suplemenGKI.com

BERIMAN YANG MENGINSPIRASI SESAMA

Ayub 1 : 1, 2 : 1 – 10

Pengantar
Hidup beriman yang terwujud dalam kesalehan, kejujuran, dan takut akan TUHAN menjadi sesuatu yang makin sulit dijumpai secara umum, walau tetap ada pribadi-pribadi yang mampu meneladankan, menguatkan sesamanya. Hidup beriman yang terbukti menjadi teladan dan kekuatan bagi sesama ini kiranya terwujud tidak karena keadaan baik yang didapatkan, tetapi juga ketika keadaan buruk menimpa. Teladan dan kekuatan berbakti (beriman) semacam itu akan menjadi sumber inspirasi yang berkenan di hadapan TUHAN. Maka marilah kita memperhatikan bacaan Alkitab pada hari ini yang terambil dari Ayub 1 : 1, 2 : 1 – 10 dan melihat kehidupan iman Ayub kepada ALLAH.

Pemahaman
Pasal 1 ayat 1           :  Siapakah Ayub ?
Pasal 2 ayat 1 – 7     :  Apa rencana Iblis terhadap Ayub ?
Pasal 2 ayat 8 – 10   :  Bagaimana tanggapan Ayub terhadap penderitaan sakit yang dialaminya ?

Ayub adalah seorang saleh, jujur, dan takut akan ALLAH. Ia hidup menjauhi kejahatan. Hal ini sungguh berkenan di hadapan ALLAH dan juga diperhatikan oleh Iblis. Namun Iblis berpendapat bahwa itu semua dapat terjadi karena adanya kehidupan baik dan sejahtera yang dialami Ayub. Jadi jika Ayub mengalami hal buruk dan kesusahan (penderitaan) dalam hidupnya, pastilah ia akan mengutuk TUHAN.

Iblis lalu memohon perkenan TUHAN untuk mencobai Ayub melalui penderitaan pada tulang serta daging Ayub. TUHAN mengijinkan hal itu dilakukan tetapi tidak dengan mengganggu nyawa Ayub, sehingga Iblis menimpakan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.

Ayub mengalami penderitaan sakit pada sekujur tubuhnya (tulang dan dagingnya) sampai ia harus menggaruk-garuk badannya dengan sekeping beling sambil duduk di tengah-tengah abu. Ini adalah suatu keadaan buruk yang membuat istrinya ‘memprovokasi’ Ayub untuk meninggalkan kesalehan hidupnya, bahkan mengutuki ALLAH lalu mati saja. Namun Ayub justru mencela istrinya dengan keras dan sedia menerima hal yang baik maupun yang buruk dari ALLAH, dan ia luput dari jerat godaan Iblis. Ayub tetap tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Refleksi
Marilah kita berdiam diri sejenak, dan merenungkan:

  • Apakah iman kita kepada ALLAH bergantung kepada keadaan yang kita alami?
  • Apakah kita telah menginsirasi sesama kita untuk tetap beriman kepada TUHAN atau justru mendorongnya menjauh dari TUHAN ketika hal buruk dan kesusahan menimpa hidupnya?

Tekad
TUHAN, berilah saya keteguhan iman untuk dapat berbakti kepada TUHAN dengan setia dalam suasana suka maupun duka, dalam sejahtera maupun kemalangan hidup.

 Tindakanku
Mulai hari ini saya berupaya membuktikan diri sebagai pribadi yang menginspirasi orang lain untuk tetap setia beriman (berbakti) kepada TUHAN dalam keadaan apapun.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*