“Ambil dan Bacalah” Edisi ke-17 Bln Agustus Tahun 2008

G K I R e s i d e n S u d i r m a n S u r a b a y a

 

Kita mengenal 4 Injil dalam Alkitab, yaitu Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Pernahkah Anda mendengar nama “injil Barnabas”? Tahukah Anda isi “Injil Barnabas?”Mengapa “Injil Barnabas” tidak ada dalam Alkitab? Anda ingin tahu jawabannya? Silakan menyimak dialog berikut ini. Ambil dan Bacalah!

Tanya  : Saya pernah mendengar bahwa selain Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes,  ada Injil lain yang tidak ada dalam Alkitab, yaitu “Injil Barnabas”. Sejak kapan “Injil Barnabas” dikenal orang Kristen?

 

Jawab: Naskah yang disebut sebagai “Injil Barnabas”  muncul pertama kali  pada tahun 1709 dalam bahasa Itali. Naskah itu diterima John Toland di Amsterdam dari Craemer, seorang penasihat raja Prusia. Pada tahun 1718 ‘Injil Barnabas’ mulai disebut dalam karangan John Toland yang berjudul ‘Nazarenus or Jewish, Gentile and Mahometan Christianity’. Naskah itu disimpan di Perpustakaan Wina pada tahun 1738. “Injil Barnabas” mulai menghebohkan ketika diterbitkan terjemahannya ke dalam bahasa Inggeris oleh Lonsdale dan Laura Rag dengan diberi judul ‘The Gospel of Barnabas’ (Oxford, 1907). Pada tahun 1908 kitab ini diterjemahkan oleh Khalil Saada ke dalam bahasa Arab, dan pada akhirnya diperkenalkan ke Indonesia oleh Ahmad Shalaby.

 

Tanya: Siapakah penulis “Injil Barnabas” dan kapan ditulis?

 

Jawab: Beberapa ahli berpandangan bahwa penulis “Injil Barnabas” adalah seorang biarawan yang bernama Marino. Dia adalah seorang Yahudi-Spanyol yang tinggal di Italia.  Kemungkinan sebelumnya ia beragama Katolik lalu berpindah ke agama Islam dan berusaha menyesuaikan kitab Injil dengan ajaran agama Yahudi (panyangkalan Yesus sebagai Messias) dan Islam (Penonjolan Muhammad). Sesudah ia memeluk agama Islam, namanya diubah menjadi Musatafa Al-’Arandi. Bahasa asli “Injil Barnabas” merupakan campuran dari dua dialek Italia yaitu ‘Tuska & Venezia’. Dari isi Injil Barnabas dapat dilihat pula  bahwa penulisnya memiliki satu pengetahuan Al Qur’an yang luas dan isinya memuat terjemahan secara hurufiah dari ayat-ayat Al Qur’an. Dari pengujian kertas dan tinta yang digunakan, nampak bahwa itu ditulis pada abad ke 15 atau ke 16. Isi “Injil Barnabas” juga mencerminkan beberapa teologi Katolik yang lahir pada abad pertengahan.  


Tanya: Jadi penulis “Injil Barnabas” bukan Barnabas dalam Perjanjian Baru?


Jawab: Bukan. Penulis “Injil Barnabas” bukanlah Barnabas dalam Alkitab Perjanjian Baru. Memang ada nama Barnabas dalam Kisah Para Rasul 4:36 yaitu nama baru yang diberikan kepada seorang yang bernama Yusuf. Yusuf menjual ladangnya dan hasil penjualannya diberikan kepada para rasul untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin.
Kebaikannya mendorong mereka untuk menamakannya Barnabas, yang berarti “Anak Penghiburan”. Akan tetapi dalam “Injil Barnabas”, penulisnya membuat kesalahan besar dengan memberikan kesan bahwa nama Barnabas diberikan kepadanya oleh YESUS dan dia adalah termasuk salah seorang dari 12 murid Tuhan Yesus.

 

Tanya : Apakah isi “Injil Barnabas”? Apa perbedaannya dengan Injil yang ada dalam Alkitab?

 

Jawab: Dalam kekristenan, “Injil Barnabas” tidak diakui sebagai Injil yaitu kabar baik yang menceritakan kehidupan dan karya TUHAN YESUS.  “Injil Barnabas” berisi 222 bab yang isinya merupakan usaha untuk menyelaraskan ke-empat Injil kanonik ( Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) menjadi satu Injil yang dibumbui dengan tradisi tradisi Yahudi, Kristen dan Islam. Secara garis besar, pandangan “Injil Barnabas” terhadap iman Kristen antara lain menyangkal ke-TUHAN-an YESUS, menolak misteri salib dan kebangkitan, “mengkambing-hitamkan Rasul Paulus dan mempertentangkannya dengan Barnabas seolah-olah kedua Rasul tersebut berpisah karena perbedaan teologis dan doktrin. Pandangan tersebut ternyata dipergunakan oleh mereka yang menyerang iman Kristen sampai saat ini.

 

Selain itu, ada banyak bagian dalam buku ini  yang isinya  berbeda dengan Injil Kanonik, misalnya:

 

a. Kesalahan mengenali Barnabas sebagai murid YESUS.

Pada pembuka kitab “Injil Barnabas” disebutkan bahwa Barnabas salah seorang murid Yesus, yang bersama-sama dengan Petrus, Yohanes dan Yakobus hadir waktu Yesus dimuliakan di atas gunung (Bab-42). Yesus mengatakan kepada Barnabas bahwa Ia tidak akan disalibkan (Bab-112), bahkan Yesus memerintahkan Barnabas untuk menulis Injil (Bab-221). Fakta ini jelas berbeda dengan ke-empat Injil. Dalam Injil kanonik tidak dikenal murid bernama Barnabas, ia baru muncul di masa Kisah Para Rasul sesudah Yesus (Kisah 4:36).

 

b. Kesalahan memahami tahun Yobel.

Dalam Bab-82 disebut bahwa ‘Tahun Jobel’ dirayakan setiap 100 tahun, padahal dalam Perjanjian Lama (Imamat 25:8-55;27:16-25) disebut bahwa tahun Jobel lamanya 50 tahun. Ini menunjukkan bahwa ”Injil Barnabas” baru ditulis setelah tahun 1300 karena pada tahun itu Paus Bonifacius VII mendekritkan perubahan tahun Jobel menjadi 100 tahun.

 

c. Kejanggalan geografi dan budaya dalam ”Injil Barnabas”

Ada beberapa kejanggalan geografi dan budaya dalam ”Injil Barnabas” yang menunjukkan fakta kuat bahwa Barnabas bukan ‘saksi mata’. Disebutkan bahwa Yesus naik kapal ke Nazaret (Bab-20), padahal Nazaret ada di pegunungan. Yesus disebut naik dari Nazaret ke Kapernaum (Bab-21) padahal Kapernaum lebih rendah dari Nazaret. Pada Bab-145-150 disebut bahwa kaum Farisi menjadi rahib, tidak kawin, dan berjubah istimewa, dan berasal nabi Elia. Ini sebenarnya gambaran kekristenan pada abad-abad pertengahan setelah timbulnya kerahiban.

