suplemenGKI.com

Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16).

Hidup untuk makan atau makan untuk hidup? Ini pertanyaan yang sering kita dengar ketika bercanda bagi orang yang hobinya makan. Mengapa tidak kita jawab seperti Petrus yang mengatakan seperti ayat di atas. Dengan kata lain, kita hidup karena diciptakan-Nya. Maka hidup kita juga untuk Dia.
Jika dasar pelayan Tuhan (pendeta, penatua dan jemaat) adalah kenyamanan hidup, bukan Tuhan; kita cenderung mengabaikan tugas dan panggilan-Nya. Jika dasar kebahagiaan adalah materi-kesehatan, maka kita menjadi orang yang malang ketika semuanya hilang. Jika dasar pelayanan kita mengkultuskan tokoh atau orang tertentu yang kita anggap bisa segalanya, maka mudah sekali kita tergelincir dalam perpecahan ber jemaat.
Bersyukur tahun 2011 GKI yang satu (menyatu) ini boleh mendasarkan bimbingan Tuhan selama 23 tahun. Melalui perjuangan panjang yang tidak mudah. Di hari bersejarah tahun 1988 manakala para pemimpin ke tiga sinode Jabar-Jateng-Jatim menyatu, justru Tuhan memanggil pulang hamba-Nya yang setia, alm. Pdt. Clemen Suleeman, M.Th. Beliau mengalami kecelakaan di jalan menuju tempat persidangan sinode Am di Bogor. Tragis, menyedihkan dan meninggalkan rasa duka para pemimpin gereja dan aktivisnya, karena dia adalah “tokoh penyatu GKI”. Perjuangannya telah selesai karena beliau telah menerima mahkota kehidupan bersama Tuhan yang ia layani dengan hati.
Tahun 2003 berhasillah dikemas Tata Gereja dengan jumlah 293 halaman. Tahun 2009 disempurnakan menjadi 366 halaman terdiri 214 pasal. Itu adalah karya yang bisa dibanggakan tetapi sekaligus menjadi keprihatinan, manakala kita melupakan bahwa hanya Roh Kudus, GKI dapat mengungkapkan pemahaman imannya mengenai gereja yang universal dan mengenai dirinya sendiri secara partikular melalui Mukadimah alinea 1. Ini merupakan pengenjawantahan dari Matius 16:17 “sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang disorga”
Apakah GKI masih tetap menjadikan Tuhan sebagai Dasar dari segala sesuatu dalam aplikasi bergereja? Pelayan gereja yang berlatar belakang pelbagai disiplin ilmu, boleh menjadi kekayaan kita. Namun perlu diwaspadai ketika pelayanan didasari “like or dislike” atau karena “le pri de corps” (kolegialitas negatif), bahkan karena kepentingan pribadi.
Bung Karno berkata: Jangan sekali-kali melupakan sejarah, yang di akronimkan “Jas merah”. GKI Jatim punya sejarah unik, dari sobekan Alkitab Yohanes 10 terpanggilah Oei Soei Tiong yang kemudian menjadi founding father GKI Jatim. Tahun 60-an GKI Ressud dijuluki “gudang”, tapi kini jadi “gedung” yang apik. Plus Waluyo Jati yang telah menjadi berkat bagi masyarakat. Semua dimulai dari pengabdian hamba-hamba-Nya yang melayani dengan hati dan bergantung penuh pada Dia.
Kuncinya cuma satu: Back to the Bible. Karena Firman Tuhan itulah yang menuntun kehidupan gereja. Gereja bukan tempat “tontonan” tapi gereja harus menjadi tempat “tuntunan”. Nama GKI dengan gamblang di jabarkan sebagai Gereja Kristen yang eksis di Indonesia dan melayani Indonesia. Ini merupakan tanggung jawab GKI kepada Tuhan sendiri yang sudah menghadirkan GKI. (analogi dengan Matius 16: 18).
Kita adalah hamba-hamba Allah (Ebed Yahweh). Jika kita tidak melakukan hal yang benar yang sesuai dengan kehendak Allah, maka kita bukan hamba Allah. Rasul Paulus menasihatkan jemaat di Roma 12: 1. “Persembahkan dirimu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itulah ibadah yang sejati”, Amin.
W.P.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*