suplemenGKI.com

Bacaan : I Samuel 3 : 1 – 10.

Memahami panggilan Tuhan.

Menarik untuk dicermati bahwa panggilan Allah terhadap Samuel sungguh-sungguh bermula dari inisiatif Allah, bukan karena semata-mata nazar ibunya ketika berdoa di Bait Allah untuk meminta seorang anak [ 1 Sam 1 : 11 ]. Dan bukan pula karena Samuel sudah begitu sering melakukan aktivitas di Bait Allah. Walaupun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa kedua hal tersebut cukup berperan dalam pelaksanaan tugas-tugas Samuel berikutnya. Namun dalam bacaan ini ingin menegaskan  bahwa Allahlah yang pada mulanya menyapa Samuel dan tentu saja hal ini akan berpengaruh terhadap upayanya menjawab panggilan tersebut.

Pertanyaan penuntun.

  1. Apa yang terjadi dengan umat Tuhan, sehingga pada masa itu firman Tuhan jarang, penglihatan-penglihatanpun tidak sering ? [ ayat 1 ]
  2. Bagaimana Samuel di bentuk untuk mengerti pelayanan ? [ ayat 1-3]
  3. Dalam kondisi seperti apa Tuhan memanggil Samuel ? dan bagaimana respon Samuel terhadap panggilan Tuhan tersebut ? [ ayat 4- 10 ]
  4. Bagaimana akhirnya Samuel memahami panggilan Tuhan ? [ ayat 9 – 10 ].

RENUNGAN.

Pada zaman itu Tuhan sangat jarang berfirman, jarang kedengaran SuaraNya, Israel sudah menyembah dewa-dewa dan telah berbalik dari Tuhan sehingga Tuhanpun tidak bersabda lagi kepada umatNya, tetapi kini tiba saatnya untuk mengirim seorang nabi yaitu Samuel. Samuel adalah seorang anak yang diperoleh melalui pergumulan yang berat, yang kemudian dipersembahkan kepada Tuhan untuk melayani Tuhan di Bait Allah. Dibawah asuhan imam Eli Samuel belajar melayani Tuhan di bait Allah, bagaimana ia menata semua pelayanan Bait Allah dengan berbagai tatacara yang telah ditetapkan dalam hukum Taurat.

Pada malam itu Samuel tidur di Bait Allah, dan pada saat itulah Tuhan memanggil Samuel dengan panggilan yang sangat berwibawa, “Samuel, Samuel”, sapaan yang sangat indah dengan menyebut nama Samuel secara pribadi mengindikasikan bahwa Tuhan sedang berkenan dan hendak memakai Samuel menjadi pelayan Tuhan. Namun ternyata panggilan Tuhan tidak dapat dipahami dengan jelas oleh Samuel. Paling tidak ada dua faktor penyebab.

Pertama : Faktor pengalaman pribadi dengan Tuhan. Minimnya pengalaman pribadi Samuel dalam berhubungan dengan Tuhan berdampak kepada ketidak mengertian Samuel akan panggilan Tuhan. Sebanyak tiga kali Tuhan menyapa/memanggil Samuel [ ayat 4,6,8 ] namun justru Samuel lari kepada imam Eli, karena mengira bahwa imam Eli lah yang memanggilnya, padahal Samuel memiliki waktu yang cukup tinggal di Bait suci Tuhan, tetapi belum dapat mengenal dengan jelas suara Tuhan yang memanggilnya. Hal ini hendak menjelaskan bahwa banyaknya aktifitas di Bait Allah tidak bisa menjadi indikator kedekatan seseorang dengan Tuhan.

Kedua :  Faktor minimnya pihak-pihak  lain yang memberikan pemahaman mengenai Allah. Mungkin selama Samuel berada di rumah imam Eli atau Bait Suci Allah, imam Eli hanya mengajarkan mempersiapkan semua perabotan Bait Suci yang hendak dipakai dalam ritual keagamaan dan segala hukum yang ada didalamnya. Yang lalai diperkenalkan adalah Tuhan yang dilayani, dimana sang hamba/imam harus dapat berkomunikasi dengan Tuhan. Dalam kondisi ketidak mengertian itulah secara tersirat imam Eli baru menjelaskan bahwa yang memanggil Samuel adalah Tuhan sehingga Samuel harus merespon dengan benar, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar”. Bagaimana dengan saudara, jika Tuhan memanggil saudara ! bagaimana respon saudara terhadap panggilan tersebut ? jawabannya ada dalam hati saudara ? Amin.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*