suplemenGKI.com

“Ketika Manusia Berhadapan dengan Kuasa Allah”

Pertanyaan Penuntun Pemahaman Alkitab

1. Pasal 16:31-33: Apa yang dilakukan Raja Ahab selama masa pemerintahannya?

2. Pasal 16:30: Bagaimana Tuhan memandang segala yang dilakukan Raja Ahab?

3. Pasal 17:1 : Bagaimana cara Tuhan menunjukkan otoritasNya dalam hidup Raja Ahab?

4. Pasal 17:2-3: Mengapa Tuhan memerintahkan Nabi Elia untuk pergi setelah menyampaikan nubuatan tersebut?

5. Pasal 17:4-6: Apa yang Tuhan berikan untuk hambaNya, Elia?

6. Dari apa yang Tuhan lakukan terhadap Raja Ahab dan Nabi Elia, kini simpulkanlah apa yang bisa Anda renungkan tentang Tuhan Allah kita?

Renungan

Ahab adalah raja yang kejam dan sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Demikian pula istrinya yang tidak kalah kejam, yaitu Izebel. Mereka berdua hidup jauh dari Tuhan, bahkan seringkali memberontak terhadap Tuhan dengan berbagai cara. Diantaranya adalah dengan beribadah kepada Baal, memperbanyak pembangunan patung-patung Baal untuk disembah olehnya dan seluruh rakyatnya, bahkan tidak puas dengan itu, mereka meniadakan nabi-nabi Allah dengan cara membunuh mereka dan menggantikan posisi mereka dengan nabi-nabi Baal. Semua yang mereka lakukan dipandang sebagai kekejian di hadapan Tuhan, dan karena itulah Tuhan Allah tidak tinggal diam. Tuhan menghukum dengan meniadakan hujan atau bahkan embun, sedikitnya selama tiga tahun (18:1). Nabi Elia diutus Tuhan untuk menyampaikan berita penghukuman tersebut. Tentu saja kabar seperti ini membuat Ahab marah dan merasa dipermalukan. Karena itu keberadaan nabi Elia menjadi terancam. Namun dari bacaan hari ini kita melihat pula bahwa Tuhan juga tidak tinggal diam terhadap nabi Elia. Tuhan melindunginya dari kejaran Ahab, menjagai dan memeliharanya dari hukuman yang Allah berikan atas Israel dengan cara memberikan kecukupan makanan minuman di tepi sungai Kerit. Baik Elia maupun Ahab dibuat menyaksikan dan mengalami sendiri kedahsyatan kuasa perkataan Allah. Apa yang Ia katakan sungguh tergenapi. Bila Ia menghukum, maka jadilah hukuman itu. Bila Ia memelihara, maka nyatalah pemeliharaanNya. Jika memang demikianlah Tuhan Allah kita, maka sebagai manusia sudah sepantasnya kita memilih jalan hidup seperti Elia. Menjadi hamba Allah yang taat, tunduk dalam melakukan segala perintah Allah tanpa keraguan sedikitpun. Sebab apa yang dikatakanNya tidak mungkin dilalaikanNya. Jauhlah dari kita cara hidup seperti Ahab yang mencoba melawan Allah, menunjukkan kemampuan dirinya sendiri, atau mempercayakan dirinya kepada sesuatu yang lain daripada Allah. Kita bukan hanya akan dikecewakan karena tidak mendapat apa-apa dari ‘sesuatu’ yang kita percayai/andalkan selain Allah, tetapi juga akan menuai hukuman dari Allah akibat pemberontakan kita.

Kuasa Allah mampu merendahkan orang yang meninggikan dirinya, dan meninggikan orang yang merendahkan hidupnya di hadapan Allah.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*