suplemenGKI.com

Selasa, 3 Januari 2012
Yesaya 60:1-2

Pada zaman ini, kejahatan semakin merajalela. Tingkat kejahatan pun semakin meningkat. Berita korupsi, pembunuhan, penganiayaan dan pemerkosaan sudah menjadi “santapan harian” yang disuguhkan oleh surat kabar.

Dampaknya, banyak orang yang pesimis melihat kondisi ini. Mereka yang pesimis pasrah dengan keadaan dan melakukan pembiaran terhadap berbagai tindakan kejahatan yang mereka lihat. Pertanyaannya, apakah orang Kristen boleh menjadi pesimis dan melakukan pembiaran terhadap berbagai kejahatan yang mereka lihat? Mari kita mendalaminya melalui perenungan pada hari ini.

Pendalaman teks Alkitab

• Bagaimana kondisi Sion dan bangsa-bangsa sekitarnya pada saat itu? (Ayat 2)
• Apa janji Tuhan terhadap Sion? (ayat 2b)
• Apa perintah Tuhan kepada Sion? (ayat 1)
• Apa yang Tuhan harapkan bagi kita ketika kita menghadapi realitas dunia yang dipenuhi kejahatan?

Renungan

Yesaya 60:1-2 ditulis pada masa setelah Israel kembali dari tempat pembuangan di Babel. Pada masa sebelumnya, raja Persia yang bernama Koresy berhasil mengalahkan raja di Babel. Raja yang bijaksana ini memperbolehkan bangsa Israel untuk kembali ke tanah airnya. Oleh karena itu, sebagian dari bangsa Israel dan Yehuda kembali ke Palestina dan meninggalkan tempat pembuangan.

Situasi bangsa Israel dan Yehuda setelah kembali dari pembuangan tidak membaik bahkan mereka sedang berada dalam kondisi yang kacau. Pada saat itu terjadi kemerosotan moral di Israel dan Yehuda. Anak yatim, janda dan orang-orang miskin begitu menderita karena mengalami penderitaan. Sebaliknya, orang-orang yang memegang kekuasaan hidup dalam kemewahan dan gelimang harta. Dengan sewenang-wenang, mereka menindas para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.

Sebagai seorang nabi, Yesaya tidak berdiam diri melihat kondisi ini. Kondisi ini tidak membuatnya pesimis dan hilang pengharapan. Ia tetap menyuarakan suara kenabiannya. Ia menghimbau agar umat bangkit dan jangan berputus asa melihat keadaan yang terjadi itu. Mengapa umat tidak boleh persimis atau berputus asa dalam menghadapi kekacauan itu? Jawabannya adalah karena mereka percaya bahwa Sang Mesias akan datang ke dunia ini untuk memulihkan kondisi bangsanya dari kekacauan. Ada sebuah pengharapan besar akan terjadinya pemulihan di negeri mereka.

Perlu dicatat bahwa pengharapan ini bukanlah sebuah pengharapan yang pasif. Pengharapan ini menuntut sebuah tindakan nyata kita. Kita diajak untuk bangkit dan menjadi terang. Oleh karena itu, kita tidak boleh melakukan pembiaran-pembiaran terhadap kejahatan-kejahatan yang kita saksikan. Kita harus berani menyatakan kebenaran di manapun kita berada. Tidak ada tempat bagi sikap pesimis dan pasif bagi kita yang berharap pada Sang Terang! Sudahkah Saudara bangkit dan menyaksikan Sang Terang dengan hidup dalam kebenaran?

“Orang yang memiliki pengharapan kepada Allah tidak akan menjadi pesimis dan pasif melainkan akan selalu giat menyatakan terang Allah dalam hidupnya.”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

1 Comment for this entry

  • Pdt.Anang Sugeng says:

    saya diberkati dengan Firman TUHAN ini.Trimakasih TUHAN YESUS memberkati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*