suplemenGKI.com

Yesaya 58:1-8

 

Apa yang Membuat “Terang”mu Merekah Seperti Fajar

 

Pengantar
Allah Bapa menghendaki setiap anakNya dapat memuliakan namaNya dengan menjadi “terang” yang bercahaya di depan banyak orang (Matius5:16). Sebagai umat pilihan, bangsa Yahudi seharusnya memahami dengan baik hal ini. Kepada mereka secara khusus telah diberikan titah, ajaran, hukum, dan peraturan (Mazmur 147:19-29). Sayang bangsa Israel ternyata lebih mementingkan ibadah yang lebih bersifat lahiriah agamawi daripada memelihara relasi dengan Tuhan. Mereka berdoa, berpuasa, datang mencari Tuhan, seakan-akan mereka taat kepadaNya, namun apa yang mereka lakukan lebih berorientasi pada diri mereka sendiri daripada berfokus pada Tuhan. Bahkan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan” (Yesaya 29:13 TB). Mereka lebih peduli bagaimana orang melihat dari luar kesalehan mereka dalam beribadah daripada mempedulikan kepentingan dan hak-hak orang lain. Padahal kepedulian kepada sesama itu yang dikehendaki Tuhan dan itu pula yang membuat “terang” mereka merekah seperti fajar (Yesaya 58:8).

Pemahaman
- Ayat 1           : Apa yang diperintahkan Allah kepada Nabi Yesaya?
- Ayat 2-5       : Apa pelanggaran bangsa Israel hingga Allah perlu memperingatkan mereka? Menurut Sdr. apakah hal itu juga bisa terjadi dan dialami oleh umat Tuhan masa kini? Adakah Sdr menjumpai umat Tuhan yang sering mempertanyakan mengapa Tuhan seakan tak mengindahkan doa dan puasa mereka?  (Ayat 3,4)
- Ayat 6-7       : Beribadah seperti apakah yang sebenarnya Tuhan kehendaki?
- Ayat 8           : Ketika umat melakukan ibadah sebagaimana yang Tuhan kehendaki, maka apa yang akan terjadi?

Nabi Yesaya diperintahkan TUHAN Allah untuk menegur dengan keras bangsa Israel (kaum keturunan Yakub) karena pelanggaran-pelanggaran mereka. Rupanya mereka terlalu menekankan pada ritual keagamaan dan kesalehan lahiriah serta kepentingan diri. Bahkan mereka berani menuntut Tuhan untuk memenuhi apa yang mereka inginkan bukan sebaliknya dengan penuh kerendahan hati mencari tahu apa yang Tuhan kehendaki. Mereka kehilangan misi kerajaan Allah untuk membebaskan yang terbelenggu dan berbagi dengan orang yang membutuhkan karena terlalu berorientasi pada pemenuhan keinginan pribadi.

Refleksi
Apakah selama ini aku cenderung menuntut dan bahkan menyalahkan Tuhan mengapa Ia tak mau mengabulkan doa permohonan pribadiku sekalipun aku sudah rajin beribadah? Apakah doa dan puasa (ibadah) yang aku lakukan cenderung untuk memuaskan keinginan pribadiku semata?

Tekad
Dengan segala kerendahan hati aku ingin belajar untuk lebih memahami kehendak Allah dan misi kerajaanNya.

Tindakan
Aku mulai lebih bersungguh-sungguh dalam doa pengakuan dosa dan doa syafaat (bukan hanya doa permohonan pribadi). Aku mau melayani  sesama sebagai bagian dari ibadahku untuk memuliakan namaNya.

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«