suplemenGKI.com

(Lukas 18: 9-14)

Dalam perikop ini Yesus menggunakan perumpamaan yang ditujukan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain. Tuhan Yesus menampilkan dua orang yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Dua orang tersebut mewakili kedua golongan orang yang memang pada saat itu menjadi sorotan publik, yaitu orang Farisi dan pemungut cukai. Keterangan yang menyatakan mereka pergi ke Bait Allah memberikan makna bahwa kedua orang itu adalah orang-orang beriman, apalagi dinyatakan mereka ke tempat itu untuk berdoa, maka jelas mereka memiliki iman yang benar.
Si Farisi membuka doanya dengan pengucapan syukur (ayat 11), tentu bersyukur merupakan ungkapan iman yang baik. Kemudian masih di ayat yang sama, orang Farisi ini seolah menorehkan tinta emas untuk semua tindakannya. Dia tidak merampok, dia tidak bertindak lalim, bahkan dia bukan pula orang yang suka berzinah! Bahkan rasanya hal-hal itu belum cukup membuat Tuhan Allah terkesan, sehingga si orang Farisi ini lantas membeberkan kehidupan rohaninya yang begitu “mulia,” yaitu kebiasaannya berpuasa dan memberikan perpuluhan dari segala penghasilan!
Apakah semua yang dilakukan orang Farisi tersebut salah? Tentu saja tidak! Semua yang dilakukan oleh orang Farisi merupakan tindakan iman yang baik, dan akan menjadi lebih baik lagi seandainya saja tidak ada ungkapan berikut,”…..karena aku tidak sama seperti semua orang lain serta ….bukan juga seperti pemugut cukai ini.” Kedua ungkapan tersebut seolah membuka tabir kebenaran yang sesungguhnya. Semua tindakan yang dimaksudkan sebagai tindakan iman tersebut sejatinya merupakan cara orang Farisi untuk menempatkan dirinya jauh lebih tinggi dari orang lain, khususnya lebih tinggi dari golongan pemungut cukai!
Bagaimana dengan si pemungut cukai? Para pemungut cukai selalu dianggap sebagai orang berdosa karena memeras rakyat. Tetapi pada jaman itu masih banyak orang yang tetap menjalankan profesi yang mengundang kebencian masyarakat dengan berbagai alasan. Ada yang karena alasan ekonomi, atau kedekatan dengan penguasa, atau bukan tidak mungkin karena hal itu merupakan pekerjaan turun temurun! Tokoh yang tidak populer di mata publik ini ditampilkan oleh Tuhan Yesus sebagai sosok yang berani mengaku sebagai orang berdosa! “Tetapi pemungut cukai itu berdiri itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (ayat 13).
Di dalam Perjanjian Lama ada sebuah doa pengakuan dosa yang dipanjatkan oleh seorang raja besar! Mazmur 51 secara terus terang menyatakan penyesalan dari Daud sehubungan skandal yang dia buat dengan Batsyeba! Secara khusus jika kita perhatikan ayat 19 maka kita akan melihat bagaimana Tuhan Allah memandang kesungguhan hati seorang pendosa yang mau bertobat. “Korban sembelihan kepada Allah adalah jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk tidak akan Kau pandang hina, ya Allah.” Jadi tidaklah mengherankan jika Tuhan Yesus lebih menghargai doa si pemungut cukai dan menyatakan bahwa dia pulang ke rumah sebagai orang yang dibenarkan Allah!
Kita semua pasti tidak ada satupun yang mau diidentikkan dengan para pemungut cukai! Namun jika mau jujur di hadapan Tuhan bukankah kita juga sering secara tidak sadar merasa diri lebih dari orang lain, seperti yang dirasakan oleh orang Farisi tersebut? Spiritualitas apa yang kita sodorkan tiap (hari) minggu di hadapan-Nya, hanya Tuhan Allah dan diri Anda sendirilah yang tahu! Oleh karena itu ada baiknya kita belajar mempraktekkan kesalehan hidup orang Farisi, yang sekaligus disertai dengan spirit kerendahan hati pemungut cukai! Selamat mencoba!
( PETA )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*