Disebutkan bahwa prajurit Romawi berguling seperti tong anggur kosong ke luar dari bait Allah (Bab-152). Kenyataannya, pada masa Yesus orang Romawi tidak diperkenankan masuk bait Allah, dan pembuatan tong-tong anggur dari kayu adalah budaya abad pertengahan. Bab-69 menyebut para imam berpakaian indah dan naik kuda, padahal dalam Injil kanonik para Imam tidak pernah disebut naik kuda. Pada Bab-56-58,135 ada diskripsi tentang tujuh dosa pokok dan tujuh tingkat dalam neraka. Ini adalah hasil teologia Katolik abad pertengahan

 

d. Nafas Islam dalam ”Injil Barnabas”.


Dalam “Injil Barnabas” ternyata banyak bagian yang sebenarnya bernafaskan ajaran Islam, ini menunjukkan bahwa “Injl Barnabas” di tulis sesudah kehadiran agama Islam. Beberapa contoh mengenai hal ini adalah:


Pada Bab-44 disebutkan bahwa Abraham mengorbankan Ismail dan menunjuk Muhammad sebagai nabi Besar, dan disebutkan bahwa Adam berseru: ‘Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah itu.” (Bab-39,54,97).
Yesus dihadapan Sanhedrin disebut menyangkal dirinya sebagai ‘Messias’ dan menunjuk nabi yang akan datang sesudahnya (Bab-72,96). Yesus dianggap bukan ‘Anak Allah’ (Bab-48,98,222), malah pengakuan Petrus bahwa ‘Yesus adalah Anak Allah’ dianggap dosa besar (Bab-70, bandingkan Matius 16:16). Yesus juga tidak disalib karena digantikan oleh Yudas (Bab-217) dan Yesus tidak mati maupun bangkit (Bab-221-222).


Ada anggapan bahwa Messias adalah dari keturunan Ismael (Bab-43,55). Dalam Bab-192-192, Nikodemus dikatakan menemukan kitab Musa di bait Allah dan membaca bahwa ‘Ismael adalah ayah Messias’ dan ‘Ishak adalah ayah utusan Messias.’ Jadi, Yesus dalam “Injil Barnabas” seakan-akan ‘Yohanes Pembaptis’ bagi Muhammad, itulah sebabnya dalam “Injil Barnabas” Yohanes Pembaptis tidak disebut-sebut.

 
Dalam “Injil Barnabas” ada ungkapan mengenai ‘kelima waktu sembahyang’ dan ‘Uraian mengenai Allah dan sifat-sifatnya’ yang dengan jelas kita ketahui sebagai hasil teologi Islam.

 

Namun demikian, kamus Islam sendiri menyebut tentang kitab ini bahwa: “Sehubungan dengan Injil Barnabas tidak ada yang keberatan atasnya sebagai suatu kepalsuan zaman pertengahan …. Ia mengandung sejumlah pertentangan yang dipastikan bermula sejak abad pertengahan dan tidak pada zaman sebelum itu.” Bahkan, disebutkan pula bahwa buku itu malah tidak sesuai dengan aqidah Islam sendiri: “Ia memutar balikkan keutuhan doktrin Islam, menyebut Isa dengan “al-Masi’ah” yang Islam tidak membenarkannya.”

 

Tanya: Jadi dari penjelasan di atas, nyatalah bahwa yang disebut “Injil Barnabas” sebenarnya hanyalah buku yang tidak kita akui sebagai Injil. Masih adakah karangan “Injil yang lain” di luar Alkitab selain “Injil Barnabas?”

 

Jawab: Ya, masih ada. Anda ingin tahu? Nantikanlah Ambil dan Bacalah edisi mendatang.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

13 Comments for this entry

  • Rev.Christian Lukas says:

    Hei..
    kalian segala bentuk manusia yang membolak balikan ajaran kristus.. SEGERA BERTOBAT… Kedatangan Kristus tidak lama lagi…
    BERTOBAT…
    BERTOBAT…
    MENGAKU…
    Bahwa injil barnabas adalah injil yang palsu..
    karna tidak menceritakan Yesus sebagai Tuhan..Yohn 1:1.
    semoga tuhan memberikan waktu kepada kalian semua untuk bertobat…

  • dhimas says:

    Enggaklah kitab Barnabas gak boleh dihilangkan..saya sebagai penganut Kristen Advent mendukung untuk mengkajinya lebih lanjut..dan saya tidak setuju Yesus lahir tanggal 25 Desember

  • hawari says:

    bagaimana jikalau injil barnabas itu ternyata benar???

  • willy ps says:

    Kita sdh merubah sebutan Injil Matius menjadi Injil Yesus Kristus kan? Lengkapnya: Injil Yesus Kristus menurut Matius.
    Memang panjang. Tapi konsekuen dng bahasa aslinya. KATA MATHTHAION = Sesuai, menurut Matius. KATA MARKON = Menurut Markus.dst. Ya begitulah kita suka menyingkat, tapi “meaning” nya jadi berubah. Euanggelion = Injil itu kan menceritakan Yesus bukan penulisnya. Semoga.

  • Benny Gunawan says:

    Dalam “Injil Barnabas” ada ungkapan mengenai ‘kelima waktu sembahyang’ dan ‘Uraian mengenai Allah dan sifat-sifatnya’ yang dengan jelas kita ketahui sebagai hasil teologi Islam.

    Saya rasa tidaklah tepat kalau “Kelima waktu sembahyang” dianggap sebagai hasil teologi Islam.
    Beberapa waktu yang lalu saya sempat kirimkan kebbrp teman by email: tentang shalat dalam kristen yang telah dikenal sejak jaman gereja mula2 dan tradisi ini berlanjut pada jaman Luther dan hingga sekarang Gereja Katolik Roma,Gereja Melkite di Palestina, Gereja2 Orthodox masih melakukan sholat, walaupun telah disesuaikan dengan keadaan jaman saat ini.

    Saya postingkan ulang tentang shalat dalam Kristem :

    Shalat dalam Kristen

    Pelecehan terhadap doa yang dirumuskan, sebagaimana kadang-kadang terjadi dilingkungan Kristen, tidak memiliki dasar dalam Alkitab dan tradisi, tetapi merupakan suatu produk dari subyektivisme dan individualisme modern ( E.H. Van Olst, Alkitab dan Liturgi / Jakarta : BPK. Gunung Mulia, 1996 hal.68-69)

    Dalam komunitas Kristen yang berbahasa Arab. Doa-doa harian atau Brevir (Latin : De Liturgia Horanum) lebih populer disebut Sab’u ash shalawat (Shalat Tujuh Waktu). Liturgia Horanum adalah doa-doa harian yang dilakukan pada saat-saat tertentu, yang didasarkan atas penghayatan jam-jam peristiwa Yesus, khususnya Jalan Salib-Nya (Latin :Via Dolorosa, Arab : Tarîkh al-Alam).

