suplemenGKI.com

Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya (I Tesalonika 3:13)

“Anak-anak kerjakanlah ulangan ini baik-baik, ibu percaya dengan kejujuran kalian” begitu pesan seorang ibu guru kelas lima sebuah Sekolah Dasar. Segera setelah selesai membagikan kertas soal, ibu gurupun meninggalkan kelas dan berpesan akan kembali lagi nanti. Apa yang kemudian terjadi di dalam kelas itu? Satu dua anak mulai berupaya untuk membuka catatan. Beberapa anak mulai menyontek teman mereka. Dalam waktu sekejab, kelaspun menjadi gaduh ketika semakin banyak anak yang tak lagi kuat mempertahankan kejujuran dan kepercayaan yang diberikan oleh ibu guru mereka. Hanya beberapa orang anak saja yang tampak tetap tenang dan tekun mengerjakan ulangan mereka sebagaimana mestinya. Rupanya ketenangan dan ketekunan mereka menarik perhatian beberapa orang temannya. Ada yang kemudian mengikuti teladan mereka tetapi ada juga yang malah mengolok-olok mereka.

Tak lama kemudian ibu gurupun kembali dengan diam-diam dan menyelinap masuk ke dalam kelas. Ia sungguh kecewa melihat sebagian besar murid-murid yang sungguh dikasihi dan dibanggakannya ternyata tak mampu menjaga diri mereka dari godaan untuk berbuat curang. Iapun kemudian meminta anak-anak mengumpulkan semua lembar jawaban dan menjaga mereka mengevaluasi apa yang baru saja terjadi. Yang menarik ada beberapa orang anak yang mengaku sempat menyontek namun kemudian merasa bersalah dan menghentikan perbuatan mereka. Kepada mereka ternyata ibu guru juga memberikan pujian seperti halnya kepada beberapa anak yang jujur sejak awal. Mereka dibebaskan dari hukuman.

Dalam menjalani kehidupan ini kita sebagai anak-anak Tuhan ibarat berada di dalam kelas untuk mengerjakan ujian tanpa pengawasan. Karakter kita justru diuji saat tak seorangpun melihat sikap dan perbuatan kita. Seorang anak Tuhan yang tak bercacat (blameless) tak berarti sama sekali tak berdosa (sinlessness). Tak bercacat berarti bebas dari segala tuntutan hukum karena ia sudah membereskan segala kesalahan atau dosanya. Mungkin kita pernah berbuat dosa, namun maukah kita merespons kedatanganNya kembali dengan kerelaan agar hati kita dikuatkanNya sehingga kita mampu segera berbalik ke jalanNya yang benar serta tidak lagi mengecewakanNya.

Selain tak bercacat, setiap anak Tuhan juga dituntut agar hidup kudus yang berarti hidup menurut standar yang Allah Bapa tetapkan bagi setiap anakNya (.. tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu- I Petrus 1:15). Menyambut Natal mengingatkan kita untuk selalu bersiap menyambut kedatangan PutraNya kembali. Ingatlah senantiasa akan TerangNya yang Menyinarkan Kekudusan! Jangan kecewakan Dia.

A.T.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*