suplemenGKI.com

Senin, 7 Juni  2010; 2 Samuel 11:1-25

Bacaan kita hari ini mengisahkan tentang dosa dan peristiwa kejatuhan Daud yang tragis. Saat peristiwa ini terjadi, kedudukan Daud sebagai Raja bisa dibilang tengah berada pada puncak kejayaannya dan dia memiliki orang-orang tangguh yang dapat dipercayainya untuk menghadapi perang atau lawan tanpa dia harus turun tangan sendiri. Dalam bagian ini Daud memerintahkan Yoab untuk menghadapi musuh Isarael, yakni bani Amon, kemudian mengepung kota Raba. Yoab dipilih karena dia adalah panglima perang yang catatan mengenai prestasinya dalam berperang memang tak diragukan lagi. Sebelumnya, Yoab pernah berhasil gemilang dalam peperangan melawan Abner dan orang Aram (2 Sam 2:13-32, 2 Sam 3:11-30). Sementara Yoab berperang, Daud ”ongkang-ongkang” (tinggal di kediamannya dengan santai), dan di situlah awal kejatuhan Daud.

  1. Apa yang menyebabkan Daud akhirnya jatuh dalam dosa?
  2. Apa yang membuat Daud menyusun rencana-demi rencana untuk mencelakai Uria?
  3. Menurut saudara, apakah dosa perzinahan Daud sebenarnya bisa dicegah? Bagaimana caranya?

Renungan:

Sejak jatuh ke dalam dosa, kecenderungan manusia adalah hidup bebal  dan menuruti hawa nafsu kedagingannya (Efesus 2:3). Tak ada seorangpun yang bisa bermegah dan berkata bahwa ”aku kebal terhadap dosa”. Daud, yang adalah Raja besar pada masa itupun juga tidak kebal terhadap dosa. Tentulah kejatuhan Daud ini bisa menjadi pembelajaran kita bersama tentang beberapa hal, antara lain:

Þ                Daud akhirnya jatuh dalam dosa karena dia tidak berani berkata ”STOP!” untuk godaan awal dari dosa tersebut (2 Sam. 11:2). Fakta bahwa Batsyeba adalah perempuan yang sangat menggoda karena pesona rupanya yang elok, itu adalah hal yang sangat lumrah, tetapi menjadi tidak lumrah dan berbuntut musibah saat Daud membiarkan dirinya terhanyut pada pesona itu dan tidak berani berkata ’tidak’ untuk menolaknya. Bukannya menjauh dari godaan, Daud malah melakukan tindakan yang nyata-nyata mendekati dosa (ayat 3) yang berlanjut pada kejahatan besar (ayat 14-24).  Seperti halnya Daud, kitapun bisa mengalami hal serupa dalam bentuk dosa yang berbeda-beda saat kita tidak berani berkata ”STOP, ini dosa,jangan teruskan!”

Þ                Hasrat dan nafsu yang tidak segera dihentikan di awal godaannya, akan menjalar menjadi dosa yang makin meluas. Hal itu pula yang dilakukan Daud saat dia membiarkan nafsunya untuk memiliki Batsyeba tidak dikendalikannya. Kejahatanpun dirancang dengan hati yang mulai tumpul. Benarlah kata Firman dalam Efesus 4:19,”Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.” Dosa itu cepat sekali menetas dan menghasilkan embrio-embrio dosa yang lain. Jadi, mari mohon belaskasihan dan kekuatan ALLAH agar kita tidak memberi ruang bagi dosa untuk tumbuh dan terus meluas dalam hidup kita.

Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”

Kejadian 4:7b”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*