suplemenGKI.com

Amsal 9:1-6

MEMILIH HIKMAT

PENGANTAR
Tidak selalu mudah untuk memilih yang baik dan bermanfaat.  Apalagi jika manfaat itu baru bisa dirasakan di masa depan. Kita cenderung memilih sesuatu yang dapat memberikan kesenangan atau kenikmatan jangka pendek. Itulah sebabnya anak-anak kita lebih memilih bermain daripada belajar, dan kita lebih suka menambah waktu tidur daripada berolah raga.

Kitab Amsal mengajak kita untuk hidup dalam hikmat yang dilandasi oleh takut akan Tuhan (1:7, 9:10). Dengan hikmat ini kita akan memiliki tujuan hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya dan mencapai tujuan itu dengan cara-cara yang berkenan kepada-Nya. Tentu, ini tidak mudah. Pada kenyataannya, tidak sedikit orang yang menolak hikmat dan memilih kebodohan.

PEMAHAMAN

  • Ay. 1-2. Di bagian ini hikmat digambarkan sebagai seorang tuan rumah yang mengundang banyak orang untuk datang ke sebuah perjamuan. Hal apa yang hendak ditekankan melalui perumpamaan ini?
  • Ay. 3-5.  Siapa saja yang diundang oleh hikmat? Bagaimana cara hikmat mengundang mereka?
  • Ay. 6.     Apa yang harus dilakukan untuk menerima undangan hikmat, dan apa hasilnya? (band. 3:18, dan 9:18)

Di ayat 1-2 hikmat digambarkan sebagai seorang tuan rumah yang baik. Ia mengundang banyak orang untuk datang ke sebuah perjamuan dengan penuh tanggung jawab. Ia menyediakan rumah dengan tujuh tiang (ay. 1), artinya besar dan kokoh. Ia menyediakan makanan dan minuman yang terbaik untuk semua orang yang datang. Perjamuan yang besar ini juga menggambarkan sebuah keberhasilan yang dinikmati bersama.

Di ayat disebutkan bahwa undangan hikmat itu disampaikan di tempat-tempat tinggi di kota agar bisa didengarkan oleh semua orang (ay. 3). Di ayat 4 disebutkan secara khusus orang-orang yang diundang, yaitu mereka yang tak berpengalaman dan tak berakal budi. Mereka adalah orang-orang yang paling mudah menjadi sasaran rayuan kebodohan (ay. 13-18). Sungguh tidak mudah mengajak mereka memilih hikmat. Namun, sesungguhnya merekalah yang paling membutuhkan hikmat.

Di ayat 6 ditegaskan bahwa untuk memiliki hikmat, kita harus membuang kebodohan. Pilihan antara hikmat dan kebodohan adalah pilihan antara hidup atau mati (lihat 3:18 dan 9:18), dan karena itu tidak boleh dilakukan dengan setengah hati. Mereka yang memilih hikmat dengan sepenuh hati akan hidup. Hidup di sini mencakup kehidupan di dunia maupun kehidupan yang kekal.

REFLEKSI
Hanya hikmat dari Tuhan yang dapat menolong kita memiliki tujuan hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya dan mencapai tujuan itu dengan cara-cara yang berkenan kepada-Nya.

TEKADKU
Tuhan, terima kasih atas hikmat yang Kau sediakan bagiku, melalui kasih-Mu dan firman-Mu. Mampukanlah aku untuk hidup dalam kasih-Mu dan melakukan firman-Mu setiap hari.

TINDAKANKU
Mulai besok pagi aku akan membaca kitab Amsal, satu pasal setiap hari, sampai selesai seluruhnya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«