suplemenGKI.com

Lukas 1:26-38

 Sebutan dan status “hamba” bukanlah sesuatu yang kita dambakan.  Bahkan, sedapat mungkin, kita akan berusaha untuk menghindarinya.  Maklum, kebanyakan orang ingin menjadi “tuan”bagi orang lain: mempunyai wewenang untuk memerintah orang lain, bukan tunduk pada kehendak orang lain. Kalau tidak bisa menjadi tuan, kita ingin paling sedikit menjadi “insan merdeka”: tidak tunduk kepada siapapun atau apapun.  Namun, dalam kenyataannya, tidak ada seorangpun di dunia ini yang sepenuhnya bebas dari siapapun dan apapun.  Bahkan, tidak sedikit orang yang pada akhirnya justru menjadi “hamba” dari sesuatu yang nilai lebih rendah dari kehidupannya sendiri: hamba uang, hamba pekerjaan, hamba gengsi, dan sebagainya.  Banyak orang yang rela mengorbankan seluruh hidupnya untuk mendapatkan semua itu.  Jadi, ada baiknya kita semua memeriksa diri kita sendiri: Kepada siapakah selama ini saya menghambakan diri saya?

Bagi Maria, menjadi hamba Tuhan adalah sebuah pilihan yang terbaik.  Dengan mantap, Maria berkata: “Sesungguhnya, aku ini adalah hamba Tuhan.” (Luk 1:38). Sebagian besar dari kita tentu akan setuju dengan komitmen yang Maria ungkapkan dalam perkataannya itu.  Namun, kita semua juga tahu, bahwa ini bukanlah komitmen yang mudah untuk dikerjakan.  Mengapa demikian?

Komitmen menjadi hamba Tuhan menuntut ketaatan.  Ketaatan adalah wujud nyata dari iman.  Jika kita sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, kita tentu juga percaya kepada firman-Nya.  Dan, jika kita sungguh-sungguh percaya kepada firman-Nya, maka kita pun akan melakukan apa yang dikatakan-Nya itu dengan sepenuh hati kita.  Maria memang merasa heran dengan apa yang dialaminya, dan berbagai macam pertanyaan pun bergejolak di dalam pikirannya.  Maria juga belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang kemudian akan terjadi atas dirinya.  Banyak hal yang bagi Maria terasa mustahil dan tidak masuk akal (ay.34).  Namun, segala keterbatasan itu tidak menghalangi Maria untuk mengambil komitmen untuk menjadi hamba-Nya.

Selain ketaatan, komitmen menjadi hamba Tuhan juga menuntut kerelaan.  Kerelaan adalah tanah yang subur bagi ketaatan agar dapat bertumbuh dan menghasilkan buahnya.  Tanpa kerelaan, ketaatan akan menjadi kering dan layu.  Mengapa demikian?  Menjadi hamba Tuhan berarti memberikan prioritas kepada kehendak-Nya. Kepentingan dan karya Tuhan harus diutamakan, lebih daripada keinginan dan urusan pribadi Maria.  Sebagai tunangan Yusuf, Maria tentu sudah mempunyai rencananya sendiri.  Namun, rencana pribadi itu (meski bukan rencana yang buruk) harus digeser ke belakang demi mengerjakan rencana Tuhan.  Dengan memahami semua risiko yang mungkin terjadi atas dirinya, Maria pun berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Nah, hamba siapakah Anda?  Jika Anda adalah hamba-Nya, apakah Anda telah mengerjakan rencana-Nya di dalam ketaatan dan kerelaan?                                                                                                                                                                                                                                          ( TW )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

1 Comment for this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*