suplemenGKI.com

Senin, 25 Juni 2012

24/06/2012

Ratapan 3:1-21

Murka-Nya Mendatangkan Derita

 

Apa jadinya jika ALLAH murka? Melalui Ratapan Nabi Yeremia dalam ayat 1-21 kita akan memperoleh gambaran tentang hal itu. Jika kita amati,dalam ayat-ayat tersebut hanya ada nuansa negatif, karena memang tak mudah, bahkan dapat dikatakan ‘nihil’ dalam menemukan kebaikan di tengah situasi yang dimurkai ALLAH.  Dan jika kita cermati lebih teliti,kita akan menjumpai beberapa penggambaran kondisi penderitaan manusia saat berada dekat dengan murka ALLAH.

  1. Situasi dan kondisi penderitaan seperti apakah yang digambarkan dalam Ratapan ayat 1-6,  7-13, dan 14-17?
  2. Mengingat isi dari ayat 1-17  ini begitu bernada negatif, hal apakah yang dapat merubahnya sehingga menjadi positif? (ayat 18-21)

Renungan

Di ayat 1-6 nabi Yeremia menggambarkan derita akibat murka ALLAH itu dalam bentuk situasi dan kondisi seseorang yang jauh dari terang dan hanya diliputi kegelapan. Bukan hanya dalam kondisi gelap tanpa terang, namun juga disertai pukulan, siksaan,bahkan rasa sedih dan susah tiada tara yang berujung pada kematian. Apa sesungguhnya pesan dari ayat ini? Tak lain adalah untuk menyadarkan umat Israel, dan juga kita di masa sekarang,  betapa seriusnya murka ALLAH atas dosa manusia. Dan pada saat murkaNya dinyatakan, maka kita akan merasakan penderitaan layaknya berada di dunia orang mati.

Selanjutnya, di ayat 7-13, digambarkan lagi tentang kondisi penderitaan akibat murka ALLAH, yakni seperti orang yang hanya menemui kebuntuan demi kebuntuan atas jalan yang dilaluinya. Bahkan penggambaran kebuntuan itu sedemikian tebalnya sehingga suara teriakan paling lantangpun tak akan mampu menembus dinding kebuntuan itu. Ditambah lagi, ternyata jalan buntu itu juga dilengkapi rintangan berupa batu-batu tajam, dan di ujung jalan telah menghadang beberapa jenis binatang buas yang siap memangsa tanpa ampun. Sungguh, tak ada kata lain untuk mengungkapkan akibat murka ALLAH ini selain kengerian.

Kemudian, di ayat 14-17, Yeremia juga membeberkan kondisi penderitaan akibat murka ALLAH melalui penggambaran rasa kenyang dengan kepahitan dan kehancuran hidup. Kata “ipuh” ini sama sekali tidak menunjuk kepada benda atau hal-hal jasmani. Dalam terjemahan Alkitab menurut versi Firman ALLAH Yang Hidup, kata ipuh berarti kedukaan yang dahsyat. Jadi, sama seperti  ayat 1-6 dan 7-13, ayat 14-17 inipun benar-benar ingin menekankan bahwa akibat dari murka ALLAH itu adalah penderitaan yang  amat dahsyat yang berujung pada lenyapnya kesejahteraan manusia.

Lalu, adakah hukuman dan penderitaan akibat murka ALLAH yang begitu bernada negatif itu masih bisa berubah menjadi positif? Di ayat 18-21 Yeremia seolah ingin memberitakan secara lantang bahwa masih ada kesempatan untuk merubah dari yang negatif itu menjadi positif, yaitu dengan belajar menaruh pengharapan kepada ALLAH. Sungguh ini adalah bukti kebesaran Kasih ALLAH . Di satu sisi,kita melihat betapa seriusnya DIA dalam menangani dosa, tetapi di sisi lain kita dibuat terkagum-kagum atas kasihNya yang memberi titik terang bagi umatNya yang mau berharap kepadaNya.

 

“Saat Murka ALLAH melanda, tak ada ruang yang bebas dari derita”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«