suplemenGKI.com

Pada hari raya Pentakosta, kaum lelaki Yahudi berkumpul di Bait Allah untuk mengadakan pertemuan kudus (Im 23:21).  Selain mempersembahkan korban untuk menghapus dosa-dosa mereka, mereka juga menyatakan syukur dan terima kasih karena Tuhan memberikan berkat tuaian kepada mereka.  Pentakosta adalah istilah bahasa Yunani yang berarti “lima puluh,”  yang menunjuk pada jumlah hari sejak masa awal menuai (panen) sampai selesainya musim menuai.  Pada awal musim panen imam akan mengunjukkan berkas tuaian (Im 23:9-14) dan sehari setelah tujuh kali hari sabat (tujuh minggu) terhitung sejak hari itu, atau pada hari ke-50, mereka harus “mempersembahkan korban sajian yang baru kepada Tuhan” (Im 23:15-20).  Karena itulah hari raya ini juga disebut hari raya Tujuh Minggu. 

·   Ay. 1-4.  Mengapa orang-orang percaya (murid-murid Kristus) berkumpul di tempat itu? (lihat Kis 1:1-5).  Hal apa saja yang menjadi tanda kehadiran Roh Kudus atas diri para murid?

·   Ay. 5-13.  Siapa sajakah orang-orang yang menyaksikan persitiwa tersebut?  Bagaimanakah reaksi mereka terhadap peristiwa tersebut?

·   Peristiwa ini terjadi tepat pada salah satu hari raya terbesar orang Yahudi, yaitu hari Pentakosta (lihat penjelasan tentang Pentakosta di atas).  Menurut Anda, mengapa? (lihat juga Kis 1:8). 

·   Menurut Anda, apa yang seharusnya dilakukan orang-orang Kristen masa kini ketika memperingati hari Pentakosta?  Dan, bagi Anda sendiri, apa yang akan Anda lakukan untuk memperingatinya?

 

Renungan

Berkumpulnya para murid pada hari itu bukanlah sebuah kebetulan.  Tuhan sendirilah yang menyuruh mereka berkumpul di Yerusalem, dan mereka melakukan apa yang Tuhan katakan.  Selama sepuluh hari sejak kenaikan Yesus ke sorga para murid tekun berdoa di ruang tersebut.  Jadi, mereka benar-benar telah mempersiapkan diri mereka ketika Roh Kudus hadir di tengah-tengah mereka. Dengan persiapan yang matang seperti itu, tidaklah mengherankan bila Roh Kudus hadir dan berkarya secara nyata melalui mereka.  Kehadiran Roh Kudus itu terlihat nyata melalui tiupan angin dan lidah-lidah api yang hinggap pada mereka masing-masing.  Roh Kudus juga berkarya di tengah-tengah mereka sehingga mereka mampu berkhotbah dengan berbagai bahasa yang belum pernah mereka pelajari sebelumnya. 

Mari kita lihat lagi situasi di atas.  Ribuan orang telah berkumpul di Yerusalem, dan Roh Kudus telah siap bekerja.  Namun, apa arti semua itu jika para murid tidak siap dipakai Roh Kudus untuk melayani mereka.

Coba simak cerita berikut ini. Pada suatu hari di bulan Februari yang dingin, seekor siput mulai memanjat sebuah pohon apel.  Ketika dia bergerak naik dengan sangat lambat, ada seekor ulat mendongakkan kepalanya dari sebuah celah di batang pohon itu dan berkata, “Kamu membuang tenaga sia-sia.  Tidak ada satupun buah apel di atas.”  Sang siput tetap melanjutkan perjalanannya, bergerak sangat lambat.  “Pasti akan ada apel kalau aku sudah sampai di sana,” kata siput itu.  Menurut Anda, siapakah di antara mereka yang akan mendapat apel terbaik?

 

Kesempatan terbaik akan datang hanya kepada mereka yang mempersiapkan dirinya dengan baik.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*