suplemenGKI.com

Kekudusan dihadapan Allah dan mengasihi sesama ibarat sekeping uang logam yang memiliki dua sisi. Ke dua sisinya saling melengkapi dan menjadi satu kesatuan. Kita tidak bisa hanya menginginkan bagian atas uang logam tanpa mendapatkan sisi bawahnya. Sedemikian juga kita tidak bisa menggenggam kekudusan dan hidup berkenan kepada Allah tanpa mengasihi sesama kita.

Dalam Imamat 19:1, Firman Tuhan mengatakan kuduslah kamu sebab aku Tuhan Allahmu kudus. Kita dikuduskan oleh Allah kita yang Maha kudus sehingga kita mendapat status kudus. Karena pada hakekatnya kita dengan upaya manusia tidak mungkin mencapai kekudusan seperti yang Tuhan kehendaki. Itu adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Namun tentu kita tidak menerima anugerah itu kemudian berdiam diri saja, kita seharusnya mengerjakan dan mengupayakan kekudusan anugerah Tuhan itu dengan melakukan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Ada dua dimensi yang Allah ingin kita kerjakan dan jaga dalam menghidupi kekudusan itu, seperti dalam Imamat 19: 2-18,  yang pertama dimensi vertikal  menyangkut hubungan kita dengan Tuhan. Kita menjaga hubungan dan kualitas komunikasi dengan Tuhan secara terus menerus, sehingga setiap pemikiran dan tindakan kita akan dikuasai oleh Tuhan. Seperti bejana yang diisi kasih dia akan meluap-luap dengan tindakan kasih dan itulah yang menjadi dimensi kedua, yaitu dimensi horisontal. Dengan menjaga. kualitas spiritualitas kita maka dengan kekuatan Tuhan kita akan dimampukan untuk menghasilkan buah-buah roh (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri) yang kesemuanya itu adalah wujud kasih kita kepada sesama. Hal ini ditegaskan pula dalam Matius 22:37-39 bahwa kasih kepada Tuhan sebagai hukum yang terutama yang harus kita lakukan dengan segenap hati, jiwa dan segenap akal budi ditindak lanjuti dengan hukum kedua yang sama dengan itu, yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Jadi bagaimana kita dapat hidup kudus dihadapan Allah dan mengukur bahwa hidup kita berkenan kepadaNya? Coba kita lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita. Adakah sukacita terpancar dari hati kita, adakah kata-kata damai sejahtera meluncur dari mulut kita, adakah kesabaran menghadapi anak-anak kita, adakah kesetiaan atas pasangan hidup kita, adakah kebaikan hati kita dirasakan orang-orang sekitar kita?

Kekudusan dihadapan Allah tidak ditandai dengan banyaknya doa yang dinaikkan, tapi dari banyaknya  perbuatan kasih kepada sesama.  

                                                                                                                                        (aNp)     

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*