suplemenGKI.com

Sabtu , 1 November 2014

Matius 23:1-7

 

Pengantar

Dalam bahasa Jawa, Guru itu digugu lan ditiru (dipercaya dan dapat dicontoh). Akan tetapi pada kenyataannya, tidak semua guru yang pandai mengajar, kehidupannya dapat menjadi teladan. Kiranya seperti itulah kehidupan ahli Taurat dan orang Farisi yang sedang dikritik KRISTUS dalam bacaan hari ini. Marilah kita merenungkannya!

 

Pemahaman

  • Ayat 1-2: Apakah arti penting keberadaan ahli Taurat dan orang Farisi?
  • Ayat 3   : Mengapa TUHAN YESUS meminta orang banyak dan para murid menuruti dan melakukan ajaran ahli Taurat dan orang Farisi tapi tak boleh menuruti perbuatan mereka?
  • Ayat 4-7: Apa sajakah perilaku ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang tak bisa menjadi teladan umat?

Dalam bacaan hari ini, TUHAN YESUS memperhadapkan orang Farisi dan ahli Taurat  dengan fakta-fakta kebobrokan mereka. Mereka menduduki kursi Musa, sebagai guru-guru masyarakat dan penafsir hukum. Di sini disebut tentang kursi Musa, karena Musa memiliki kursi-kursi semacam itu di setiap kota (seperti yang dinyatakan dalam Kis. 15:21). Merekalah yang memberitakan hukum Taurat dari atas mimbar itu. Inilah jabatan mereka, sebuah jabatan yang sah dan terhormat menurut hukum. Sebenarnya TUHAN YESUS menghargai posisi ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Ia bahkan menganjurkan para murid-Nya untuk menerima dan melakukan ajaran mereka.

Yang dipersoalkan di sini adalah sikap hidup mereka. Pengajar yang benar di hadapan TUHAN adalah mereka yang bukan hanya mengajar orang lain melainkan juga mengajar diri sendiri, sehingga totalitas kehidupan mereka menjadi pengajaran yang hidup. Pengajar yang baik bersedia menanggung beban yang berat di atas bahu sendiri, bukan justru meletakkannya pada bahu orang lain.

Orang-orang Farisi itu bukan hanya tidak melakukan apa yang mereka ajarkan (ayat 4), mereka menjalankan segala kegiatan rohani bukan untuk ALLAH, melainkan untuk dipuji manusia (ayat 5-7). Di balik kegiatan rohani mereka terselubung keinginan untuk beroleh hormat dan pujian (ayat 8). Kelihatannya mereka adalah kaum agamawan yang saleh namun ternyata mereka ingin menyembah dan memuliakan diri sendiri. Dalam kehidupan mereka, tak ada konsistensi pengajaran dengan perbuatan.

Refleksi

Dalam keheningan, renungkanlah apakah pemahaman-pemahaman iman kita selalu mewujud dalam perbuatan? Ataukah Anda menjadi seorang ”jarkoni”? ( bisa ujar dan mengajar tapi tidak bisa nglakoni /melakukan)

 

Tekadku

Ya TUHAN, mampukanlah aku untuk menghidupi Firman TUHAN dalam karya hidup sehari-hari.

 

Tindakanku

Mulai hari ini aku akan langsung mewujudkan setiap Firman TUHAN yang kupelajari dalam perbuatan  yang nyata.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*