan kita pula bahwa segala berkat, prestasi dan kejayaan yang kita terima dari ALLAH harus kita pergunakan untuk melayani ALLAH, bukan untuk  bermegah.

Refleksi
Dalam keheningan, daftarkanlah semua yang Saudara miliki, baik materi, prestasi atau apa pun yang Saudara miliki. Ketika Saudara melihat deretan daftar berkat itu, apakah Saudara bangga akan kehebatan Saudara dan merasa orang lain tak sehebat Saudara? Ataukah hati Saudara melimpah dengan syukur atas berkat pemberian ALLAH dan dengan kerendahan hati ingin menggunakan berkat itu untuk melayani dan memuliakan ALLAH?

Tekadku
Ya TUHAN, berikanlah aku roh kerendahan hati agar mampu memuji dan memuliakan Engkau, Sang Pemberi.

Tindakanku
Aku akan terus belajar untuk menghargai orang lain. Aku akan terus mawas diri agar tidak terjebak dalam kesombongan diri dan suka berbicara dengan nada arogansi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«