suplemenGKI.com

Selidiki aku, lihat hatiku

Apakah ‘ku sungguh mengasihiMu, Yesus?

Kau yang maha tahu dan menilai hidupku

Tak ada yang tersembunyi bagiMu….

Potongan lirik tersebut merupakan potongan lirik sebuah lagu pop rohani, yang populer kita kenal dan barangkali juga sering kita dendangkan di gereja secara komunal ataupun secara pribadi dalam saat teduh. Pengakuan secara sadar di hadapan Tuhan mengenai eksistensi diri yang penuh dengan kelemahan dan keberdosaan merupakan langkah awal yang baik sebagai bukti nyata dari upaya penyadaran diri akan pentingnya relasi yang dekat dan hangat dengan Tuhan, Sang Pemberi “keselamatan” atau syalom (kata Ibrani dalam teks Yesaya tersebut). Arogansi berupa anggapan bahwa diri sendiri mampu terarah pada jalan Tuhan menjadi terhindarkan, mengingat inisiatif perihal keselamatan bagi manusia merupakan inisiatif Tuhan semata. Tetapi dapat pula jatuh pada ekstrim anggapan lain yang terkesan senada dengan hal tersebut, namun sebenarnya memiliki makna yang berbeda, yakni menganggap keselamatan sebagai harga mati yang tidak lagi memerlukan perjuangan untuk mempertahankannya. Padahal inisiatif perihal keselamatan yang berasal dari Tuhan tidak bersifat statis, tetapi memerlukan respon aktif dari pihak manusia.

1.Respon aktif seperti apakah yang tersirat dalam teks Yesaya yang telah kita baca ini?

  1. Apakah dengan meresponi “keselamatan” dari Tuhan dapat menjauhkan kita dari segala kesulitan ataupun tantangan dalam hidup?

Renungan

Dengan pengalaman-pengalaman yang dirasakan oleh Yesaya bersama umat pilihan Allah, ia juga mengalami keterlibatan Allah yang bersuara kepadanya untuk umat pilihan-Nya itu. Bukan saja Allah yang menghukum mereka oleh karena kesalahan-kesalahan, tetapi juga Allah yang akan mengalirkan keselamatan, bagaikan aliran sungai (ay.12), dimana Yerusalem menjadi saluran berkat itu. Keselamatan itu diberikan tiada berhenti, sehingga mereka yang menerima keselamatan tersebut merasakan kepenuhan di dalam Dia, yang dianalogikan dengan kehadiran seorang ibu yang berperanan penting dalam hidup anaknya. Layaknya seorang ibu dengan kasih sayang menyusui anaknya. Dengan tenaganya, seorang ibu menggendong anak dan membelainya di pangkuan. Seperti seorang ibu, Allah yang terus-menerus berkarya dan berbuat, terbukti umat-Nya di Yerusalem –kota suci dan pusat pemerintahan– mendapatkan penghiburan (ay.13). Meski Allah dikenal sebagai Allah yang tegas, tetapi ketegasan tersebut tidak semata-mata berupa hukuman. Yesaya justru menunjukkan sisi lain ketegasan Allah yaitu “sisi femininNya”. Ia menghibur dan memelihara anaknya seperti seorang ibu.

Yerusalem akan memiliki damai sejahtera dan menjadi penghibur bagi semua orang yang mengasihi Allah, termasuk bangsa-bangsa yang datang kepadaNya. Kesetiaan umat kepadaNya merupakan respon aktif terhadap keselamatan yang telah diberikan olehNya. Firman ini dengan tegas menyatakan bahwa berita keselamatan berlaku bagi umat yang setia kepadaNya. Keselamatan bukanlah untuk didiamkan saja atau dianggap sebagai sebuah pemberian, tetapi memerlukan respon aktif dari kita sebagai penerima. Tantangan hidup tidak perlu dijadikan beban dalam hidup. Yakinlah bahwa Tuhan yang dulu setia pada umatNya juga pasti setia pada umatNya di masa kini, maupun masa yang akan datang. Sudah sepatutnya kita mengucap syukur atasnya dan juga berjuang untuk memberikan yang terbaik bagiNya.

(Refrein):  T’lah ‘ku lihat kebaikanMu yang tak pernah habis di hidupku

‘Ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia…

Selamat ber-setia kepada Tuhan yang telah terlebih dahulu setia kepada kita!

Selamat berjuang hingga akhir!

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*