suplemenGKI.com

Jumat, 23 April 2010; Yohanes 10:1-21

Di dalam Alkitab bahasa Indonesia terjemahan baru, kata ”gembala” muncul sebanyak 84 kali. Ada banyak tokoh yang dihubungkan dengan kata ”gembala” ini. Mulai dari Habel, Daud, sampai Tuhan Yesus sendiri yang juga disebut sebagai Sang Gembala Agung (Ibr. 13:20; 1Pet. 5:4). Kali ini kita akan merenungkan suatu perikop yang di dalamnya Sang Gembala Agung itu berkata, ”Akulah gembala yang baik”.

-         Siapakah yang dimaksud dengan domba, gembala, serta para pencuri itu?

-         Bagaimanakah hubungan gembala dan domba-dombanya digambarkan dalam bacaan kita hari ini?

-         Mengapa Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik? Apa saja yang dilakukan Yesus sebagai Gembala yang baik?

Renungan:

Sebenarnya dalam Injil Yohanes 10:1-21 ini ada dua gambaran yang disebutkan Tuhan Yesus untuk menyatakan diri-Nya, yaitu pintu (ay. 1–10) dan gembala yang baik (ay. 11–21). Namun perenungan kita hari ini lebih difokuskan pada gambaran Tuhan Yesus sebagai Gembala yang baik.

Pernyataan diri Yesus sebagai Gembala sebenarnya merupakan pernyataan keilahian Yesus. Sebab bagi orang Israel, Gembala mereka adalah Allah sendiri (Maz. 23:1; 80:2). Dia sedang menyamakan diri-Nya dengan Yehovah, Gembala Israel yang digambarkan dalam Perjanjian Lama.

Bukti bahwa Yesus adalah Gembala yang baik dinyatakan dalam berbagai tindakan-tindakan-Nya. Berbeda dengan gembala upahan yang lari meninggalkan kawanan domba yang digembalakannya, Yesus menjaga kawanan domba gembalaan-Nya dengan setia meski ada mara bahaya. Bahkan Sang Gembala bersedia menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan domba-domba-Nya. Menyerahkan nyawa di sini bukan hanya berarti “untuk kepentingan”, tetapi juga “sebagai ganti.”

Sang Gembala yang baik itu juga mengenal kawanan domba-Nya satu per satu. Hal ini menunjukkan kepedulian-Nya yang besar atas domba-domba-Nya. Dia mengetahui ciri-ciri dari setiap domba yang ada, termasuk segala kelemahan dan pergumulan masing-masing domba tersebut.

Betapa menyenangkan memiliki Gembala yang sedemikian baik. Dia mengenal kita pribadi lepas pribadi. Dia mengenali kelemahan dan pergumulan kita masing-masing. Bukan hanya mengenali, tetapi Dia juga bertindak untuk menolong kita menghadapi semua itu.

Bukan hanya mengenal kita, Sang Gembala Agung itu juga menjaga kita dari segala mara bahaya. Kadang kita sulit mensyukuri hal ini karena kita tidak melihat pun menyadari ancaman yang telah dihalau oleh Tuhan Yesus. Salah satu cara paling gampang adalah belajar melihat bahwa ketika jalan yang kita lalui lancar dan aman, mari kita melihat semuanya itu karena Tuhan telah menghalau segala mara bahaya yang mengancam kita. Dan mari kita bersyukur untuk hal itu.

“Sebagai Gembala Yang Sangat Baik, YESUS tak hanya melihat pergumulan kita,

tapi DIA sungguh-sungguh bersedia terlibat dengan hebat di dalamnya”

===============================================================

Sabtu, 24 April 2010

Yohanes 10:22-30

Mempercayai ALLAH (1) :

”Bukan dari banyaknya bukti”

Penulis Injil Yohanes menyebutkan bahwa situasi di mana perikop yang akan kita renungkan hari ini terjadi adalah hari raya pentahbisan Bait Allah. Hari raya ini memiliki sejarah yang cukup panjang dan sangat menghina harga diri. Sekitar tahun 170 sebelum Masehi Antiokhus menyerang Yerusalem. Puluhan ribu orang Yahudi terbunuh, dan puluhan ribu lainnya disiksa. Bait Allah dinajiskan, dijadikan tempat pelacuran, dan mezbah korban dijadikan mezbah untuk Zeus. Lalu terjadilah perang kemerdekaan yang akhirnya dimenangkan orang Israel pada tahun 164 sebelum Masehi. Bait Allah dikembalikan pada fungsinya yang semula. Dan untuk memperingatinya, diadakan hari raya penahbisan Bait Allah. Dengan latar belakang situasi inilah percakapan dalam perikop kita hari ini terjadi.

-         Apakah sebenarnya yang dicari orang-orang Yahudi melalui pertanyaan yang mereka ajukan itu?

-         Apa pula yang ditegaskan Yesus melalui jawaban-Nya? Mengapa Yesus menjawab demikian? Kebutuhan apa yang dilihat Yesus di dalam pertanyaan orang-orang Yahudi itu?

-         Dalam arti bagaimanakah Yesus mengatakan diri-Nya dan Bapa adalah satu?

-         Adakah dampak yang timbul bagi Saudara bila Yesus hanyalah manusia biasa? Atau bila Yesus hanyalah Allah yang maha sempurna?

