Bacaan hari ini adalah dialog yang terjadi antara Yohanes Pembaptis dengan para imam dan orang-orang Lewi, para pemuka agama Yahudi pada waktu itu.  Melalui dialog ini kita akan belajar dari seorang Yohanes Pembaptis bagaimana menempatkan diri dengan tepat di hadapan Tuhan dan juga sesama, sebagai seorang pelayan Tuhan.

  1. Ay. 19-20: Jawaban apa yang diberikan oleh Yohanes ketika ia ditanya mengenai siapa dia sebenarnya?
  2. Ay. 21-23: Jawaban apa yang diberikan oleh Yohanes ketika ia ditanya mengenai pekerjaannya?
  3. Ay. 24-28: Jawaban apa yang diberikan oleh Yohanes ketika ia diminta pertanggungjawaban tugasnya tentang membaptis, dalam hubungannya dengan Mesias maupun Elia sebagai nabi yang mereka hormati?
  4. Dari jawaban-jawaban Yohanes ini, apa yang bisa Anda teladani dalam hal bagaimana menempatkan diri sebagai seorang pelayan Tuhan di hadapanNya?

 

Renungan

Melalui jawaban-jawaban Yohanes Pembaptis, kita akan melihat beberapa teladan darinya untuk kita praktikkan dalam kehidupan kita sebagai pelayan Tuhan, yaitu:

-         Seorang pelayan Tuhan mengetahui dan menyadari status dirinya sebagai hamba Allah.  Ini bukanlah sesuatu yang memalukan, tetapi membanggakan karena ada kepercayaan yang besar dari Tuhan untuk kita. Bukan hanya mengetahui dan menyadari, tetapi terus membawa dirinya demikian.

-         Seorang pelayan Tuhan mengetahui pelayanan apa yang telah dipercayakan kepadanya dan melakukannya.  Yohanes bukan melakukan pelayanan dengan sembarangan.  Ia melakukannya dengan baik seperti yang dinubuatkan tentang keberadaannya.  Apalah artinya menempatkan diri dengan status yang jelas sebagai pelayan Tuhan, tetapi tidak melakukan pekerjaanNya.  Identitas saja tidaklah cukup.

-         Seorang pelayan Tuhan mengetahu tujuan dari status dan pelayanannya. Ia bekerja untuk kebesaran nama Tuhan, bukan nama dirinya sendiri. Bukan hanya ketika dalam keberhasilan, tetapi juga pada saat situasi terancam atau tidak menguntungkan bagi dirinya sendiri. Ada pelayan-pelayan Tuhan yang mudah menyaksikan nama Tuhan ketika pekerjaannya berhasil, tetapi tidak demikian ketika karena statusnya sebagai pelayan Tuhan dan apa yang dikerjakannya bagi Tuhan ternyata membuat dirinya dalam posisi sulit.  Terkadang nama Tuhan itu tidak disebutkan lagi, tetapi ‘aku’nya yang dikedepankan. Sebaliknya, ada pelayan Tuhan yang pada saat melakukan sesuatu yang sulit dalam pekerjaan Tuhan seperti perintisan, pengorbanan (dll) mudah sekali mengingat Tuhan dan menyaksikan nama Tuhan.  Tetapi ketika pelayanannya berhasil dan dipuji banyak orang, muncullah arogansi diri yang bersuara dalam hati, “Semua itu karena saya yang mengurus, coba kalau tidak ada saya, belum tentu hasilnya seperti ini.”  Masing-masing orang bergumul dengan pengendalian dirinya terhadap keinginan untuk memuliakan dirinya, entah dalam situasi yang sulit maupun pada saat meraih keberhasilan. Yang pasti Yohanes Pembaptis terbukti lulus dalam dua keadaan tersebut.

Seorang pelayan tidak pernah lebih tinggi dari Tuannya: dalam kemuliaanNya, maupun dalam kesengsaraanNya

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*