suplemenGKI.com

Yesaya 25:1-5

Bersyukur Atas Rancangan Allah Yang Ajaib 

            Suatu hari seorang ibu pedagang tempe sangat kaget, karena entah mengapa hari itu tempenya belum jadi padahal seharusnya sudah jadi dan siap dijual. Di rumahnya sudah tidak ada beras lagi untuk dimasak, otomatis dia hanya mengandalkan jualan tempe itu untuk membeli beras dan keperluan lainnya. Cukup lama ia terdiam memperhatikan tempenya yang belum jadi itu. Rasa putus asa, sedih, kecewa berkecamuk dalam hatinya. Ia bertanya dalam hatinya, apakah ada orang yang mau membeli tempe yang belum jadi ini?

Dengan sedih dia langkah ke pasar membawa bakul berisi tempe -tempe itu. Seperti biasa dia pun menghamparkan alas untuk berjualan tempe, berharap semoga ada orang yang sudi membeli tempe-tempe itu. Sudah kira-kira pukul 11.00 pasar sudah mulai sepi, tidak ada satu orang pun yang berminat membeli tempenya. Sang ibu pun bersiap-siap mengemas barang dagangannya dan akan pulang. Tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berhenti di depan pasar, pemiliknya bergegas masuk ke pasar dan bertanya “Adakah yang menjual tempe yang belum jadi? saya mau membeli untuk dibawa ke luar kota”  Suara itu terdengar jelas oleh sang ibu. Seorang pedagang lain menunjuk ke arah dia, dan orang yang mencari tempe belum jadi itu segera menuju kepada ibu tersebut dan membeli semua tempenya yang belum jadi itu. Sang ibu tidak kuasa menahan kegembiraannya sehingga ia menangis. Betapa gembiranya dia pulang dengan membawa beras dan keperluan lain untuk kebutuhan hari itu. Dia berkata sungguh ajaib Tuhanku, Dialah yang merancangkan semuanya. Rupanya dia orang kristen. Bacaan kita hari ini berisi ungkapan syukur atas rancangan Tuhan kepada umatNya. 

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

  1. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi ungkapan syukur umat dalam bacaan Yesaya 25:1-5 ini?
  2. Apa pandangan umat yang bersyukur itu terhadap Allah (Yes 25:4)
  3. Bagaimana sikap kita jika kita mengalami pertolongan Tuhan yang tidak kita pikirkan sebelumnya? 

Renungan:

            Ungkapan syukur umat itu diawali dengan pengakuan bahwa hanya Tuhan saja yang harus ditinggikan dan disembah. Tujuannya untuk memagari konsep umat Istrael, bahwa tidak ada ilah lain yang dapat menolong umatNya selain Tuhan. Hal itu terkait dengan pengalaman umat yang telah mengalami pertolongan Tuhan terhadap musuh-musuhnya. Tidak jelas dalam bacaan ini sejauh mana kuat dan besarnya musuh-musuh yang dihadapi saat itu, hanya disebut dalam bentuk kiasan “kota itu” dan “kota yang berkubu”  Sebutan kota dalam konteks Israel selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kekuatan dan kemakmuran. Jadi dapat disimpulkan bahwa analogi musuh yang digambarkan seperti kota berkubu berarti musuh-musuh itu sangat kuat dan besar. Bagi umat Israel untuk mengatasi musuh yang demikian tidaklah mungkin, jika bukan karena pertolongan Tuhan. Itulah alasan mengapa umat harus bersyukur selalu kepada Tuhan.

            Dalam ungkapan syukur itu juga umat Israel memandang bahwa Tuhan bukan saja telah menolong mereka dari musuh yang kuat, tetapi juga menjadi tempat perlindungan dan perteduhan. Bangsa yang pernah mengalami ketertindasan oleh musuh selalu menyisakan keterpurukan, kekurangan dan penderitaan. Dalam kondisi demikian hanya Tuhan yang menjadi andalan dan harapannya.

            Saudara, terkadang kita berada dalam situasi keterpurukan, kekurangan dan penderitaan. Seakan-akan sudah tidak ada harapan lagi, segala upaya sudah kita lakukan untuk keluar dari keterpurukan itu, namun seakan tidak ada jalan keluarnya. Satu hal yang harus kita camkan adalah, di balik semua keadaan yang kita alami ada rancangan Tuhan yang ajaib tersedia bagi kita. Pertanyaannya adalah adakah kita menjadikan Tuhan satu-satunya penolong, pelindung dan pengharapan  dalam hidup kita? 

“Pengharapanku hanya kepada Tuhan yang tidak pernah merancangkan kejahatan tetapi selalu merancangkan kebaikan yang ajaib bagiku”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«