suplemenGKI.com

Senin, 29 Juli 2013.

28/07/2013

Pengkhotbah 1:2, 12-14.

 

Kehidupan jika dijalani hanya dalam perspektif manusia semua sia-sia

 

Pengantar:
Manusia lahir, bertumbuh menjadi besar, dewasa, belajar, bekerja, berkarya, mengumpulkan  harta dan ilmu dan menikmati semua yang bisa dijangkaunya. Kemudian ia akan berkata “Aku puas, aku senang, aku berhasil” dan masih banyak aku, aku yang lainnya. Namun pada saatnya manusia akan mati dan meninggalkan semua kepuasan, kesenangan, keberhasilannya. Lalu kemanakah aku, aku dan akunya? Dia tidak bisa menemukannya lagi, tidak bisa menikmatinya lagi. Barangkali itulah yang bisa dikatakan kehidupan yang sia-sia.

Pemahaman:

  1. Apakah esensi yang ditonjolkan dalam ayat 1? Kemudian apa kaitannya dengan ayat 2?
  2. Apakah makna pernyataan penulis tentang karya, usaha dan perjuangan bila hanya dijalani dalam perspektif manusia? (v. 12-14)

Pengungkapan jati diri pengkhotbah dengan sebutan “anak Daud, raja di Yerusalem” merupakan sebuah bentuk pengakuan atas eksistensinya yang sedikit banyak menjadi kebanggaan dan kemasyurannya. Selain itu pengakuan itu juga sebagai bentuk syukurnya terhadap karunia Allah yang telah menganugerahkan hikmat yang luar biasa kepadanya untuk memimpin sebagai raja yang sukses (Band 1Raja 3:4-15) Namun di balik pengakuannya itu tersimpan sebuah nada pesimistik, bahkan bisa dikatakan sebuah keputusasaan di dalam batinnya, sekalipun dia telah melakukan banyak karya, meraih banyak kesuksesan dan menikmati banyak kenyamanan, itulah sebabnya dia merasa semuanya sia-sia.

Mengapa di balik semua kegemilangan, kebanggaan dan rasa bersyukur atas karunia hikmat dari Tuhan itu, Pengkhotbah kemudian menilainya semua sia-sia bahkan usaha menjaring angin? Ayat 12-14, merupakan sebuah titik kesadaran Pengkhotbah, bahwa segala eksistensi manusia beserta kegemilangannya dalam segala aspek, bila dijalani hanya dalam perspektif manusia yang terpisah dari Allah maka akan menimbulkan frustrasi dan kekecewaan. The Wiclife Bible commentary: Semua karya, kesenangan, kelimpahan materi, kebesaran nama dan kegemilangan duniawi bila dicari dan dijadikan tujuan akhir hidup yang terpisah dari Allah, itu tidak akan mendatangkan apapun selain kesedihan dan ke sia-siaan. Sia-sia diartikan sebagai hal yang bersifat sementara dan akan lenyap uap.

Refleksi:
Apapun yang kita perjuangkan, kita cari, kita usahakan atau kita kejar itu semuanya baik dan harus. Namun yang perlu diingat adalah jangan menjadikanya sebagai tujuan akhir yang terlepas dari tujuan untuk kasih, pengagungan dan pemuliaan kepada Allah, karena jika itu yang terjadi, maka semuanya akan menjadi sia-sia.

Tekad:
Tuhan, jangan biarkan aku berjuang, mencari, mengejar, mengumpul dan berkarya hanya untuk tujuan yang terpisah dari memuliakan Engkau, agar karya, perjuangan dan pencarianku tidak menjadi sia-sia.

Tindakan:
Mulai sekarang, apapun yang aku perjuangkan, kejar, cari dan karyakan semuanya kulakukan dengan senantiasa menyertakan Tuhan sebagai penguasa kehidupanku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«