suplemenGKI.com

Roma 6:12-23
Sejarah telah membuktikan, bahwa bangsa-bangsa yang berhasil memperoleh pembebasan dari tirani penindasan atau penjajahan justru memasuki masa-masa yang penuh kekacauan. Perebutan kekuasaan terjadi silih berganti. Tak jarang bangsa-bangsa itu kemudian kembali dikuasai oleh pemerintahan yang dipimpin oleh diktator yang tak kalah kejamnya dari pendahulunya. Tanpa kesadaran untuk bersatu dan bersama-sama berjuang dengan penuh tanggung jawab maka mempertahankan kebebasan itu serta mengisinya dengan sesuatu yang berarti bagi masa depan bangsa akan menjadi sebuah kemustahilan.
Hal serupa dapat dialami oleh setiap orang yang menerima pengampunan dan pembebasan dari belenggu dosa melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib. Rasul Paulus mengingatkan kita semua melalui suratnya: “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya” (Roma 6:12, TB). Tuhan memang rindu untuk membebaskan kita dari belenggu dosa, namun kita dituntut untuk bertanggungjawab menjaga kebebasan itu dengan hidup yang menjauhi dosa. Kita diminta untuk tidak menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada dosa (ayat 13). Bukankah titah itu menunjukkan, bahwa sebenarnya seiring dengan anugerah kebebasan, kita diberi potensi kemampuan sekaligus tanggung jawab untuk menentukan pilihan bagaimana kita menjalani kehidupan ini. Membebaskan diri kita sendiri dari belenggu dosa memang kita tidak mampu, namun menjaga dan mempertahankan anugerah itu adalah tanggungjawab kita.
Lebih lanjut Rasul Paulus juga mengingatkan, bahwa pembebasan dari dosa juga disertai harapan dari Tuhan agar kita hidup untuk berbuah. Dalam Ayat 22, Rasul Paulus menulis: “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal”. Kepada kita dianugerahkan pula potensi untuk berbuah yang dihasilkan dari hidup dalam kekudusan dan kebenaran. Hidup seperti ini akan memberi kelegaan kepada sesama.
Merespons kebebasan dengan penuh tanggung jawab bukanlah hal yang mudah. Tuhan Yesus pernah bersabda: “Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kalian jangan mengalami cobaan, Memang rohmu mau melakukan yang benar, tetapi kalian tidak sanggup karena tabiat manusia itu lemah” (Matius 26:41 BIS). Hanya dengan hidup sebagai hamba kebenaran yang terus bergantung kepada Tuhan dengan sikap berjaga-jaga dan berdoa, maka kita akan dimampukan untuk menjaga kebebasan anugerahNya secara bertanggungjawab. ( AT )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*