suplemenGKI.com

(Lukas 3:1-6)

Menunggu, umumnya membuat kita tidak tenang, cemas dan bertanya-tanya kapan yang ditunggu akan datang. Apalagi bila yang ditunggu tidak memberikan kepastian, maka menunggu akan menjadi kegiatan yang membosankan. Dalam keadaan demikian, siapapun akan enggan menunggu, bahkan mungkin semangat setia menunggu bisa berubah menjadi keraguan atau ketidakpercayaan.
Situasi yang penuh keraguan itulah yang menggambarkan kehidupan iman orang-orang Yahudi sebelum Yohanes tampil di muka umum. Nubuat nabi Yesaya (4-6) sebagaimana dikutip Yohanes Pembaptis dalam penampilan perdananya menunjukkan masa waktu yang panjang bagi orang-orang Yahudi dalam menantikan kegenapan janji mesianik seperti yang disampaikan Maleakhi, “Lihat, Aku menyuruh utusanKu, supaya ia mempersiapkan jalan bagiKu!” (3:1). Bagaimana tidak ragu, sebab ada jedah waktu kurang lebih 350-400 tahun setelah Maleakhi, dimana Tuhan tidak berfirman dan tidak menunjuk satu nabi untuk mewakili umatNya, sampai kemudian peristiwa kelahiran Yesus dan tampilnya Yohanes Pembaptis di muka umum. Ditambah lagi dengan fakta terpuruknya mereka sebagai bangsa ditindas bangsa-bangsa asing. Wajar bila kemudian muncul pertanyaan seputar kebenaran janji mesianik tersebut. Haruskah kita masih menanti datangnya Mesias?
Dalam konteks inilah Yohanes Pembaptis tampil mendengungkan kembali janji Allah akan datangnya seorang penebus yang akan membebaskan manusia dari dosa. Ada dua kebenaran penting yang bisa dipelajari dari seruan Yohanes Pembaptis:
Pertama, Allah tidak pernah meninggalkan umatNya. Meskipun Allah seolah bersembunyi tapi Dia selalu ada bagi umatNya. ‘Ketersembunyian’ Allah bertujuan menyadarkan umatNya akan pentingnya peran Tuhan dalam kehidupan. Juga menyadarkan umatNya bahwa dosalah yang menghalangi mata hati mereka untuk dapat ‘melihat’ Tuhan. Itu sebabnya melalui Yohanes Pembaptis, Ia menyerukan perlunya bertobat dan memberi diri dibaptis sebagi tanda hidup yang baru.
Kedua, Allah baik dan setia. Yohanes Pembaptis menyerukan “bertobatlah” sebagai jalan untuk mengalami kebaikan Allah yang berkelanjutan, yaitu pengampunan dosa (Luk. 3:3). Kebaikan dan kesetiaanNya tampak ketika kegenapan janji mesianik itu diwujudkan melalui kehadiran Yesus Kristus yang menebus dan menyelamatkan, sehingga “mereka yang percaya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Bukankah ini kebaikan Allah yang pasti dan tuntas bagi hidup manusia?
Mungkin, hari ini kita seolah tidak lagi merasakan Allah ada dengan kebaikanNya. Semua seolah serba sama dan menjenuhkan. Namun yakinilah dibalik awan yang gelap selalu ada matahari. Demikian pula kasih dan kebaikan-Nya akan terus menerangi langkah hidup di tengah derasnya pergumulan. Mari senantiasa mempercayai bahwa DIA selalu menjaga kebaikanNya dalam hidup kita. Kiranya terang kebaikanNya senantiasa bersinar melalui hidup kita yang sudah diperbaharuiNya. Amin!

( Su )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*