suplemenGKI.com

INDAH PADA WAKTUNYA

Pengkhotbah 3 :1 – 13 

 

Pengantar

Dalam hidup ini ada beraneka-ragam peristiwa. Ada orang yang menjalaninya secara rutin sebagai sebuah pengalaman hidup yang berganti-ganti (baca: variasi hidup), tapi juga ada yang melihatnya sebagai sesuatu yang cenderung mewarnai hidupnya. Ada yang merasakan dominan berwarna gelap ada yang merasakan dominan berwarna cerah. Bahkan ada yang melihatnya dirinya berada pada sebuah roda kehidupan yang berputar, terkadang kita bisa berada di posisi atas, terkadang kita berada di posisi bawah. Jika demikian adanya, apakah kita menerimanya sebagai sesuatu yang biasa saja, atau sebagai sesuatu yang tidak biasa, bahkan bukan terjadi secara kebetulan? Maksudnya, adakah terpikir sesuatu di balik semua peristiwa yang silih berganti kita alami. Untuk semua tanya itu, marilah kita belajar dari Pengkhotbah 3 : 1 – 13.

Pemahaman

Ayat  1 – 8      :  Apa yang dimaksud dengan pernyataan “untuk segala sesuatu ada masa dan waktunya”?

Ayat  9 – 13    :  Mengapa segala sesuatu indah pada waktunya?

Apa yang dinyatakan Pengkhotbah adalah realitas kehidupan yang ada di dunia ini. Jadi sesungguhnya kita telah biasa mengalaminya sebagai pengalaman hidup yang tidak saja berbeda tetapi juga dapat terlihat berlawanan atau sebagai sebuah perubahan bentuk atau proses (tahapan), entah semakin meningkat atau bahkan menurun. Perhatikanlah bahwa tidak semua peristiwa atau perbuatan itu selalu mulai dari hal yang terlihat negatif berganti positif, seperti ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa (ayat 4), tetapi bisa juga ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi (ayat 6).

Tetapi apa yang biasa kita alami ini belum tentu menjadi sesuatu yang bisa kita terima begitu saja. Ini dapat terjadi karena manusia tidak atau belum dapat melihat kehidupannya secara utuh. Manusia terkadang hanya bisa merasakan bagian-bagian tertentu saja atau lebih merasakan (didominasi) oleh sebuah peristiwa atau keadaan saja. Ada yang merasa lebih banyak menangis daripada tertawa, atau sebaliknya lebih banyak memperoleh daripada merugi. Pengkhotbah menyatakan bahwa manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan ALLAH dari awal sampai akhir (ayat 11).

Dan jika dikatakan bahwa TUHAN menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya, itu dalam rangka mengajak manusia untuk lebih dapat menemukan makna di balik semua peristiwa kehidupan. Melihat segala sesuatu sebagai pemberian TUHAN yang dapat diselami dengan hati yang terarah kepada TUHAN, yang dalam bahasa pengkhotbah dikatakan sebagai kekekalan dalam hati. Maka jadikanlah segala peristiwa hidup bukan hanya sebagai sesuatu yang biasa dialami, tetapi yang bisa diimani secara kekal dalam hati. Itulah keindahan yang TUHAN tawarkan sekaligus anugerahkan.

Refleksi

Marilah kita berdiam diri sejenak dan mencoba merenungkan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apakah kita mengalami aneka peristiswa hidup ini hanya sebagai sesuatu yang biasa saja?
  • Apakah kita bisa menerima hal-hal yang biasa dialami dalam hidup ini secara indah?

 

Tekad

TUHAN, ajarlah aku untuk melihat dan menjadikan aneka peristiwa hidup ini sebagai sesuatu yang bisa aku terima dalam iman kepada TUHAN dan menemukan makna yang indah di dalamnya.

Tindakanku

Mulai hari ini, saya berusaha untuk tidak melihat hidup secara biasa-biasa saja tapi untuk hidup lebih bisa merasa campur tangan TUHAN yang mengindahkan dan memperindah hidupku dan dunia ini.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*