suplemenGKI.com
Curiga

Curiga

2 Raja-raja 5:1-8

Kecurigaan Penghambat Kebaikan

Dalam 2 Raja-raja 5, ada seorang panglima dari kerajaan Aram yang mempunyai catatan kehidupan  yang cukup baik, yaitu Naaman. Konsekuensi logis dari catatan hidup yang baik adalah dia layak menerima hal-hal yang baik pula dalam kehidupannya. Namun orang yang baik itu mengalami persoalan serius dalam hidupnya, yaitu ia menderita penyakit kusta. Umumnya seorang penderita kusta dinilai akibat dari keberdosaanya kepada Tuhan, tetapi 2 Raja-raja 5:1 mencatat bahwa melalui seorang Naaman Tuhan telah berkenan memberi kemenangan kepada orang Aram. Artinya, Naaman adalah orang yang berkenan kepada Tuhan. Hal itu pula yang kemudian menarik simpati raja Aram melibatkan diri secara konkrit untuk menolong Naaman agar sembuh dari kustanya, dengan mengirim surat kepada raja Israel, agar Naaman mendapatkan pertolongan dari Israel.

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:
1.    Jika saudara mengamati dengan saksama, siapa yang menjadi pencetus
Pertama agar Naaman dibawa ke Israel?
2.    Jika saudara membaca dengan teliti kisah tentang Naaman ini dengan
baik, berapa banyak orang yang terlibat dalam menolong Naaman?
3.    Jika saudara menilai dengan cermat, sifat apa yang bisa menghambat
kebaikan Tuhan dialami oleh seorang Naaman?
4.    Pernahkah saudara menyadari, kadangkala kita bisa menjadi
penghambat kebaikan Tuhan disalurkan bagi orang lain!

Renungan:
Secara umum orang yang berkedudukan tinggi selalu tidak disukai oleh banyak orang, terutama dari orang-orang kecil. Contoh di Indonesia saat ini, bukankah yang lantang berteriak mencaci-maki para pejabat adalah orang-orang rendah seperti para penyanyi jalanan, para buruh dan pedagang kaki lima. Mengapa, karena seringkali kedudukan tinggi menyilaukan mata sehingga melupakan orang kecil. Berbeda dengan Naaman, justru orang dengan status budak dari Israel yang pertama kali menyampaikan ide kebaikan untuk menolongnya. Selanjutnya terus bermunculan pribadi-pribadi lain seperti istri Naaman sendiri, raja Aram, majikan Naaman, kemudian raja Israel dan yang terakhir adalah abdi Allah yaitu Nabi Elisa. Itu semua merupakan konsekuensi logis dari catatan hidup Naaman yang baik.
Tetapi kadangkala, kebaikan disikapi dengan keliru sehingga kebaikan itu terhambat bagi sesama. Itulah yang terdapat pada raja Israel. Entah karena faktor ketakutan yang berlebihan atau trauma masa lalu sehingga ia terlalu cepat mencurigai pihak lain (v. 7) Dampak dari kecurigaannya itu ia berlaku tidak wajar sehingga mengoyakkan pakaiannya. Tindakkannya itu bukan sebagai tanda berkabung tetapi lebih merupakan ekspresi kemarahan, ketakutan, menyalahkan orang lain dan putus asa. Itu sebabnya Nabi Elisa mempertanyakan sifat raja Israel itu. Elisa seolah mau mengatakan, ijinkan orang itu menghadap aku supaya mereka tahu bahwa di Israel ada Tuhan yang berkuasa menyembuhkan orang dari penyakitnya (v. 8)
Saudara, terkadang kita tidak sadar dengan sifat kecurigaan kita, itu bisa membuat orang akhirnya tidak dapat mengalami anugerah Tuhan dalam hidupnya, kecurigaan kita membuat kita tidak mengalami sukacita dan damai sejahtera dalam berelasi dengan orang lain dan bahkan terkadang kecurigaan kita bisa juga membuat kita tidak bisa dipakai Tuhan menjadi saluran berkat bagi orang lain. Mari kita buang sifat curiga yang tidak beralasan supaya kita bisa menunjukkan kebaikan Tuhan bagi dunia melalui hidup kita. Amin.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*