    Brevir atau doa-doa harian ini sifatnya non-sakramental, dalam bilangan tujuh waktu secara lengkap, saat ini masih dilaksanakan di seluruh gereja-gereja Timur, khususnya oleh para rahib di biara-biara. Tetapi pemeliharaan waktu-waktu shalat, lengkap dengan adab qiyam (berdiri), ruku’ dan sujud, terutama dilestarikan di Gereja Orthodox Syria.

    Karena kekunoannya, tentu saja tidak dapat dikatakan tatacara ini dipengaruhi islam, seperti yang sering dituduhkan orang Kristen di Indonesia. Model doa-doa harian seperti ini, bukan hanya waktu-waktunya yang dapat dilacak dari ayat-ayat Alkitab sendiri, tetapi juga dokumen-dokumen gereja kuno, masa-masa menjelang kelahiran Islam, hingga pada zaman sekarang ini. Pola-Pola doa seperti ini, khususnya dalam Gereja Katolik ritus latin, sudah banyak mengalami penyesuaian akibat tuntutan hidup modern.

    Al-Quddâs al-Ilahî dan Sab’ush Shalawât:
    Dua corak Ibadah Gereja Mula-mula

    Sejarah gereja mula-mula, sebagaimana disebutkan dalam Perjanjian Baru, dengan jelas mencatat bahwa sejak awal mula orang-orang Kristen awal : “………. bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu menjalankan shalat-shalat dan merayakan ekaristi” (Kis 2:42, Peshitta)
    Ayat ini mencatat kedua corak ibadah gereja kuno, yakni ibadah sakramental (Arab : Al-Quddâs al-Ilahî/Perjamuan Kudus) dan ibadah non-sakra-menta, antara lain ibadah-ibadah harian dengan waktu-waktu tertentu ( cf: “waktu sembahyang” Kis 3:1)

    Ternyata dua corak ibadah ini hanya meneruskan dari kedua corak ibadah Yahudi : Hag (jamak : Hagigah) dan Siddur.
    Hagigah ialah perayaan besar yang harus diselenggarakan 3 kali dalam setahun di kota suci Yerusalem. Kata yang diterjemahkan “perayaan”. Perlu dicatat pula, kata Ibrani Hag (yang seakar dengan kata Arab : hajj), yang sejak dibangunnya Bet hammigdas (Arab: Bait al-Magdis) di Yerusalem, perayaan 3 kali dalam setahun ini dipusatkan di kota suci itu (Kel 23:14 ; Mzm 122:4). Perayaan besar atau hag ke Yerusalem ini, dalam kacamata Iman Kristen sudah digenapi dengan kedatangan Yesus Sang Mesiah, dan satu dari antara ketiga hag yang terbesar, yaitu Hag ha-Pesah (Perayaan Paskah) yang dahulu menjadi puncak perayaan-perayaan Yahudi, sekarang dimengerti dalam makna yang baru.

    Kalau Paskah Yahudi adalah perayaan pembebasab Bani Israil dari perbudakan Fir’aun di Mesir, maka Paskah Kristen adalah perayaan pembebasan umat manusia dari belenggu dosa berkat penebusan Kristus.
    Teologi penebusan sendiri ternyata lebih dilatar belakangi konsep Yahudi mengenai Kippur (Arab : Kaffarat), yang artinya penebusan atau penggantian, kurban yang menjadi puncak seluruh peribadatan Yahudi, dilanjutkan dan digenapi dalam kurban Perjamuan Kudus (Aram : Qurbanâ Qadissâ, Arab : Al-Quddâs al-Ilahî). Dan apabila Paskah Yahudi itu dirayakan dengan roti tidak beragi, maka dalam ekaristi umat “memecah-mecahkan roti”, yang secara teologis diimani sebagai tubuh dan darah Kristus. Karena kedatangan Kristus sudah menggenapi Taurat dan Kitab Nabi-nabi, tidak lagi mewajibkan ber-hag ke Yerusalem, melainkan “memecah-mecahkan roti dirumah masing-masing” (Kis 2:46).

    Perlu diketahui, peristiwa nuzulnya Firman Allah menjadi manusia (Kalimatullah al-Mutajjasad) : “Kelahiran, Kebangkitan dan mi’raj-Nya ke Surga, menjiwai seluruh ibadah Kristen ; baik ke tujuh sakramen gereja, khusunya Perjamuan Kudus, maupun Ibadah-Ibadah non-sakramental seperti Shalat Tujuh Waktu.
    Pembagian waktu shalat ini mula-mula berasal dari pembagian waktu-waktu menurut perhitungan Yahudi kuno. Begitu juga unsur-unsur doa dipanjatkan, kendati dimengerti dalam makna baru yang berpusat pada permenungan atas peristiwa Kristus.

    Shalât dan Shalawât dalam
    Komunitas Kristen Arab dan Islam

    Istilah dalam bahasa Arab Shalât berasal dari bahasa Aram Tselôta. Ungkapan ini, misalnya dapat dibaca dalam Kis 2:42, teks Peshitta “ waminin hu be syulfana de shliha we mish-tautfin hwo ba tselôta we baqtsaya de eukaristiya” Artinya : “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu melaksanakan tselôta dan merayakan ekaristi”.
    Dalam bahasa Arab, kedua ibadah itu disebut “kasril khubzi wa Shalawât, maksudnya “memecah-mecahkan roti dan doa-doa”.

    Istilah shalât di negara-negara Timur Tengah digunakan baik oleh umat Islam maupun Kristen, meskipun dalam pemakaiannya kata ini agak berbeda.
    Dalam Islam memang dibedakan pengertian shalât secara bahasa (lughawi) sebagai “doa yang sebaik-baiknya” (ad-du’au bi al-khair), dan maknanya secara syari’ah Islam (syar’i) sebagai doa menurut tertib waktu dan ritual tertentu. Dalam makna demikian, Islam membedakan istilah shalât dengan doa-doa pada umumnya yang bisa dilakukan disembarang waktu.
    Sedangkan dalam Kristen, kata ini diterapkan baik untuk doa-doa yang dikanonisasikan (Ash-Shalât al-Fardhiyyah) menurut waktu-waktu dan cara tertentu, maupun doa-doa pada umumnya (contohnya : Ash-Shalât ar-Rabbaniyah, “ Doa Bapa kami”)

    Dalam Kristen, kata Shalât juga kadang-kadang diterapkan untuk menyebut Al-Quddâs (Misa atau Perjamuan Kudus) pada hari-hari perayaan tertentu. Perjamuan Kudus yang biasanya disebut Al-Quddâas al-Ilahi, juga disebut shalât Al-Quddâs.
    Sedangkan ibadah-ibadah perayaan, terutama Perayaan Natal (‘Id al-Mîlâd) dan Perayaan Paskah (‘Id al-Fashha) juga lazim disebut Shalât al-‘Id, berbeda dengan Islam, kata Shalât dalam komunitas Kristen dipakai dalam makna lebih luas.
    Selain kata Shalât ini, dalam bahasa Arab juga acap kali dipakai juga dalam bentuk jamaj shalawât. Kedua bentuk ini sama-sama muncul baik dalam al-Qur’an, maupun dalam Alkitab berbahasa Arab dan tradisi gereja-gereja Arab

