suplemenGKI.com

Selasa, 9 Agustus 2011

Yesaya 56:3-8

Pernahkah Saudara mendengar istilah “sampah masyarakat”? Istilah ini sering dikenakan untuk orang-orang yang dianggap berkelakuan tidak baik sehingga dipandang mengotori atau mencemarkan nama baik sebuah masyarakat. Biasanya mereka disisihkan/dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Masyarakat menilai mereka tidak layak hidup bersama orang lain yang dipandang sebagai orang baik-baik. Oleh karena itu sekalipun mereka telah bertobat, tidak jarang mereka masih dianggap sampah. Akibatnya mereka kesulitan mencari pekerjaan atau pun dipandang dengan sebelah mata oleh para tetangga. Bahkan mereka belum tentu mendapat tempat di hati komunitas beriman. Bagaimanakah pandangan TUHAN atas kehidupan mereka?

Pendalaman Teks Alkitab

Ayat 3 : Apakah yang dirasakan oleh orang asing dan orang kebiri dalam ayat ini?
Ayat 4-8: Bagaimanakah pandangan dan sikap TUHAN terhadap mereka?

Renungan

Setiap orang ingin keberadaannya diterima orang lain. Akan tetapi pada kenyataannya ada saja orang-orang yang keberadaannya tidak dapat diterima orang lain bahkan cenderung dikucilkan oleh masyarakat. Oleh karena itu betapa menyedihkan menjadi orang yang tersisihkan.

Dalam kehidupan masyarakat Israel ada dua golongan umat yang tersisihkan, tidak diperkenankan ikut dalam ibadah umat Israel (Ulangan 23: 4-9). Golongan pertama adalah orang-orang kebiri. Bdk Ul 23:1. Orang kebiri adalah orang-orang yang hancur buah pelirnya atau yang terpotong kemaluannya. Beberapa pejabat tinggi dalam istana di dunia kuno harus dikebiri sehingga dapat dipercaya mengawasi selir-selir raja. Beberapa orang juga mengebiri diri untuk ibadat kepada dewa-dewa kafir. Mereka adalah golongan yang tidak lagi bisa disunat. Mereka juga dipandang sebagai orang-orang yang tidak diterima dan tidak diberkati ALLAH sebab mereka tidak mempunyai anak. Mereka bagaikan pohon kering, tidak mempunyai buah, tidak mempunyai anak yang meneruskan nama keluarga.

Golongan kedua adalah orang-orang asing. Mereka adalah para petobat baru yang ingin menggabungkan diri dalam perhimpunan umat yang beriman kepada TUHAN. Mereka tidak dilahirkan sebagai orang Israel dan karenanya dianggap kafir.

Orang-orang kebiri dan orang-orang asing takut dan mengeluh bahwa TUHAN – melalui keputusan para imam – akan memisahkan mereka dari umat-Nya. TUHAN menanggapi ketakutan dan keluhan mereka dengan berita yang melegakan hati. Dalam ayat 4-5 kita melihat tanggapan Firman TUHAN terhadap ketakutan dan keluhan mereka. Melalui Yesaya, TUHAN berkata: “Janganlah orang kebiri mengeluh demikian, karena ia pun akan diberkati asalkan ia menempuh jalan yang ditentukan bagi setiap orang yang menginginkan kasih karunia ALLAH; ia harus memelihara hari Sabat, memilih apa yang TUHAN kehendaki yaitu menahan diri dari setiap perbuatan jahat dan melakukan keadilan serta berpegang pada perjanjian ALLAH yaitu hukum yang ditentukan TUHAN bagi umat-Nya”. Melalui imam atau nabi-Nya, ALLAH menerima keberadaan mereka. Oleh karena itu sebagai ganti berkat anak cucu yang meneruskan namanya ( bdk, nama keluarga, marga, family) diberikan kepadanya suatu tanda peringatan di bagian luar bait ALLAH; tanda itu tidak dapat lenyap karena tetap diingat oleh ALLAH. Tanda peringatan ini merupakan tanda berkat dan penerimaan ALLAH atas mereka.

Yesaya menegaskan bahwa orang-orang asing dan orang-orang kebiri diterima oleh TUHAN asalkan mereka hidup berpegang pada perjanjian/hukum TUHAN, sungguh beriman kepada TUHAN, mengasihi dan melayani TUHAN. ALLAH berkenan kepada mereka. Ibadah korban bakaran dan doa-doa mereka diterima TUHAN. Mereka diterima di rumah TUHAN sebagaimana umat Israel. Oleh karenanya Yesaya menegaskan bahwa rumah TUHAN disebut sebagai rumah doa bagi segala bangsa (ayat 7). Rumah TUHAN terbuka untuk semua orang. Hal ini menyatakan kepada kita bahwa TUHAN menerima semua orang. DIA memberikan kasih dan penerimaan untuk semua orang.

Apabila TUHAN menerima semua orang tanpa kecuali, pantaskah kita menolak keberadaan manusia lain? Sesungguhnya kita tidak layak menolak keberadaan orang lain apalagi menyisihkan mereka. Janganlah merampas kebahagiaan orang yang telah diterima TUHAN. Janganlah merampas kasih TUHAN bagi orang lain. Sebaliknya justru kita dipanggil untuk mengalirkan kasih TUHAN dengan menerima setiap orang sebagai pribadi yang dihargai dan dikasihi TUHAN. Beranikah Saudara menerima kehadiran para mantan “sampah masyarakat” dalam kehidupan peribadahan dan persekutuan gereja?

Jadikan rumah kita dan gereja kita sebagai rumah doa bagi segala bangsa

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*