suplemenGKI.com

Senin, 26 Juni 2017

25/06/2017

Yeremia 28:1-11

MENYAMPAIKAN KEBENARAN TANPA PAKSAAN

PENGANTAR
Dalam pasal sebelumnya, pasal 27, Yeremia menyampaikan firman Tuhan kepada Zedekia, Raja Yehuda dan kepada raja-raja dari negeri-negeri Edom, Moab, Amon, Tirus, dan Sidon bahwa mereka akan dikalahkan oleh Nebukadnezar, raja Babel (27:1-6), dan sikap yang terbaik pada saat itu adalah tidak melakukan perlawanan, melainkan menaklukkan diri mereka kepada raja Nebukadnezar sampai waktu yang ditentukan Tuhan (27:7-11).  Nasihat yang sama juga diberikan kepada Zedekia, raja Yehuda (27:12-22). Yeremia juga memberi peringatan agar mereka tidak mendengarkan nubuatan nabi-nabi lain yang isinya berlawanan dengan apa yang telah disampaikannya (27:9-10; 14-18). Dalam bacaan kita hari ini, pasal 28, Yeremia langsung berhadapan dengan nabi Hananya yang menentang apa yang telah disampaikannya.

PEMAHAMAN

  • Ay. 1-4, 10-11. Apa yang dapat Anda ketahui tentang Hananya dan kota asalnya, Gibeon (lihat ay. 1, lihat juga Yos. 21:17-19)? Apa isi nubuatan yang disampaikan oleh Hananya? (lihat ay. 2-4). Dan, bagaimana caranya menyampaikan nubuatan tersebut? (lihat ay. 10-11).
  • Ay. 5-9. Bagaimana Yeremia menanggapi nubuatan Hananya yang isinya bertolak belakang dengan apa yang telah disampaikannya? Apa yang dapat kita teladani dari sikap nabi Yeremia?

Hananya juga dikenal sebagai seorang nabi, sama seperti Yeremia. Gibeon, daerah asal Hananya, adalah tempat tinggal para keturunan Harun (Yos. 21:17-19). Besar kemungkinan Hananya juga berasal dari keluarga para imam, sama seperti Yeremia yang berasal dari Anatot. Jadi, Hananya adalah “lawan” yang seimbang bagi Yeremia. Berbeda dari Yeremia, Hananya justru menubuatkan bahwa mereka semua akan bebas dari kekuasaan raja Babel (ay. 2-4). Tentu, ini lebih menarik bagi banyak orang. Hananya bahkan menggunakan cara yang lebih mengesankan dengan mengambil gandar di tengkuk Yeremia dan mematahkannya (ay. 10-11). Bagaimana Yeremia menjawab Hananya yang menentangnya?

Yeremia tahu bahwa kebenaran yang disampaikannya tidak mudah diterima, dan justru akan mendapatkan perlawanan. Namun, Yeremia tidak menggunakan paksaan atau kekerasan. Yeremia justru ikut mendoakan agar apa yang disampaikan Hananya itu sungguh-sungguh terjadi (ay. 6). Mengapa Yeremia bersikap demikian? Bagi Yeremia, jika apa yang dikatakan Hananya itu memang berasal dari Tuhan maka semuanya akan terjadi dan akan mendatangkan kebaikan bagi mereka (ay. 9). Kebenaran tidak cukup disampaikan dengan perkataan, melainkan harus dibuktikan dalam kenyataan.

REFLEKSI
Jika kebenaran tidak dapat disampaikan dengan paksaan atau kekerasan, cara apa yang seharusnya kita gunakan?

TEKADKU
Ya Tuhan, mampukanlah aku menyampaikan kebenaran dengan menjadi teladan, bukan dengan paksaan dan kekerasan.

TINDAKANKU
Aku akan berupaya melakukan kebenaran yang aku ajarkan dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hariku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«