    Secara etimologis, perubahan bentuk dari bahasa Suryani/Aram Tselôta menjadi bahasa Arab Shalât, bisa dilacak dari proses korespondensi bunyi (the phonetic corespondence).
    Dalam rumpun bahasa-bahasa semitik, aksara Aram ts sering berubah menjadi aksara Ibrani sy, dan menjadi aksara Arab sh,
    Misalnya kata dasar Aram Tsela (Dan 6:11) bentuk Ibraninya syalu, sebagaimana kita jumpai dalam dalam ayat : Syalu Syalom Yerusalem, Artinya:“Berdoalah untuk keselamatan Yerusalem” Alkitab LAI “Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem” (Mzm 122 :5).
    P.K. Pilon mencatat ; banyak ahli menduga kata-kata selah, yang sering muncul dalam mazmur-mazmur, mungkin berasal dari akar kata Aram ts-l yang artinya ruku’ atau membungkuk.

    Kalau demikian, mungkin dapat diduga bahwa zaman dahulu, kata ini dimaksudkan sebagai sebuah panggilan untuk ruku’ di sela-sela pendarasan ayat-ayat mazmur. Kata Aram tselôta sendiri, juga berasal dari akar kata yang sama. Jadi nomina tselôta dalam bahasa Aram merupakan nomen actionis, yang berarti ruku’ atau perbuatan membungkukan badan. Karena itu, secara teknis tselôta dalam dialek Aram digunakan arti ritus penyembahan.

    Dari kata tselôta inilah, bahasa Arab kemudian melestarikannya menjadi kata shalât. Istilah shalât ini dipakai baik oleh umat Islam maupun gereja-gereja berbahasa Arab di Timur Tengah, sedangkan kata Suryani tselôta dipakai oleh seluruh gereja-gereja Suryani (Gereja Ortohodoz Syria, Gereja Assyria, Gereja Maronit, Gereja Khaldea Kesatuan dan Gereja Katolik Syria), berdampingan dengan kata Arab shalat tersebut sampai sekarang.
    Ada sedikit perbedaan dalam pemakaian kedua bentuk kata Arab shalat dan shalawat dalam komunitas Muslim dan Kristen berbahasa Arab.

    Selanjutnya, Mar Igbatius Ya’qub III menekankan bahwa orang-orang Kristen hanya “melanjutkan adab yang dilakukan orang-orang Yahudi dan bangsa-bangsa timur lainnya ketika memuju Allah dalam praktek ibadah mereka” (taba’an lamma kana yaf’alahu al-yahud wa ghayrihim fî al-syargi fî atsna’ mumara-satihim al-‘ibadah). Perlu dicatat pula, bahwa pada akhirnya pola ibadah ini telah dilestarikan pula oleh umat Muslim (wa qad iqtabasa al-Muslimin aidhan buduruhum hadza al-naun min al-‘ibadah). Ritus shalat sebagai ibadah harian pada waktu-waktu yang ditentukan, bukan hal baru dalam tradisi Kristen dan tidak bisa dimonopoli oleh Islam saja.

    ‘Iddana Tselôta : Waktu-Waktu Doa
    Dari Yudaisme ke Kristenan Mula-Mula

    Ketika merealisasikan misi keselamatan Allah di dunia, Kristus memanggil murid-muridnya yang berasal dari bangsa Yahudi. Ketika beribadah di Bait Allah dan sinagoge-sinagoge, mereka tidak mempunyai cara lain kecuali cara Yahudi.
    Setelah kenaikan Yesus ke surga, umat Kristen perdana di Yerusalem masih meneruskan kebiasaan Yahudi ini, yaitu sembahyang dengan waktu-waktu tertentu ( Kis 3:1 ; 10:9 ; 10:30). Serentak dengan itu, mereka juga menyadari bahwa kedatangan-Nya, Yesus telah menggenapi hukum Taurat dan Kitab Nabi-Nabi (Mat 5:17)

    Dalam konteks situasi seperti itulah, umat Kristen mula-mula melaksanakan ibadah mereka kepada Allah. Dan untuk itu, gereja telah mengambil dari kaum Yahudi tilawah ayat-ayat Mazmur, dan shalat-shalat yang ditentukan pada jam-jam tertentu (wa qad akhadzat ba’dha al-kana’is ;an yahud tilawat mazamir wa shalawat mu’ayyanat fi hadzihi as-sa’ah). Fakta bahwa umat Kristen mula-mula berdoa pada jam-jam tertentu, dengan jelas dinyatakan dalam kesaksian kehidupan gereja perdana, seperti tercatat dalam Perjanjian Baru dan tulisan-tulisan bapa-bapa rasuli (the apostolic fathers, “murid-murid para rasul”) terawal

    Umat Kristen mula-mula jelas berakar pada adab keYahudian, sehingga tidak dapat disangkal bahwa mula-mula sekali umat Kristen juga melakukan sembahyang 3 kali dalam sehari (Dan 6:11 ; Mzm 15:18). Mazmur 15:18 dengan jelas mencatat tiga waktu sembahyang Yahudi, yakni pada waktu petang, pagi dan tengah hari. Dalam bahasa Ibrani, tiga waktu sembahyang tersebut adalah : ‘erev we boker we tsohorayim (Arab : masya’an wa shabhan wa dhuran).
    Dalam kitab-kitab doa Yahudi, waktu petang (‘erev) sering disebut juga ma’ariv (Arab : Maghrib).

    Doa pada waktu senja ini, dalam gereja-gereja berbahasa Arab disebut shalat ghurub (doa waktu matahari tenggelam) atau shalat masya’ (doa sore hari). Menurut literatur Yahudi, Talmud (B’rakot 26b), setelah penghancuran Baitul Maqdis dan zaman pembuangan di Babel, ditetapkan satu waktu doa lagi yaitu doa jam ke-sembilan (sa-at at-yis’ah). Menurut hitungan waktu Yahudi, doa ini dilakukan kira-kira jam tiga petang (sejajar dengan waktu ‘Asyar dalam Islam). Dalam bahasa Ibrani, sembahyang ini disebut minhah (korban petang). Sembahyang Minhah inilah yang disebut dalam Kis 3:1,dan dibedakan dengan waktu ma’ariv yang disebutkan dalam Ezr 9:5 ; Dan 9:21 ; Mzm 141:2.

