suplemenGKI.com

PENGUDUSAN DAN PENGUTUSAN

Yesaya 6 : 1 – 13

Pengantar
Untuk melakukan atau mendapat sesuatu yang baik dan benar, tidak saja dilihat atau diukur dari hasil akhirnya, tapi juga bagaimana proses yang terjadi. Bahkan lebih daripada itu, hal yang baik dan benar, seharusnya juga bersumber dari sesuatu yang baik dan benar. Dalam bacaan Alkitab hari ini, yaitu: Yesaya 6:1-13, ada pesan penting yang bisa kita dapatkan berkaitan dengan hal pengudusan dan juga hal pengutusan. Secara jelas kita dapat melihat adanya relasi antara kekudusan dan pengutusan, bahkan mengenal sumber pengudusan dan pengutusan yang baik dan benar.

Pemahaman
Ayat  1 – 4           :  Apa makna penglihatan TUHAN kepada Yesaya?
Ayat  5 – 8           :  Bagaimana sikap Yesaya dan proses selanjutnya yang dialaminya?
Ayat  9 – 13         :  Bagaimana TUHAN mengutus Yesaya?

Yesaya melihat TUHAN duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-NYA memenuhi Bait Suci. Para Serafim berdiri di sebelah atas-NYA, dengan dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. Dan mereka berseru: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-NYA!” Maka bergoyanglah alas ambang pintu dan rumah itupun penuhlah dengan asap. Penglihatan ini memberi makna bahwa TUHAN itu sungguh kudus dan penuh kemuliaan, sesungguhnya kita tidak akan tahan berhadapan (baca: melihat) TUHAN secara langsung.

Di hadapan TUHAN yang Mahakudus dan Mahamulia, Yesaya menyadari keberadaannya, dan berkata: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, … namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” Lalu seorang Serafim itu terbang mendapatkan Yesaya; di tangannya ada bara, dan menyentuhkannya ke mulut Yesaya untuk menguduskannya. Kemudian Yesaya mendengar suara TUHAN berkata: “Siapakah yang akan KU-utus, dan siapakah yang mau pergi untuk AKU?” Maka sahut Yesaya: “Ini aku, utuslah aku!” Malalui sikap Yesaya dan proses yang dialaminya kita melihat bahwa sebuah proses pengutusan diawali oleh tindakan pengudusan dari TUHAN, yang tidak saja mengampuni dosa kita tapi memberi dorongan dan keberanian untuk diutus.

Selanjutnya TUHAN mengutus Yesaya untuk pergi dan mengatakan kepada umat-NYA tentang tindakan yang akan dilakukan-NYA, yaitu membinasakan mereka dan nantinya hanya akan menyisakan tunggul yang daripadanya akan keluar tunas yang kudus. Ini menunjukkan bahwa ada proses pengudusan yang juga dilakukan TUHAN kepada umat-NYA, yaitu dengan memunculkan suatu kehidupan baru yang berkenan kepada TUHAN. Ini memberi harapan kepada kita tentang anugerah yang tetap tersedia bagi umat TUHAN, setelah kita mengalami pengudusan hidup. Dan bahwa sebuah pengutusan ternyata juga bertujuan untuk sebuah proses pengudusan selanjutnya.

Refleksi
Marilah kita berdiam diri sejenak dan mencoba merenungkan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apakah kita menyadari kekudusan TUHAN dan telah mengalami pengudusan dari TUHAN?
  • Apakah kita sedia diutus untuk juga terlibat karya pengudusan TUHAN bagi orang lain? 

Tekad
TUHAN, jadikan aku menyadari kekudusan TUHAN, serta sedia dikuduskan dan berani diutus TUHAN untuk karya pengudusan TUHAN bagi orang lain.

 

Tindakanku
Mulai hari ini, saya mengambil keputusan untuk terus bersyukur atas proses pengudusan dan pengutusan yang terjadi dalam hidup sehari-hari.

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«