suplemenGKI.com

Senin, 7 Mei 2012

06/05/2012

Kisah Para Rasul 10:1-8

 

Allah Mengingat Engkau

Pasal 10 ini memiliki peran yang sangat penting dalam kitab Kisah Para Rasul. Sebab pada pasal inilah pemberitaan Injil “tahap 4” (Kis. 1:8) mulai dilaksanakan, yaitu pemberitaan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi.

- Bagaimanakah kerohanian Kornelius digambarkan dalam bacaan kita hari ini? Bagaimana pandangan orang-orang Yahudi terhadap Kornelius, dan bagaimana pula pandangan Allah terhadap Kornelius?

- Bagaimanakah kerohanian Saudara saat ini? Hal-hal apakah yang dapat Saudara lakukan untuk meningkatkan pertumbuhan kerohanian Saudara?

Renungan

Kaisarea adalah kota baru yang dibangun oleh Herodes Agung, yang kemudian menjadi pusat pemerintahan administratif Romawi di Yudea. Di kota inilah Kornelius, perwira pasukan Italia tinggal. Pasukan ini disebut pasukan Itali karena perekrutannya di wilayah Itali. Dari keterangan ini kita dapat menyimpulkan bahwa Kornelius bukanlah seorang Yahudi. Bagi Penulis kitab Kisah Para Rasul – dan seharusnya bagi kita juga – yang menarik dari Kornelius bukanlah kondisi lahiriah ini, melainkan kondisi batiniahnya.

Ada beberapa gambaran tentang keadaan batiniah Kornelius. Pertama, Kornelius disebut sebagai orang yang saleh. Pengertian dari kata yang diterjemahkan “saleh” di sini adalah memenuhi kewajiban menurut agama. Dengan kata lain, Kornelius bukanlah semacam seorang “Kristen KTP”, melainkan orang yang benar-benar tahu bagaimana beragama. Kedua, kesalehan itu bukan hanya ada pada diri Kornelius, melainkan ia serta seisi rumahnya disebut sebagai orang yang takut akan Allah. Dalam bahasa Yunaninya, kata yang diterjemahkan “takut akan Allah” ini dipakai juga untuk menjelaskan betapa Herodes “segan akan” Yohanes Pembaptis (Mar. 6:20), juga ketika rasul Paulus menasihatkan agar istri “hendaklah menghormati suaminya” (Efe. 5:33). Ketiga, kesalehan dan takut akan Allah itu juga nampak pada kehidupan sehari-hari. Kornelius digambarkan sebagai orang yang memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi. Dan berikutnya, Kornelius itu juga senantiasa berdoa kepada Allah. Hal ini diperkuat oleh kalimat berikutnya, “Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang…”. Jam tiga petang di sini memberikan indikasi bahwa Kornelius taat mengikuti tradisi berdoa pada jam-jam tertentu, sebagaimana yang dilakukan bangsa Israel (lih. Kis. 3:1). Dan Kornelius memang berdoa kepada Allah yang juga disembah bangsa Israel. Namun demikian, Kornelius bukanlah seorang proselit (orang non Yahudi yang memeluk agama Yahudi), sebab Kornelius tidak mengikuti ritual sunat orang Yahudi (Kis. 11:3). Sehingga Kornelius tetap dianggap “najis” dan rasul Petrus juga dipersalahkan karena masuk ke dalam rumahnya (Kis. 11).

Akan tetapi, bagaimana Allah melihat Kornelius? Ternyata Tuhan berfirman, “Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau”. Tuhan mempedulikan Kornelius meski orang lain mengabaikan dia. Betapa menyenangkan ketika Allah mengingat kita. Inilah yang harus menjadi pendorong hidup kita, diingat Tuhan, bukan yang lainnya. Apakah tindakan kita membuat orang lain terkesan atas kita, itu bukanlah hal yang utama. Sebab yang jauh lebih penting dari itu adalah, apakah Allah terkesan atas kita.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»