    Menurut sejarahwan Yahudi Flavius Josephus, penetapan sembahyang Minhah merupakan reinterpretasi dari frasa “antara kedua waktu petang” yang disebut Yubelium 49:1. 10-12. yaitu sebuah sumber ekstrakanonik Yahudi ini, Kis 3:1 mencatat kebiasaan Kristen mula-mula, yang sering dengan jelas mengenal “waktu sembahyang”
    Sebagaimana umat Kristen mewarisi batu-batu pondasi ritus umat Allah sebelumnya, tetapi menafsirkannya dalam terang kedatangan Yesus sebagai Mesiah, maka waktu-waktu doa Yahudi itu dipelihara, akan tetapi dengan penghayatan tersendiri yang berpusat pada Kristus (Christocentris) khususnya merujuk kepada kurban akbar-Nya di Kalvari.

    Waktu-waktu sembahyang ini dalam gereja purba ditentukan berdasarkan pembagian waktu sehari menurut sitem Ibrani kuno. Berbeda dengan waktu modern yang dimulai pagi hari, perhitungan waktu Ibrani dimulai dari sore hari, kira-kira saat setelah matahari terbenam. Lalu 12 jam pada siang hari-nya, yang dihitung pertiga jam. Dalam bahasa Ibrani, mulai dari: sya’ah ha-ehad “jam pertama” (sejajar dengan pukul 06.00 pagi), sya’ah ha-syelisit “jam ketiga” (sejajar dengan jam 09.00 pagi), sya’ah syisyit “jam keenam” (sejajar dengan pukul 12.00 siang), dan sya’ah ha-tesi’it “jam kesembilan” (sejajar dengan pukul 15.00 petang).

    Berdasarkan perhitungan waktu seperti itulah, Kisah Rasu-rasul mencatat bagaiman para rasul dan umat Kristen mula-mula dengan setia menunaikan waktu-waktu sembahyang. Dalam Alkitab bahasa Indonesia (LAI 1974), penyebutan waktu-waktu ini sudah disesuaikan dengan perhitungan waktu modern. Misalnya, Kis 3:1 mencatat : “Pada suatu hari menjelang sembahyang, yaitu jam ke sembilan (epiten hooran tes prsekees ten ennaten), naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah untuk berdoa, Kis 2 :1-5 mencatat pula bahwa pada hari Pentakosta (Ibrani : hag hasy syavu’ot) Roh Kudus turun saat mereka yang “berkumpu pada jam ke tiga” (estin gar hoora tritee tes emeras).
    Petrus dan Silas dikisahkan juga mempunyai kebiasaan berdoa pada tengah malam (shalât al-lail), sebagaimana dilakukan nabi-nabi pada zaman dulu ( Mzm 119:62 ; Kis 16:25).

    Rujukan paling dini mengenai kebiasaan sembahyang harian ini, bisa dibaca dalam kitab Didache (tahun 95 M) yang menganjurkan agar dalam sembahyang kita doa Bapa Kami dibaca 3 kali dalam sehari. Tiga kali sehari ini jelas masih menunjuk waktu-waktu sembahyang Yahudi, dimana gerja mula-mula berasal.
    Klemens ar-Rumani, salah seorang murid Rasul Petrus yang menjadi uskup Roma (yang namanya juga disebut Rasul Petrus dalam Filipi 4:3), tahun 90 Masehi menulis surat kepada orang-orang Kristen di Roma : “Kebangkitan Rohani kita adalah dengan melaksanakan ibadah harian pada waktu-waktu yang telah ditetapkan”.

    Selain itu, kita juga membaca karya kuno lain, antara lain ditulis Klemens al-Iskandari (tahun 150-215 Masehi), dalam satu suratnya menyebut: “………waktu-waktu yang ditetapkan para bapa gereja kita, yang kita pelihara dengan melaksanakannya secara rutin dari hari ke hari”.
    “Sesungguhpun kita boleh bersyukur kepada Allah”, tulis Basilius al-Kabir “setiap waktu. Kita tidak boleh melalaikan waktu-waktu doa yang telah ditetapkan rasul-rasul di Yerusalem”.

    Hampir semua bapa-bapa gereja, baik di barat maupun di timur, mereka menulis pentingnya ibadah harian ini. Di gereja wilayah timur, misalnya Mar Yuhanna Dahabi al-fam/Yohanes Chrystomos (354-420), dan di gereja wilayah barat dapat disebut St. Agustinus (340-420).
    Refrensi terlengkap tentang sembahyang harian, lengkap dengan makna teologis masing-masing waktu, dijumpai dalam sebuah dokumen kuno al-Dasquiliyah : Ta’alîm ar-Rusul (Latin: Didascalia Apostolorum, “Konstitusi Rasuli”), yang editing terdininya telah rampung dikerjakan oleh Hypolitus tahun 215 M.

    Dari Yerusalem ke Timur : Makna
    Teologis Perubahan Kiblat

    Sejak zaman dahulu hingga kini seluruh umat Yahudi berdoa dengan menghadap ke Baitul Maqdis (Ibrani: Beyt ham-Migdash), di Yerusalem. Sinagoge-sinagoge Yahudi di luar Tanah Suci Israel mempunyai arah kiblat (Ibrani: mizrah) ke Yerusalem.
    Alkitab mencatat kebiasaan berdoa nabi Daniel (Dan 6:11) yang berkibkat “…..ke arah Yerusalem, tiga kali ia berlutut dengan kakinya berdoa” (Aram: negel Yerusyalem, we zimnin talatah beyyoma hu barek ‘al birkohi ume tsela). Kebiasaan ini diikuti oleh umat Kristen mula-mula, sampai kehancuran kota Yerusalem tahun 70 Masehi.

    Setelah kehancuran Bait Allah, kemanakah umat Tuhan menghadap muka untuk menyembah-Nya? Umat Yahudi tetap berkiblat ke sana hingga sekarang, sambil meratapi ke arah tembok sebelah Bait Allah yang masih tersisa (Arab: Haithun al-Mubakka/ Tembok Ratapan). Tetapi umat Kristiani teringat pada sabda Yesus yang memang sudah me nubuatkan kehancuran Bait Allah itu (Mrk 13:1-2) “….saatnya akan tiba”, kata Yesus kepada wanita samaria di sumur Yakub, “kamu akan menyembah Bapa, bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem” (Yoh 4:21)

    Berdasarkan refleksi mendalam yang diterangi Roh Kudus, umat beriman mulai berpikir Yesus sendirilah kiblat yang sejati. Mengapa? Karena tubuh kebangkitan-Nya telah menjadi shekinah (tempat kehadiran) Allah, untuk menggantikan Bait Allah yang fana itu (Yoh 2:19-21). Tetapi dimanakah sekarang Kristus? Ia sudah terangkat ke surga, dan “duduk disebelah kanan Allah” (Kol 3:1).
    Pergumulan ini akhirnya mengantarkan mereka menemukan kembali kiasan kuno mengenai firdaus: “di sebelah timur” (Kej 2:8). Mereka juga menemukan bahwa tempat kudus di Baitul maqdis, kiblat mereka dahulu waktu menyembah, yang ternyata juga “menghadap ke timur” (Yeh 44:1), “sungguh Kemuliaan Allah Israel datang dari sebelah timur” (Yeh 43:2).

