suplemenGKI.com

Rabu, 25 November 2015

Mazmur 25:4-7

Pengantar

Menjaga kesetiaan di zaman ini bukanlah perkara mudah. Kesetiaan itu bagaikan sesuatu yang amat mahal harganya untuk bisa dimiliki, apalagi menjaga kesetiaan iman kita pada TUHAN. Dunia dengan segala hiruk-pikuk di dalamnya menawarkan kita berbagai macam hal yang tak jarang itu semua melunturkan kesetiaan kita pada-Nya. Banyak fenomena di luar sana menunjukkan hal itu, misalnya; karena mengincar posisi jabatan yang tinggi, tak segan seseorang meninggalkan imannya pada TUHAN YESUS, dan banyak lagi. Sungguh menyedihkan, tetapi demikianlah fakta yang seringkali terjadi di luar sana. Hari ini kita akan belajar dari Daud bagaimana ia berjuang mempertahankan kesetiaan-Nya untuk berjalan di jalan TUHAN.

Pemahaman

  • Ayat 4-5         : Sikap apa yang dapat kita teladani dari Daud dalam doanya ini?
  • Ayat 6-7         : Bagaimana refleksi Daud terhadap kasih setia Allah?

Daud bukanlah manusia yang sempurna, ia-pun (sebagaimana yang kita ketahui) pernah terjerumus dalam dosa. Singkatnya, Daud pernah merusak kesetiaannya kepada TUHAN dengan sikap hidupnya yang tidak benar. Menyadari akan ‘dosanya’ pada masa lalu, maka muncullah ungkapan sesal itu sekaligus permohonannya akan pertolongan TUHAN supaya ia jangan sampai ‘salah jalan’ lagi (ay.4-5). Daud tidak ingin hidupnya mengecewakan TUHAN lagi, ia mau berjuang dengan sungguh-sungguh menjaga dan mempertahankan kesetiaannya untuk terus berjalan di jalan TUHAN. Sungguh sebuah tekad dan komitmen yang luar biasa bukan? Daud tak segan-segan untuk berefleksi dari dosanya di masa lalu supaya kedepannya ia tak lagi mengulangi dosa itu.

Nah, bagaimana dalam kehidupan kita? Apakah kita telah sungguh-sungguh mau berjuang agar tidak mengecewakan TUHAN, dengan menjaga kesetiaan itu? Daud menawarkan sebuah kiat yang bagus untuk bisa kita lakukan pada zaman ini. Dalam teks bacaan hari ini, Daud ada dalam sebuah suasana di mana ia digoda kembali untuk melakukan perbuatan dosa. Tetapi apa respon Daud? Mari kita cermati pada ayat 4-7. Ayat-ayat ini adalah sebuah doa singkat nan sederhana pada TUHAN supaya ia dibimbing dalam kebenaran TUHAN. Doa singkat itu diakhiri dengan sebuah refleksi singkat akan kasih dan rahmat TUHAN yang luar biasa hebat. Dua cara tadi ternyata ampuh untuk membentengi Daud (juga kita) dari godaan-godaan yang dapat merusak kesetiaan kita pada TUHAN. Intinya, kalau kasih setia TUHAN tak pernah putus bagi kita, masakan mungkin kita mau membalas kasih setia-Nya dengan berbuat serong dari jalan dan kebenaran-Nya? Maka, bila tawaran dosa itu datang berserulah; “Tunjukkanlah jalan-Mu, dan bimbinglah aku, ya TUHAN !”

Refleksi

Ambil waktu hening, tenangkan pikiran dan hati Anda. Dalam keheningan, cobalah melakukan kilas balik: adakah sikap/perbuatan Anda yang mencerminkan ketidaksetiaan pada ALLAH di masa lalu? Setelah itu berdoalah mohon pengampunan-Nya, dan bertekadlah untuk tidak lagi mengulanginya.

Tekadku

Ampunilah aku ya Allah, orang berdosa ini. Kasihanilah aku, menurut kasih setia-Mu yang besar itu. Mampukanlah aku untuk melawan ketidaksetiaanku dengan bantuan rahmat-Mu yang besar.

Tindakanku

Pada setiap celah yang memberi peluang padaku untuk tidak setia, aku akan mengingat kembali sabda Tuhan hari ini.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*