Renungan:

Rasul Yohanes memberikan penjelasan bahwa lokasi terjadinya percakapan ini adalah di serambi Salomo, di mana biasanya orang berjalan dan bermeditasi. Di sini pula biasanya para rabi berjalan dan bercakap-cakap dengan para murid mereka mengenai pengajaran-pengajaran yang mereka pahami.

Kali ini mereka bukan bercakap-cakap dengan para rabi kebanyakan, melainkan dengan Kristus sendiri. Mereka meminta penjelasan atas kebingungan mereka selama ini. Apakah benar bahwa Yesus adalah Mesias? Mereka membutuhkan bukti untuk mendapatkan konfirmasi. Tapi Tuhan Yesus seakan berkata, “Bukan bukti yang kamu butuhkan, melainkan hati yang mau percaya”. Sebanyak apapun bukti yang diberikan, kalau memang hatinya masih belum percaya, maka hasilnya tetap adalah ketidak-percayaan.

Ada banyak pengajaran dan perbuatan yang telah dilakukan Tuhan Yesus yang dapat dijadikan bukti. Namun mereka tidak sanggup memahami semuanya itu. Karena persoalannya adalah pada hati mereka yang tidak percaya. Mereka bersikap demikian karena pada dasarnya mereka bukanlah domba-domba Kristus. Domba itu mengenal suara Sang Gembala. Demikian pula dengan diri kita. Apakah kita adalah domba gembalaan Kristus? Hal itu terbukti ketika kita hidup dalam ketaatan sebagai bukti bahwa kita memang mengenal suara Kristus.

“Seorang yang memiliki kualitas rohani yang tinggi tak akan melihat ALLAH karena adanya bukti-bukti melainkan karena hati yang mengasihi Sang Ilahi”

===============================================================

Minggu, 25 April 2010

Yohanes 10:31-39

Mempercayai ALLAH (2) :

“Hidup Dalam Ketaatan”

Injil Yohanes pasal 10 merupakan akhir dari bagian pertama dari susunan Injil ini, di mana pengajaran Tuhan Yesus ditujukan kepada orang banyak. Setelah ini, Tuhan Yesus tidak lagi memberikan pengajaran di depan pemimpin-pemimpin agama, melainkan lebih pribadi. Pada bagian akhir dari pasal 10 ini kita akan merenungkan bagaimana reaksi para pemimpin Yahudi itu.

-         Mengapa orang-orang Yahudi itu hendak melempari Yesus dengan batu? Apakah untuk menunjukkan betapa amarah mereka telah memuncak sedemikian rupa, ataukah ada dosa tertentu yang “dilihat” orang-orang Yahudi dalam diri Yesus?

-         Bagaimanakah Saudara memahami Mazmur 82:6 dalam rangka pembelaan diri Tuhan Yesus?

-         Apakah arti “… percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu…” (ay. 38)?

-         Adakah konsep Allah yang sulit untuk kita terima atau pahami? Lalu, bagaimana kita menyikapi hal tersebut?

Renungan:

Apa yang kita baca dan renungkan hari ini cukup menjadi ironi. Di akhir masa pelayanan-Nya secara publik, di mana Dia melakukan berbagai macam mujizat yang membuat orang berdecak kagum, demikian pula halnya dengan pengajaran-Nya yang powerful, respon yang diterima Tuhan Yesus malah penolakan yang luar biasa. Para pemimpin agama Yahudi itu tidak bisa menerima pernyataan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Pengertiannya di sini bukanlah Allah menikah lalu memiliki anak, melainkan menyatakan persamaan esensi antara dirinya dengan Allah. Sama seperti anak monyet adalah monyet, bukan angsa. Menyatakan diri sebagai Anak Allah berarti menyamakan diri dengan Allah. Bagi mereka, pernyataan ini merupakan pelecehan terhadap Allah. Ini adalah dosa besar, yang hukumannya adalah dirajam batu. Itu sebabnya mereka mengambil batu untuk merajam Yesus.

Namun argumentasi Yesus tidak terbantahkan. Dalam Mazmur 82:6 disebutkan ”kamu adalah allah”. Pernyataan ini ditujukan kepada para hakim yang menjadi wakil Allah di dalam mewujudkan keadilan Allah di dunia. Merujuk pada ayat tersebut, seakan Yesus mengatakan bahwa bagaimana mungkin diri-Nya yang mengerjakan pekerjaan Allah tidak boleh disebut sebagai anak Allah?

Betapa sulit untuk percaya. Perlu kelembutan hati dan sikap merendahkan diri. Bukankah sulit bagi kita untuk percaya kepada Allah, ketika Dia berfirman atau berkarya dengan cara yang berbeda dengan pola pikir kita? Dengan berbagai macam bentuk kita melakukan penolakan. Namun semakin kita menolak, sesungguhnya kita semakin tersesat. Oleh sebab itu, marilah kita belajar merendahkan diri di hadapan-Nya, agar dapat terus hidup dalam ketaatan, meski kadang kita tidak mengerti.

”Seorang dengan hati yang taat, akan tetap bisa mempercayai ALLAH dengan luarbiasa, walau pergumulan yang ditanggungnya mungkin adalah pergumulan yang tak biasa”

===============================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*