suplemenGKI.com

SEBUAH TITIK BALIK IMAN

Ayub 19:23-27

 

Pengantar

Suatu kali ada seorang gadis kecil ingin belajar untuk mengendarai sepeda. Awalnya gadis kecil ini merasa takut karena roda sepedanya kini tinggal dua dan dia harus belajar mengendarai sepeda dengan dua roda tersebut. Dengan ragu, gadis kecil ini mencoba untuk melajukan sepedanya perlahan. Tanpa dia sadari dia bisa mengendarai sepedanya sedikit demi sedikit namun tak lama kemudian dia terjatuh. Banyak orang mengatakan “wajar kalau kita jatuh saat baru belajar naik sepeda asal jangan menjadi trauma dan tidak mau belajar lagi.” Gadis kecil yang tadi terjatuh spontan menangis tapi hal yang mengejutkan adalah sekalipun dia terjatuh dan menangis namun dia mau berdiri lagi dan kembali mengendarai sepedanya. Sesungguhnya tidak jarang kita mengalami lemah dalam iman, kita “jatuh” di dalam ketidakpercayaan namun yang terpenting adalah maukah kita “bangun” dari iman kita yang lemah dan kembali teguh di dalam iman? Marilah kita merenungkannya.

 

Pemahaman

  • Ayat 23-24     : Apa yang sesungguhnya dirasakan oleh Ayub?
  • Ayat 25-27     : Bagaimana perubahan yang terjadi di dalam diri Ayub?

 

Ayub pasal 19 merupakan salah satu dari rangkaian dialog yang berlangsung antara Ayub dan sahabat-sahabatnya, di mana di pasal 18, Bildad kembali mencibir Ayub dengan perkataannya yang menyakitkan.  Dan di dalam respon Ayub di pasal 19 ini, Ayub menunjukkan betapa beratnya pergumulan hidup yang ia alami. Dia kehilangan keluarga, bahkan semua saudara dan sahabatnya pun menjauhi dia.

Di tengah pergumulan yang dirasakan, Ayub mengalami “lemah iman.” Ayub merasa seakan Allah melupakan dirinya. Hal ini diekspresikan dalam kalimat  “Jalanku ditutup-Nya dengan tembok,” “jalanku itu dibuat-Nya gelap,” dan sebagainya. Setelah Ayub merasakan bahwa di tengah pergumulannya, Allah seakan melupakan dia, ia mengalami sebuah titik balik iman. Dalam ayat 25-27, Ayub kembali menyadari bahwa justru Tuhan  adalah Penebusnya yang hidup, dan Dia adalah Allah yang akan menolongnya. Kata penebus menggunakan kata bahasa asli “go’el” yang berarti seseorang yang memperjuangkan. Hal ini menunjukkan bagaimana Ayub mengalami sebuah titik balik iman.

 

Refleksi

Sambil memandangi wajah di depan cermin,  ingatlah berapa usia Anda saat ini! Seiring dengan pertambahan usia, apakah Anda mengingat akan banyak hal yang telah Anda lalui? Dalam perjalanan hidup ini, apakah Anda merasakan ada Tuhan, Sang Penebus yang selalu menyertai?

 

Tekadku

Tuhan, sekalipun aku mengalami banyak sekali pergumulan, bantulah aku untuk tetap percaya bahwa Tuhan akan senantiasa menolong, karena Engkaulah  Penebusku yang hidup.

 

Tindakanku

Aku akan mencatat segala kebaikan Tuhan setiap hari untuk mengingat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan aku sehingga aku selalu beriman kepada Tuhan di segala cuaca kehidupan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«