suplemenGKI.com

Senin, 30 Juli 2012

29/07/2012

Keluaran 16:2-4

“MENGELUH”

Bagaimana perasaan kita jika kita bertemu dengan orang yang hobinya hanya mengeluh?  Setiap kali bertemu pasti ada saja keluhan yang ia utarakan?  Tentu kita akan menjadi kurang nyaman ketika harus bertemu dengan orang yang seperti itu.  Ayat yang kita baca hari ini juga membahas mengenai satu bangsa yang hobinya adalah mengeluh, yaitu bangsa Israel.

 Pertanyaan Penuntun

  • Mengapa bangsa Israel mengeluh? (ay.3)
  • Apa isi keluhan tersebut? (ay.3)
  • Apakah jawaban atas keluhan bangsa Israel? (ay.4)
  • Apa yang bisa Anda pelajari dari pengalaman bangsa Israel tersebut?

 

Renungan

Pada waktu itu bangsa Israel baru saja terbebas dari perbudakan Mesir. Mereka baru saja pergi keluar dari tanah Mesir dan berjalan menuju tanah perjanjian.  Tetapi di tengah perjalanan, bangsa Israel terus mengeluh kepada Allah.  Bagian perikop ini mencatat orang-orang Israel yang bersungut-sungut kepada Tuhan karena mereka tidak memiliki makanan (ay.2).  Kata “bersungut-sungut” dalam bahasa aslinya menggambarkan bahwa orang-orang itu mempersalahkan Tuhan atas keadaan mereka.  Bangsa Israel menyalahkan Tuhan ketika tidak ada persediaan makanan bagi mereka.  Bukan hanya satu kali Alkitab mencatat bangsa ini mengeluh.  Belum lama di pasal sebelumnya, Alkitab mencatat bahwa mereka mengeluh di Mara karena rasa air yang pahit di sana (ps.15).  Tidak lama setelah itu, di pasal berikutnya Alkitab juga mencatat ketika Israel kembali mengeluh karena tidak ada air (ps.17).  Kita dapat melihat bangsa Israel yang telah berulang kali terus mempersalahkan Allah atas keadaan yang terjadi.  Mereka terus mengeluh seolah lupa akan pemeliharaan Allah. Mereka lupa siapa Allah yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, yang telah membelah laut Teberau ketika mereka dikejar Mesir, dan yang juga telah mengubah air yang pahit menjadi manis.  Allah adalah Allah yang sama yang akan terus dan selalu memelihara hidup mereka.  Bangsa Israel seharusnya tidak mengeluh atau malah mempersalahkan Allah atas keadaan yang mereka alami.  Allah yang setia itu akan memelihara kehidupan mereka.  Buktinya Allah memberikan mereka roti secara ajaib (ay.4) sehingga mereka dapat makan sampai kenyang.

Bacaan ini mengajak kita untuk kembali berefleksi.  Apakah kita tergolong orang-orang yang lebih suka mengeluh atau bersyukur kepada Tuhan?  Bagaimanakah sikap kita, ketika kita sedang mengalami kesulitan?  Apakah kita lebih sering mengeluh dan mempersalahkan Tuhan atas apa yang terjadi?  Atau sebaliknya, dalam kesulitan tersebut kita semakin mempercayai Allah yang selalu setia memelihara hidup kita dan datang dengan kerendahan hati memohon pertolongan-Nya?  Kiranya Tuhan menolong kita untuk dapat lebih banyak mengucap syukur dan mengandalkan Dia, ketimbang hanya mengeluh dan mempersalahkan Dia atas setiap keadaan yang kita alami.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«