suplemenGKI.com

Ayub 19:1-22

 

Di saat terjepit aku terhimpit

 

Pengantar
            Setiap orang tidak ingin mengalami keadaan yang terjepit dan terhimpit dalam hidupnya. Tetapi hidup ini tidak bisa terhindar dari berbagai problematika dan masalah yang berujung pada sebuah keadaan terjepit dan terhimpit. Dalam keadaan demikian seseorang akan berusaha dan berjuang dengan segala upaya untuk keluar dari keadaan itu. Salah satu usaha dan perjuangannya adalah mencoba mengulurkan tangan meminta pertolongan dari berbagai pihak. Namun terkadang langkah itu justru bukan pertolongan yang didapat, tetapi sebaliknya bisa semakin terpuruk dan membuatnya semakin kecewa. Pengalaman itulah yang dialami Ayub ketika dia meminta tolong pada manusia di saat dia berada dalam kondisi terjepit dan terhimpit. 

Pemahaman:

  1. Apa yang terjadi dengan Ayub, Apa latar belakang pernyataan-2 Ayub mulai v. 1-6?
  2. Mengapa Ayub juga sepertinya menyalahkan Allah terkait dengan masalahnya? (v. 7-22. 

Pada pasal 1-2, dikisahkan bahwa anak-anak dan harta benda Ayub dengan seijin Tuhan, dalam waktu singkat habis lenyap. Hal itu terjadi karena Allah hendak menguji sampai sejauh mana kepercayaan dan iman Ayub kepada Allah. Sebuah ujian yang sulit bagi seseorang untuk tetap beriman kepada Tuhan. Namun dalam keadaan terjepit dan terhimpit Ayub tetap beriman kepada Tuhan (Lih. 1:20-2:3)

Di tengah-2 keterjepitan dan keterhimpitannya, wajar sebagai manusia Ayub ingin mendapat simpati dari sesama manusia, termasuk kepada isterinya maupun sahabat-2nya. Tetapi apa yang ia dapatkan? Sang istri malah mengutuk dan mendesaknya untuk menyangkal Tuhan, sedangkan sabatat-2nya mencela dia (Lih. 2:9, Ps. 4-31 tentang percakapan Ayub dan sehabat-2nya) Intinya semua mereka, termasuk istrinya justru memojokan Ayub. Mereka seolah-olah ingin mendesak Ayub untuk menyangkal imannya kepada Tuhan karena penderitaan yang Ayub alami. Mereka hanya berpikir bahwa beriman kepada Tuhan itu selalu harus sukses, sehat dan tidak ada pergumulan. Hal-hal itulah yang membuat Ayub kesal dan seorah menyalahkan Allah. Tetapi sesungguhnya Ayub telah mengajarkan kita, bahwa beriman kepada Tuhan adalah siap menerima hal yang baik tetapi juga siap menerima hal-hal yang buruk (2:10) 

Refleksi:
Tuhan, aku menyadari bahwa tidak selamanya hidup ini mudah, tidak selamanya fisik ini sehat dan tidak selamanya usaha/pekerjaan/karier serta pelayananku lancar. Adakalanya mengalami masalah, adakalanya aku berada dalam keterjepitan dan keterhimpitan. Tuhan ajarlah aku untuk bisa menerima semua itu dengan tetap mengasihi-Mu.

Tekad:
Hari ini, jika aku diperhadapkan pada masalah baik itu pekerjaan, rumah-tangga, kesehatan maupun pelayanan aku bertekad untuk tetap setia dan mengasihi-Mu dengan tulus dan benar. 

Tindakan:
Mulai sekarang aku mau belajar untuk tidak menyalahkan atau kesal kepada Tuhan walau dalam keadaan di hidupku terjepit dan terhimpit.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*