suplemenGKI.com

Yesaya 58:1-7.

 

“Hidup keagamaan yang mencoba menipu Tuhan!”

Pengantar:
“Menipu” berasal dari kata dasar “Tipu” artinya: Perbuatan, perkataan dan pikiran yang tidak jujur (bohong, palsu atau tidak sesungguhnya) dengan maksud untuk menyesatkan, mengakali, mengelabui orang lain demi keuntungan diri sendiri. Pernahkah saudara ditipu orang? Bagaimana perasaan saudara ketika mengalami hal tersebut? Pengalaman ditipu adalah hal yang sangat menyakitkan, apalagi jika yang menipu itu adalah orang terdekat kita, pacar kita, saudara seiman kita pasti sangat menyakitkan. Ada seorang bapak diajak bekerja sama dalam bisnis tertentu oleh seorang temannya yang sudah dikenal sejak lama. Agar proses bisnis dapat berjalan lancar dan menghasilkan keuntungan besar, ia diminta menyerahkan sejumlah uang kepada temannya itu. Dengan tanpa ragu ia pun melakukannya, karena ia percaya bahwa temannya tidak akan  melakukan hal-hal yang merugikannya. Tetapi setelah menerima uang darinya, temannya menghilang bersama dengan uangnya, dan sejak itu ia tidak bisa lagi dihubungi apalagi bertemu. Saat itulah ia baru sadar bahwa ia telah ditipu oleh temannya sendiri. Sejak peristiwa itu ia tidak pernah lagi mau percaya pada siapapun juga.

Pemahaman teks:

  1. Apakah sesungguhnya yang dilakukan oleh bangsa Israel kepada Tuhan? (v. 2-3c)
  2. Bagaimana penilaian Tuhan terhadap kesalehan Israel? (v. 3d-5)
  3. Apa yang Tuhan kehendaki dari umat-Nya (v. 6-7)

Bangsa Israel sangat jenius dan berkelas memoles ritual-ibadah mereka dengan cara: Setiap hari mencari Tuhan, suka belajar firman Tuhan, semua perilaku hidup dijalani berdasarkan hukum Allah, sampai-sampai apapun yang akan mereka lakukan harus menanyakan Tuhan terlebih dahulu. Bahkan mereka juga menganggap ritual berpuasa, hidup merendahkan diri dan berdoa adalah sebagai alasan agar Tuhan mengabulkan segala perkara hidup mereka (v. 2-3c) Tidak ada yang salah dengan ritual keagamaan dan puasa mereka, namun yang menjadi masalah adalah ketika di saat mereka menjalankan ritual keagamaan dengan begitu khusuk, tetapi di saat yang sama mereka juga terlalu sibuk mementingkan urusan diri sendiri sehingga tidak mau peduli dengan kesulitan orang lain yang membutuhkan. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi adalah mereka berlaku tidak adil, berbuat jahat dan menindas sesama dengan tanpa belaskasihan (v. 3d-5) Dan Tuhan sangat tidak berkenan pada mereka (v. 4c-d) Yang Tuhan kehendaki dari umat-Nya adalah supaya mereka membuka belenggu-belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya, artinya berlaku adil, tidak menindas, tidak menipu sesama dengan tipu muslihat demi keuntungan diri sendiri. Sebaliknya harus hidup saling peduli, saling berbagi, saling memperhatikan dan memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain yang diwujudkan melalui aksi yang nyata tidak hanya berkata prihatin di bibir saja. Itulah sesungguhnya yang dikehendaki oleh Tuhan bagi umat-Nya.

Refleksi:
Mari kita merenung sejenak. Apakah saudara rajin saat teduh, rajin beribadah, berdoa setiap hari? Itu baik sekali, tetapi akan sangat baik jika dilanjutkan dengan hidup berlaku adil terhadap sesama, tidak menipu dan memiliki kepekaan terhadap penderitaan dan kesulitan sesama dengan aksi yang nyata.

Tekadku:
Tuhan, ajarlah saya untuk mengamalkan hidup keagamaan saya dengan benar, agar saya tidak menipu Engkau dengan cara hidup keagamaan yang khusuk tetapi mengabaikan sesama.

Tindakkanku:
Saya akan melakukan hidup keagamaan saya dengan berpuasa agar saya dapat menyisihkan berkat Tuhan yang saya miliki sehingga saya dapat berbagi dengan sesama yang membutuhkan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«