    Pada akhirnya, umat Kristen perdana itu melaksanakan ibadah mereka dengan mencontoh langsung pola peribadatan Baitu Maqdis yang menghadap ke timur. Mereka tidak lagi mengikuti pola ibadah sinagoge-sinagoge yang menghadap ke Baitul Maqdis, dengan penghayatan yang bersifat Kristosentris.

    Makna Teologis Shalat Tujuh Waktu

    L.E. Philips, berdasarkan penelitian arkeologisnya menulis bahwa umat Kristen paling awal sudah melaksanakan ibadah-ibadah harian pada waktu pagi, tengah hari, malam dan tengah malam.
    P.T. O’Brien dalam Prayer in Luke-Acts, lebih terperinci lagi, menurut O’Brien waktu tsohorayim (tengah hari) menurut Mzm 55:18, yang tetapi tidak masuk dalam doa Yahudi waktu itu dan waktu tengah malam ditambahkan ke dalam waktu-waktu sembahyang Yahudi. Jadi selain 3 waktu sembahyang Yahudi: saharit (subuh), minchah (‘asyar) dan ma’ariv (maghrib), umat Kristen mula-mula juga mengenal sembahyang tengah hari dan tengah malam.

    Bagaimanakah deskripsi waktu-waktu shalat, makna dan urut-urutannya, menurut sumber-sumber gereja-gereja purba sendiri, khususnya Gereja Orthodoks Syria? Menurut Mar Gregorius Yuhanna Ibn al-Ibri, dalam bukunya Al-Itsiqun (The Ethicon), kanonisasi tujuh waktu shalat ini merupakan penggenapan Mazmur 119:164.
    Tujuh waktu sembahyang tersebut, sesuai dengan urutan-urutannya :

    1. Shalât al-Masa’ atau al-Ghurub (shalat maghrib)
    2. Shalât al-Naum (shalat malam)
    3. Shalât Nishfu al-lail (shalat tengah malam)
    4. Shalât Subuh (shalat subuh)
    5. Shalât Sa’at ats-Tsalitsah (shalat jam ketiga)
    6. Shalât Sa’at as- Sadisah (shalat jam keenam)
    7. Shalât Sa’at At- Tâsi’ah (shalat jam kesembilan)

    Mengapa waktu-waktu sembahyang diawali dari waktu terbenamnya matahari? Menurut Mar Ya’qub al-Barthila, dalam bukunya Al-Mausum al-Kanuz, penentuan waktu maghrib sebagai permulaan waktu sembahyang didasarkan atas tradisi eklesiastikal (Arab: thuqûs) Gereja Ortodoks Syria yang mengikuti kebiasaan Yahudi pada zaman rasul-rasul Kristus.
    Urutan ini pula yang diikuti oleh dokumen gereja kuno, At-Ta’alîm al-Rusul (Didascalia) BabXXXVII, mengenai Auqât Shalât (waktu-waktu sembahyang).

    Menurut tradisi ritus Gereja Syria tersebut, setelah shalât maghrib, shalât naum, shalât nishfu lail, dan shalât subuh, ketiga waktu sembahyang terakhir disebut shalawât as-sa’ah yaitu (sa’at ats-tsalitsah, sa’at as-sadisah, dan sa’at at-tasi-ah).
    Hal ini agak berbeda dengan ritus Ortodoks Koptik yang memasukan sembahyang subuh sebagai shalat sa’ah al-awwal (shalat jam pertama). Jadi kalau tradisi Syria memasukan shalat ini sebagai urutan terakhir dalam 12 jam paro waktu siangnya.

    Salah satu sebab, mungkin pelaksanaan waktu sembahyang ini di biara-biara Koptik lebih lambat, sehingga mereka menyebutnya Shalat Bakir atau sembahyang waktu bangun tidur.
    Sedangkan dalam Ta’alim ar-Rusul (The Arabic Didascalia), perhitungan waktu awalnya justru mulai dari shalat al-Naum (sembahyang malam), seperti disebutkan dalam Bab XXXVII sebagai berikut : “…..mengenai pembagian waktu-waktu untuk Shalat, yakni: diawali pada malam menjelang tidur (awwala al-laili ‘inda al-naum), dan pada waktu tengah malam (nishfu al-lail), lalu awal waktu hari siangnya: jam ketiga (tsalitsu sa’ah), jam keenam (sâdisu sa’ah), jam kesembilan (tâsi’u sa’ah) dan sore hari (al-masa’).

    Tetapi perbedaan-perbedaan kecil ini, sama sekali tidak mengurangi makna teologis waktu-waktu shalat, yang terutama berdasarkan penghayatan mendalam gereja mula-mula atas Jalan salib-Nya. Dalam makna Kristosenris itulah, gereja-gereja purba memberikan makna ketujuh ibadah harian ini.
    Dibawah ini kutipan waktu-waktu shalat dan maknanya berdasarkan sumber Gereja Ortodks Syria, yang akan dibandingkan disana-sini dengan sumber gereja-gereja lain, baik sumber ortodoks maupun katolik ;

    • Shalât Maghrib
    (Shalât al-Ghurub)

    Shalat ini pada saat bersamaan dengan matahari terbenam, kira-kira pukul 06.00 petang ; “ untuk kita bersyukur kepada Allah, yang telah memberikan waktu malam kepada kita untuk beristirahat setelah kita bekerja” (li nasykurillahi alladzi a’thina al-layli li nastari’i fihi min at’abi al-nahari).

    Menurut Agabia Gereja Ortodoks Koptik, sembahyang yang meneruskan kebiasaan doa Ma’ariv Yahudi ini, juga untuk mengingatkan kita diturunkannya tubuh Kristus dari kayu salib, dikafani dan dibaringkan serta diberinya wewangian “(tadzkarân li nuzûli jasad as-Sayid al-Masîh min ‘ala ash-shalîb wa takfiyanihi wa wadha’u al-hanuth ‘alaihi)”. Sembahyang ini di Gereja Katolik dikenal dengan Verpers atau ibadah sore.

    • Shalât Waktu Tidur
    (Shalât an-Naum)

    Waktu shalat ini setelah berlalunya waktu maghrib, kira-kira sejajar dengan shalat ‘Isya dalam Islam. Dengan bersembahyang waktu naum, kita memohon perlindungan Allah dari kejahatan kegelapan, supaya dipelihara “tidur kita pada waktu malam, dan dapat bangun kembali laksana di alam keabadian” (raqadna masa’a fa satayaqna fi ‘alam al-abdiyah).

    Maksudnya, pada jam ini gereja mengajak kita “untuk mengingat berbaringnya tubuh Kristus dalam kubur” (Rutibat tadzkârân liwadhi’i as-sayid al-Masîh fi al-qubri). Bukan hanya waktu ini ditentukan untuk istirahat kita, tetapi supaya dengan tidur kita untuk mengingat kematian, dan dengan mengingat kematian kita mengingat Allah, karena “sesungguhnya saat tidur adalah laksana kematian kecil” (fî nahârihi, bi i’tibâri anna al-naûma huwa al-mauti ash-shaghî). Dalam gereja Katolik Roma, waktu ini disebut Vigil (Latin: Vigilae, ‘tirakatan”).

