suplemenGKI.com

 

Rabu, 26 Februari 2014

Mazmur 2:1-10

Pengantar

Seorang anak kecil melakukan unjuk rasa. Ia tidak mau masuk sekolah sebab permintaannya pada sang ayah tidak dipenuhi. Anak itu berkata: “Biar ayah kapok! Pokoknya aku nggak mau sekolah kalau belum dibelikan  PS!” Sang ayah berkata: “Kalau kamu punya PS di rumah maka kamu hanya akan bermain dan tidak mau belajar. Kali ini ayah tidak akan memenuhi permintaanmu!”.

Pola pikir sang ayah yang jauh lebih luas dan maju tidak bisa dipahami anaknya sebab dalam keterbatasan  pikirannya, si anak hanya berpikir tentang kesenangannya di saat ini bukan masa depannya. Demikian pula dalam relasi kita dengan TUHAN. Kadang-kadang kita begitu sulit untuk memahami dan menerima keputusan TUHAN. Mengapa? Mari kita renungkan!

Pemahaman

  • Ayat 1-3: Mengapa raja-raja dan pembesar dunia bersepakat melawan TUHAN dan raja yang diurapiNya?
  • Ayat 4-9: Mengapa TUHAN menertawakan mereka? Apakah keputusan TUHAN tidak dapat diganggu gugat?
  • Ayat 10: Apakah yang diminta TUHAN  pada raja-raja dan para hakim dunia?

Mazmur 2 disebut sebagai Mazmur raja. Kemungkinan mazmur ini dinyanyikan pada saat pelantikan raja atau ulang tahun pelantikannya.  Dalam ayat 1-3, Pemazmur mengungkapkan sebuah keheranan mengapa ada raja-raja dan pembesar dunia  yang bermufakat untuk melawan TUHAN dan raja yang diurapi-Nya.  Sikap mereka sungguh tak bisa dimengerti sebab TUHAN berkuasa atas segala sesuatu. Oleh karena itulah TUHAN murka terhadap tindakan mereka sebab TUHAN yang melantik raja di Sion. Itulah titah TUHAN dalam kekuasaanNya.

Bila TUHAN mengambil keputusan, tak seorang pun yang bisa menggugatnya sebab keputusan TUHAN benar adanya. Sayangnya kadang-kadang manusia sulit untuk menerima keputusan TUHAN apalagi kalau tidak sesuai dengan keinginannya.

Pemazmur menulis  dalam ayat 7-9 bahwa status raja adalah anak ALLAH. TUHAN memberikan kekuasaan kepadanya serta kemampuan untuk mengalahkan raja-raja dan pembesar-pembesar dunia. Suka atau tidak suka, raja-raja dan pembesar-pembesar dunia harus menerima kenyataan ini sebab TUHAN berpihak pada raja pilihannya. Oleh karena itu mereka diminta bersikap bijaksana.

Siapakah yang berani menggugat keputusan atau titah TUHAN? Sesungguhnya kita tidak perlu  menggugat keputusan atau titah TUHAN sebab pikiran kita terbatas, pandangan  kita pun terbatas. Kita tak mampu menyelami pikiran TUHAN. Kita hanya mampu berpikir menurut pikiran kita masing-masing namun TUHAN memiliki pikrian yang luas dan terbatas. Roma 11: 33-36 mengatakan:

“O alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan ALLAH! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya! Sebab siapakah yang mengetahui  pikiran TUHAN? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya sehingga IA harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari DIA dan kepada DIA: Bagi DIA-lah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

Refleksi

Pandanglah bintang-bintang di langit! Bayangkanlah betapa besar kuasa TUHAN yang mampu mengatur bintang dan benda-benda di langit sehingga mereka tak jatuh ke bumi. Seberapa  besarkah diri Saudara di hadapan TUHAN yang Mahabesar dan Mahakuasa? Layakkah Saudara menggugat keputusan dan rancangan TUHAN atas hidup Saudara?

Tekadku

TUHAN, mampukanlah aku untuk mengerti keputusan dan kehendakMu. Berikanlah aku hati dan pikiran yang lapang agar mampu menerima setiap titahMu.

Tindakanku

Mulai hari ini aku akan belajar untuk berkata: “ Jadilah TUHAN kehendakMu!” dalam setiap perkara kehidupan yang tak mudah kupahami.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*