suplemenGKI.com

Rabu, 22 Februari 2012

Mazmur 25:1-3

Didi adalah seorang anak kecil berusia 5 tahun. Pada suatu hari, ia tidak mau pergi ke sekolah. Menurut pengakuannya, di sekolah ia diolok-olok oleh teman-temannya sebagai anak orang gila. Didi hidup bersama neneknya. Ke sekolah pun ia diantar oleh neneknya. Anak kecil ini tidak pernah bertemu ibunya. Suatu kali ia bertanya kepada neneknya: “ Di mana ibuku, Nek?”. Si nenek menjawab, “Kamu tidak punya ibu, nenek inilah ibumu”. Jawaban nenek ini untuk menutupi kenyataan bahwa ibu Didi sedang dirawat di rumah sakit jiwa. Dalam usia yang masih muda ibu Didi diperkosa laki-laki tak bertanggungjawab sehingga hamil dan melahirkan seorang putra. Ada teman sekolah Didi yang mengetahui tentang hal ini. Sejak itu Didi menjadi bahan olok-olok temannya. Didi merasa dipermalukan, oleh karena itu ia tidak mau pergi ke sekolah.

Pengalaman dipermalukan menjadi peristiwa yang melukai batin. Tidak ada seorang pun di antara kita yang ingin dipermalukan. Pernahkah orang beriman dipermalukan? Mari kita belajar dari permenungan Daud.

Pendalaman Teks Alkitab

Ayat 1-2 : Apakah yang sedang menjadi pergumulan Daud?
Ayat 3 : Mengapa orang yang menantikan TUHAN tidak akan mendapatkan malu?

Renungan 

Mazmur yang ditulis oleh Raja Daud ini hendak mengungkapkan refleksinya di usia tua. Sebagai raja, Daud masih harus berhadapan dengan para musuh yaitu orang-orang yang bangkit memberontak melawan raja.

Daud menghadapi pergumulan itu dengan tetap percaya pada TUHAN dan memohon agar TUHAN melepaskannya dari para musuh sehingga ia tidak mendapatkan malu. Daud sungguh meyakini bahwa TUHAN tidak akan mempermalukan orang-orang yang hidup setia di hadapan-Nya, sebaliknya orang yang hidup mengkhianati TUHAN dengan bergelimang dosa, akan mendapatkan malu.

Apakah keyakinan Daud itu juga menjadi keyakinan Saudara? Hidup setia di jalan TUHAN mengantarkan umat beriman pada jalan yang selalu dibimbing dan dituntun TUHAN. Inilah yang memampukan orang beriman menghadapi apa pun jua. Dalam kehidupan sehari-hari mungkin Saudara menghadapi banyak persoalan bahkan menghadapi orang-orang yang tidak menyukai Saudara, namun bersama TUHAN semuanya itu dapat dihadapi. TUHAN tidak membiarkan kita jatuh terjerembab di depan orang yang tidak menyukai kita sebab orang yang menantikan TUHAN tidak akan mendapatkan malu.

Orang yang menantikan TUHAN adalah orang yang mengandalkan TUHAN, hidupnya dipenuhi oleh kekuasaan dan kekuatan TUHAN. Sekalipun ia lemah namun kekuatan TUHAN yang besar menopangnya. Andalan orang yang menantikan TUHAN bukan dirinya sendiri sebab diri manusia penuh kelemahan dan keterbatasan tapi kekuatan TUHAN yang diandalkan. Tak ada kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan TUHAN. Orang yang menantikan TUHAN, hidupnya di bawah kuasa TUHAN bukan di bawah kuasa orang lain. Oleh karena itu ia akan mampu melihat setiap tekanan, tantangan dan kesulitan dalam mata iman. Hatinya tak gampang dilukai oleh kata-kata orang, hidupnya tak gampang dihancurkan oleh kekuasaan orang lain, jalannya tak gampang digelapkan oleh kuasa dunia ini.

Apakah Saudara merasakan kekuasaan dan kekuatan TUHAN menaungi Saudara? Terus nantikan dan andalkan TUHAN di sepanjang kehidupan Saudara. Terus setialah hidup di jalan TUHAN, niscaya Saudara tiada pernah dipermalukan, seperti lagu KJ 438: Apapun Juga Menimpamu

Apapun juga menimpamu, TUHAN menjagamu
Naungan kasih-Nya pelindungmu, TUHAN menjagamu
TUHAN menjagamu waktu tenang atau tegang.
IA menjagamu, TUHAN menjagamu.

Orang yang setia menantikan pertolongan TUHAN

tak akan dipermalukan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*