    • Shalât Tengah Malam
    (Shalât Nishfu al-Lail)

    Sembahyang tengah malam ini didalam gereja-gereja kuno disebut dengan berbagai nama. Selain disebut Shalat Nishfu al-Lail (Shalat tengah malam), ada yang menyebut Shalat sa’at Hajib Dhulmat (Shalat berjaga waktu malam). Waktu tengah malam sangat penting, karena “mengajarkan kepada kita agar kita selalu berjaga dan berdoa untuk dilepaskan dari kejahatan iblis dan bala tentaranya” (li ya’limina ‘an nushari wa nushali da ‘iman li najji min asy-syirir wa junudihi).

    Karena itu, sembahyang ini dalam bahasa Suryani disebut ; tselota shahra (sembahyang waktu berjaga). Karena lebih dari itu, kita harus senantiasa berjaga-jaga, sebab Yesus akan datang sewaktu-waktu.
    “ Lihatlah!” kata Yesus dalam Why 16:15, “Aku datang seperti pencuri, Berbahagialah ia yang berjaga-jaga”. Rasul-rasul mempunyai kebiasaan berdoa tengah malam (Kis 16:25).
    Pada masa sekarang, wa huwa khâshatun bi al-Asâqifat wa al-kahanat wa ar-Ruhbân (shalat ini khususnya dilaksanakan oleh Episkop (Uskup), Abuna (Romo), atau Pendeta, dan para Rahib (Biarawan)

    • Shalât Subuh
    (Shalât As-Subuh)

    Di Gereja Ortodoks Koptik lebih dikenal dengan Shalat Bâkir, ada pula yang menyebut Shalat Sa’ah al-Awwal (Sembahyang jam pertama). Waktu sembahyang adalah saat fajar menyingsing, kira-kira pukul 05.00-06.00 pagi menurut waktu kita.
    Sebelum Kristus, dalam Perjanjian Lama sembahyang ini disebut dalam bahasa Ibrani: Saharit (Mzm 5:4-7), sedangkan sampai sekarang dalam Gereja Katolik lebih dikenal dengan Laudes Matutinae (pujian pagi).

    Shalat ini untuk mengingat dimana Tuhan kita Yesus Kristus Bangkit dari kematian. Itulah doa pada waktu pagi ketika kita bangun dari tidur untuk mengucap syukur kepada Allah karena Ia sedah mengaruniakan hari baru bagi kita, dan untuk memuliakan kebangkitan Kristus (Rutibat tadzkarân lis sâ’ati llatî qâma fîha al-Masih min baina al-amwât. Tutalâ al-qiyam min al-naûm syukrân li llahi li bad’i hayati al-nahâri al-jadîd wa tamajidân ‘ala qiyâmatihi).

    • Shalât Jam Ketiga
    (Shalât As-Sâ’at Ats- Tsâlitsah)

    Waktu sembahyang ini kira-kira sejajar dengan pukul 09.00 pagi menurut waktu kita, atau sebanding dengan Shalat Dhuha; dalam Islam.
    Kita sembahyang pada jam ketiga, “karena pada jam ini Pontius Pilatus telah menjatuhkan hukuman kepada Kristus” (Fînmitsali hadzihi as-sâ’ati hakama Bilâthus ‘ala As-Sayid al-Masîh) Mrk 15:25. Pada jam sembahyang ini, kita juga merefleksikan makna penderitaan Kristus, dan mengucap syukur karena Yesus sudah menggantikan kita, yang semestinya kita sendiri yang harus menanggungnya pada hari pengadilan akhirah (yaum ad-dîn).

    Selain itu, “Pada jam ini juga Roh Kudus telah turun atas para murid Yesus yang suci” (wa aidhan fî mitsali hadzihi as-sâ’ati hala ar-Rûh al-Quddus ‘ala at-talâmid ath-thhâr). Dan turunnya Roh Kudus ini, menurut Alkitab dan catatan sejarah gereja Purba, juga menandai berdirinya gereja Kristus pertama Yerusalem (Kis 2:1-15),
    Gereja Kristus adalah “Israel sejati”, yaitu “penggenapan umat Allah yang baru”.

    • Shalât Jam Kesembilan
    (Shalât As-Sâ’at At-Tâsi’ah)

    Menurut Injil, tepat pada jam kesembilan, yang kira-kira sejajar jam 3 petang ini Yesus menyerahkan nyawa-Nya (Mrk 15:33). Sebagaimana kematian-Nya memberikan Kaffarat (penebusan) bagi setiap orang yang beriman, sebagai orang-orang tebusan-Nya kita memohon agar nantinya Dia “mengumpulkan kita bersama kematian kaum mukminin di jalan kaum yang duduk disebelah kanan-Nya” (yandhamna ma’a amwatina al-Mu’minina fi salaki ashhabi al-janibi al-yamin).
    Pada waktu itu juga seorang pencuri yang berada disebelah kanan-Nya memohon supaya Yesus kelak mengingatnya di kerajaan-Nya, dan Kristus lalu memberikan keselamatn kepadanya (wa fiha sa’ala al-lashshu al-yaminu ‘an yadzkurahu fi malakutihi, fa a’thihu al-kalashu sa’alahu).
    Pada jam shalat ini, sebagaimana Ia telah mengampuni pencuri itu, maka kitapun sebagai orang berdosa memohon rahmat dan ampunan-Nya. Rasul- rasul Kristus dengan tekun mengikuti sembahyang yang dikenal orang Yahudi sembahyang minhah ini (Kis 3:1 ; 10:30).

    Dalam hal ini, gereja perdana memberikan makna baruatas sembahyang yang sudah dikenal sebelumnya ini. Selain mencatat kematian-Nya tepat pada sembahyang kurban petang Yahudi (minhah) ini, Injil juga mencatat sabda Kristus; “Sesudah mengatakan demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. Maka terbelahlah tirai Baitul Maqdis” (wa lamma qala hadza aslama ar-ruh, faa ansyaqa hijab al-haykali min wasathah). Terbelahnya tirai Bait Allah ini menandakan sudah tergenapi syari’at kurban dengan kematian Syahid-Nya.

    De Liturgia Horanum :
    Dari Ritus Gereja Latin Hingga Reformasi Protestan

    Sejarah mencatat, bahwa seluruh gereja purba mula-mula memelihara waktu-waktu sembahyang, terutama dipertahnkan di biara-biara, dan menganjurkan kepada umat awam untuk melaksanakannya. Meskipun demikian, tidak seperti agama Yahudi, Kekristenan bukanlah agama yuridis, sehingga konsep ibadah harian ini bukan semata-mata dipandang sebagai kewajiban secara syar’i, melainkan pelaksanaannya lebih didorong oleh keinsyafan batin, sebagai ucapan syukur karena penebusan Allah melalui pengurbanan Putra-Nya.

