suplemenGKI.com

Senin, 5 Maret 2012

04/03/2012
Dasa Titah

Dasa Titah

Keluaran 20:1-11

Dasa Titah (1)

 Hukum Taurat yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel melalui nabi Musa pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu hukum moral (Kel. 20:1-17) yang membahas tentang peraturan-peraturan Allah untuk hidup kudus, hukum sosial (Kel. 21:1-23:33) yang membahas tentang kehidupan sosial bangsaIsrael, dan hukum ritual (Kel. 24:12-31:18) yang membahas tentang bentuk dan upacara penyembahan bangsa Israel kepada Tuhan. Dalam hukum yang ketiga ini juga dibicarakan tentang sistem persembahan korban. Hari ini kita akan merenungkan bagian yang pertama, yaitu tentang hukum moral.

-  Sebutkan beberapa jenis hukum yang Saudara ketahui (mis. hukum pidana, perdata). Apakah perbedaan hukum-hukum tersebut dengan Sepuluh Hukum Taurat?

-  Mengapa Hukum Taurat ini didahului dengan pernyataan, “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan”?

-  Dengan sikap hati seperti apakah Saudara mentaati Sepuluh Hukum ini? T

Renungan

Hukum moral ini didahului dengan sebuah pernyataan, “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Kel. 20:1). Dalam kalimat pembuka ini, Allah Sang Pemberi hukum menyatakan siapa diri-Nya. Dia bukanlah Sang Penguasa, melainkan Sang Pengasih. Allah telah menyatakan kasih-Nya dalam tindakan konkrit: mengeluarkan bangsa Israel dari tanah perbudakan Mesir. Dia bukanlah Allah yang memberi janji akan mengasihi umat-Nya, melainkan Allah yang telah memberi bukti akan kasih-Nya kepada umat-Nya. Jadi apa yang ditulis dalam Taurat inipun seharusnya juga dipahami sebagai wujud kasih Allah kepada umat-Nya. Dalam bukunya yang berjudul Kristen Sejati, Packer menjelaskan bahwa karena Alkitab menyebut Sepuluh Hukum Allah sebagai Hukum, kita sering kemudian menyamakannya dengan hukum dunia, yaitu serangkaian aturan tentang apa yang harus dikerjakan atau dilarang, yang telah membatasi kebebasan manusia demi untuk kepentingan umum. Perbandingan sedemikian adalah salah. “Torah” (istilah Ibrani untuk “hukum”) berarti serangkaian perintah yang diberikan oleh orang tua yang baik kepada anak-anak mereka. amsal 1:8 dan 6:20 menggunakan istilah “torah” untuk ajaran orang tua… Hukum ini diberikan untuk memimpin kita masuk ke jalan yang terbaik bagi kita. Hukum kebapaan Allah mencerminkan kasih kebapaan dari Allah.

Oleh sebab itu maka seharusnya yang menjadi landasan umat Allah dalam mentaati Sepuluh Hukum ini bukanlah sikap takut menerima hukuman bila melanggar, melainkan sikap kasih umat kepada Allah. Dengan demikian, untuk memahami Sepuluh Perintah Allah ini, kita dapat menggunakan hubungan pria dan wanita sebagai analoginya. Misalnya saja, Hukum pertama mengatakan, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (ay. 3). Sebagaimana hubungan kasih antara seorang suami dengan istrinya, maka seharusnya dalam hubungan umat dengan Allahnya tidak ada pihak ketiga. Sedangkan hukum kedua mengatakan, “Jangan membuat patung …[dan] sujud menyembahnya.” Gambaran hukum kedua ini adalah seseorang yang sudah menikah dan tetap menyimpan foto pujaannya di dalam dompetnya. Tentu tindakan ini melukai hati pasangannya, bukan? Jadi bila kita mengasihi Allah, maka kasih itu akan kita wujudkan dalam ketaatan terhadap Sepuluh Perintah Allah ini.

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«