suplemenGKI.com

A TIME TO REPENT

Lukas 3:3-6

 

PENGANTAR
Setiap kita bisa terjebak pada sesuatu yang bersifat rutinitas, membuat kita enggan melakukan introspeksi diri, sehingga sangat mudah menganggap apa yang kita lakukan dan kerjakan itu selalu baik dan benar menurut pandangan sendiri.  Introspeksi diri artinya mawas diri, memeriksa diri dan pengamatan terhadap diri sendiri di hadapan Tuhan untuk tujuan perubahan mental yang lebih baik.  Sikap itu membutuhkan keberanian membuka diri dan batin di hadapan Tuhan, sesama dan berdamai dengan diri sendiri.  Apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita dalam memasuki Minggu Adven kedua ini?  Mari kita merenungkan!

PEMAHAMAN

  • Apa yang Yohanes serukan kepada para pembesar dan seluruh umat Israel? (ayat 3)
  • Apa tujuan Yohanes menyerukan suaranya? (ayat 4-6)
  • Apa respons saudara saat seruan Tuhan itu menyapa relung hati?

Sebelum masa pelayanan Yohanes Pembaptis untuk mempersiapkan jalan bagi datangnya Sang Mesias, umat Israel berada dalam suatu masa tanpa penyataan Allah.  Masa itu disebut masa kegelapan yang mencapai sekitar 400 tahun.  Oleh sebab itu, dalam memperkenalkan kehadiran Yohanes, Injil Lukas mengawalinya dengan sebuah pernyataan “datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.” (ayat 2).  Frasa “datanglah firman Allah” merupakan frasa yang biasa dipakai dalam Perjanjian Lama untuk menyatakan Allah berbicara kepada umat-Nya (Kej.15:1, 4; 1 Sam.15:10; 1 Raja 12:22; Yer 1:2, dsb).  Frasa  itulah yang dipakai Lukas dalam memperkenalkan kehadiran Yohanes Pembaptis.

Yohanes hadir dengan penuh keyakinan membawa berita Allah, yang harus disampaikan untuk kebaikan umat-Nya.  Maka, apapun tantangannya Yohanes tidak henti-hentinya menyerukan pertobatan.  Dengan lantang Yohanes menyerukan “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” (ayat 3).  Kata ‘bertobat’ dalam bahasa Yunani ‘metanoia’ artinya menyesal, memperbaiki kesalahan.  Jadi bukan hanya menyesal tetapi ada tindakan memperbaiki kesalahan.  Untuk itulah Yohanes datang ke seluruh daerah Yordan, menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat; rakyat biasa, seluruh pembesar dalam pemerintahan, pemimpin agama maupun para bangsawan.  Status Israel sebagai umat pilihan tidak menjamin mereka hidup benar.  Justru status itu telah membuat umat Tuhan jatuh dalam dosa kesombongan, bagaikan gundukan yang perlu diratakan (ayat 4-5).  Para pemimpin masyarakat juga telah hidup dalam kemunafikan, mereka memelihara dan mengajarkan hukum-hukum agama tetapi tanpa introspeksi diri dan kasih kepada sesama.  Seruan pertobatan itu bertujuan agar setiap orang dapat melihat, mempercayai dan mengalami karya pengampunan serta keselamatan Allah (ayat 3, 6).

Bagaimana hidup kita hari ini?  Pertobatan seharusnya disertai tindakan iman, dengan tekad yang kuat dan tindakan nyata untuk mengubah diri.  Pertobatan merupakan sikap yang radikal, yaitu berani memeriksa diri sendiri, menyesal, memperbaiki kesalahan dan mengalami pembaharuan hidup sampai ke akar persoalan dan hati kita.  Sehingga spiritualitas hidup kita dapat tumbuh ke atas, menjalani kehidupan baru dalam iman kepada-Nya.

REFLEKSI
Di Minggu Adven kedua ini mari memeriksa diri dan hati kita.  Sesungguhnya, pertobatan bukan sekadar sikap penyesalan dosa, tetapi sebuah keputusan yang terwujud nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pertobatan akan memampukan kita mengalami kedalaman dan kekayaan firman-Nya sehingga hidup kita tetap terarah kepada-Nya dalam pergumulan apapun.  

TEKADKU
Ya Tuhan, tolonglah agar aku berani memeriksa diri dan batin setiap hari.  Aku bersedia menyerahkan kebiasaan tidak baik yang aku lakukan kepada istri atau suami juga anak-anak dalam keluargaku.  Bahkan aku mau menyerahkan dosa dan kesalahan yang aku lakukan dalam pekerjaan dan pelayanan, yang selama ini aku sembunyikan. 

TINDAKANKU
Setelah berdiam diri di hadapan Tuhan untuk memeriksa diri dan batin, hari ini aku bersedia menuliskan dua, tiga bahkan lebih; hal-hal yang seharusnya dibuang atau diubah dalam hidupku sebagai anak-anak-Nya.  Aku bertekad meninggalkannya dalam kasih karunia Allah yang memampukan aku menjalani hidup dalam pertobatan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«