    Karena itu, sesuai dengan keyakinan Kristen bahwa keselamatan manusia bukan semat-mata karena amal, melainkan karena kasih karunia Ilahi yang mendahului perbuatan baik, maka ibadah-ibadah harian ini bukan menjadi pusat dalam ibadah Kristen.
    Puncak ibadah Kristen adalah Quddas al-Ilahi atau Perjamuan Kudus, dimana melalui tubuh dan darah suci Kristus kita dilibatkan dalam kehidupan ilahi-Nya yang kekal. Karena keselamatan itu dikerjakan Yesus melalui Jalan Sengsara-Nya, maka ibadah-ibadah harian ini merupakan refleksi umat Allah secara terus menerus untuk selalu mengingat pengurbanan Kristus bagi kita.

    Dalam pemahaman inilah seluruh gereja-gereja purba mengenalkan Sab’u ash-Shalawat (Sembahyang Tujuh Waktu). Tak terkecuali Gereja Katolik di Barat dan juga Gereja Protestan pada perkembangan awalnya.
    Dalam bahasa Latin, penyebutan waktu-waktu sembahyang juga mengikuti tradisi Yahudi kuno: Laudes, Hora Tertia, Hora Sexta, Hora Nona, Verper, Vigil dan Completorium (waktu Pagi, Jam Ketiga, Jam Keenam, Jam Kesembilan, Senja, Malam dan Penutup).
    Namun tuntutan hidup modern, penyesuaian demi penyesuaian terus dilakukan oleh Gereja Katolik.

    Perubahan-perubahan itu terus dilakukan dengan seizin Paus, misalnya dilakukan zaman Paus Pius V, Paus Sixtus V, Paus Klement VIII, Paus Urbanus VIII, Paus Klement IX, yang akhirnya tinggal 2 waktu yang ditekankan: Laudes (pagi) dan Vesper (sore).
    Pada waktu Reformasi Martin Luther terjadi pada waktu Gereja Katokik mengintruksikan kedua waktu sembahyang itu. Karena itu Martin Luther masih mengikuti kedua ibadah harian ini dalam bukunya The Small Cathechism. Kendatipun demikian Martin Luther mengikuti kedua waktu sembahyang ini dengan beberapa revisi, tetapi banyak adab berdoa kuno masih dipertahankan, misalnya membuat tanda salib yang dikenal seluruh gereja zaman kuno, yang sudah hilang dari aliran-aliran gereja kontemporer sekarang.

    Pengaruh Liberalisme dan Individualisme sunguh-sungguh sulit dielak-kan di Barat, yang kemunculannya berbarengan dengan era Reformasi. Salah satu dampaknya, bukan hanya menolak warisan ibadah gereja-gerja kuno itu, tetapi juga ada kecenderungan untuk menolak kata-kata dalam doa tersebut yang dikuduskan oleh pola ibadah gereja sepanjang abad.
    Inilah yang disesalkan oleh E.H. van Olst seorang teolog Calvinis dari Belanda.

    Menurut E.H. van Olst, hal ini salah satunya disebabkan karena para reformator sendiri tidak menguasai tradisi gereja purba dan sejarah liturgi dengan baik. Dari ketiga reformator awal, dapat kita catat bahwa Zwingli adalah orang pertama yang melangkah jauh, sampai-sampai simbol-simbol sebagai ekspresi ibadah otentik selama ratusan tahun dibuangnya.

    Akibatnya, postur-postur badaniah dalam ibadah yang terbukti mempunyai kesinambungan historis tanpa putus sejak zaman rasuli dihilangkan, dan simbol-simbol lain ditekankan dalam taraf yang sangat minim. Dari fakta ini dapat dipahami, diperkenalkannya bentuk ibadah Kekristenan yang berbasis budaya Timur Tengah ini di Indonesia, bukan hanya aneh di mata umat Islam yang selama ini berinteraksi dengan gereja-gereja Barat, tetapi malahan juga dipandang dengan mata curiga oleh orang-orang Kristen sendiri, karena jarak kultural dalam rentangan sejarah perkembangan yang panjang itu.

    Banjarmasin, 23 Januari 2009.

    Sumber :
    Institute for Syriac Christian Studies
    Bambang Noorsena, SH, MA
    (Sejarah dan Makna Teologis Shalat Tujuh Waktu dan Pararelisasinya Dengan Islam)
    E.H. van Olst, Alkitab dan Liturgi
    (Jakarta, BPK Gunung Mulia 1996)
    Marthen Luther “Small Catechism VII:1”

  • Agus says:

    mereka takut jika kebenaran itu nampak dan disaksikan oleh banyak orang. mereka takut jika rahib-rahib mereka tidak mempunyai pengikut.

  • Agus Widodo says:

    trim’s banyak atas informasiyang sangat ciamik ini, GBU

  • Benny Gunawan says:

    @pak willy p.s………hehehe betul pak, banyak klimurologi terjadi dalam ke kristenan sejak dibangku sekolah minggu semisal; Nuh dimakan ikan besar dan digambarkan ikan itu paus, Adam dan Hawa makan buah kebajikan dan kejahatan digambarkan buah apel, Tritunggal digambarkan Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh, itulah kelirumologi yang tidak biasa menjadi biasa….selalu ditunggu pak posting dari bapak yang meluruskan. Gbu

  • Rangga Yasua Oga says:

    bagaimana juga dengan Hari Raya Natal ? Apakah Yesus pernah memerintahkan muridnya atau umatnya untuk merayakan Hari Natal ? atau apakah ada dalam Injil Kristen ada dalil atau ayat yang menjelaskan tentang natal dan harus dirayakan?

  • srus says:

    orang yang percaya Injil PAlsu Barnabas..
    intelektualnya keliatan MINUS….

    kita perlu mengkaji Injil Palsu Barnabas ini supaya kebodohan dan kepalsuan injil palsu ini terungkap

  • srus says:

    Keanehan Injil Barnabas :

    Chapter 6:1
    “Where should CHRIST be born?” They answered that he should be born in BETHLEHEM; for thus it is written by the prophet: And you, Bethlehem, are not little among the princes of Judah: for out of you shall come forth a leader, who shall lead my people Israel.

    Chapter 42:2
    “2. Jesus confessed, and said the truth: “I am not the Messiah.”

    nih orang yang pinter2 bahasa inggris silahkan di pahami lagi.. ini injil palsu kelewat bodoh..

    di satu sisi Yesus diterima sebagai KRISTUS di satu sisi Yesus di tolak sebagai MESIAS
    padahal Kristus dan MEsias artinya sama…

    Link http://www.latrobe.edu.au/arts/barnabas/Barnmain.html

  • Tjan Kian Tiong says:

    he he he… p beny gunawan ni kepinteren apa keblinger ya ???

  • Benny Gunawan says:

    Tjan Lian Tiong says:
    he he he… p beny gunawan ni kepinter apa keblinger ya ???

    apa maksudmu kawan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*