suplemenGKI.com

Selasa, 24 Maret  2015

Yesaya 50:6-9

Pengantar

Seorang anak kecil sedang belajar matematika bersama guru lesnya. Ia diberi petunjuk untuk mengerjakan soal-soal yang sulit.  Tidak semua soal ia kerjakan dengan benar. Guru lesnya terus mengajarinya dan mendampinginya agar dapat mengerjakan soal itu dengan benar. Dia merasa soal itu terlalu sulit namun karena ia mau mendengarkan petunjuk dan ajaran gurunya, maka pada akhirnya ia mampu mengerjakan soal yang sangat sulit dengan baik. Dalam perjalanan karya pelayanan  seorang hamba TUHAN, ia bagaikan murid yang juga tak lepas dari kesulitan bahkan penderitaan. Apakah seorang hamba TUHAN bisa menjadi murid yang tetap setia mendengar suara ajaran Sang Guru ketika ia menghadapi kesulitan? Mari kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 6     : Bagaimanakah sikap seorang hamba TUHAN di tengah tantangan atau kesulitan yang dihadapinya?
  • Ayat 7-9 : Mengapakah hamba TUHAN itu begitu yakin akan pertolongan TUHAN?

Seorang hamba yang menghayati karya pelayanannya sebagai murid yang mau mendengarkan ajaran Sang Guru, akan  siap menghadapi rintangan sesulit apa pun. Seorang hamba TUHAN bukan sekadar mau mendengarkan  dan percaya pada Firman TUHAN, tapi sedia dicemooh, dipukul, dilukai sebagai konsekuensi ketaatan kepada Firman TUHAN. Pada saat menanggung penderitaan itu ia belajar berteguh hati di dalam TUHAN, rela menyerahkan diri dididik TUHAN, ditempa keteguhan imannya.  Dia telah menerima semua proses pembentukan yang ALLAH ijinkan. Proses pembentukan itu berat, tetapi melaluinya dia terbentuk menjadi tegar. Ia tidak memberontak atau menghindar dari kesulitan. Ia tidak membalas kekerasan yang dialaminya dengan kekerasan. Ia  dimampukan untuk bertahan dan berjuang di tengah tantangan dan kesulitan serta penderitaan. Mengapa ia mampu bersikap demikian luar biasa? Sebab ia yakin bahwa TUHAN tak akan mempermalukan hamba-Nya. Ia  yakin TUHAN menolongnya.

Di jaman ini, daya juang orang untuk menghadapi kesulitan dan penderitaan semakin berkurang. Oleh karena itu  makin banyak orang yang memilih jalan pintas yang lebih mudah dan nyaman. Sebaliknya semakin banyak pula orang yang mudah depresi dan menjadi kalap, tak mampu menahan diri dari tekanan kesulitan. Dalam situasi seperti ini orang cenderung memikirkan kekuatan atau bahkan keterbatasannya sendiri. Di jaman yang semakin sulit dan rumit, masih berapa banyak orang Kristen yang bersemangat berjuang dengan iman: ”TUHAN-lah Penolongku” ? Hanya orang yang pikirannya dihidupi oleh Firman TUHAN yang mampu berjuang menghadapi kesulitan dan penderitaan dengan keteguhan iman dan pengharapan  akan pertolongan TUHAN.

Refleksi

Dalam saat hening silakan mengingat-ingat kapankah Saudara mengalami kesulitan bahkan penderitaan karena mau belajar taat mendengar Firman TUHAN. Apakah di tengah kesulitan dan penderitaan, dengan mantap Saudara bisa berkata: “TUHAN-lah Penolongku!”

Tekadku:

TUHAN, tolonglah agar aku tetap taat mendengar Firman-Mu walau di tengah rintangan dan kesulitan.

Tindakanku

Aku akan mengawali langkah hidup di hari ini dengan bekal suara Firman TUHAN agar aku dapat terus meyakini: “TUHAN-lah Penolongku!”. Aku akan mengawali hari ini dengan menyanyi: NKB 116: 2

Bayang-bayang  gelap  ‘kan dihapus lenyap oleh sinar senyum wajah-Nya;

Rasa takut dan syak ‘kan menghilang cepat dari yang berpegang pada-Nya.

Refrein:

Percayalah dan pegang sabda-Nya: hidupmu dalam YESUS sungguh bahagia!

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*