suplemenGKI.com

AGAR DENGAR

Ulangan 18 : 15 – 20   

 

Pengantar
Pada masa pandemi Covid-19 ini, ada anggota jemaat dari berbagai gereja yang rindu untuk dapat beribadah di rumah TUHAN (gedung gereja) secara langsung, baik karena telah menjadi kebiasaan  (merasa lebih pas’) atau karena juga rindu bertemu (bertatap muka) secara langsung untuk bertegur sapa dan berbincang dengan sesama anggota gereja. Alasan kebiasaan atau kerinduan jumpa sesama secara langsung memang baik, namun jika dikaitkan dengan kebiasaan dan kerinduan berjumpa TUHAN, maka tentu tidak harus dengan berada di rumah TUHAN. Dan mungkin kebiasaan dan kerinduan untuk berkumpul bersama TUHAN di tengah keluarga, justru yang perlu diwujudkan. Keluarga menjadi ‘gereja kecil’, yang di dalamnya tidak hanya ada pertemuan tapi juga berbagi peran (sebagai anggota tubuh Kristus) serta kepedulian bagi lingkungan sekitar. Namun dalam Ulangan 18 : 15 – 20 yang kita baca dan renungkan pada hari ini, ada hal penting yang hendak disampaikan, yaitu bukan saja tentang kehadiran TUHAN yang rindu kita rasakan, tapi terlebih hal mendengar suara TUHAN (merenungkan dan melakukan) bagaimanapun wujud kehadiran TUHAN, termasuk di tengah masa pandemi ini.

Pemahaman
Ayat 15 – 17        :  Apa yang TUHAN dengar dari umat-NYA?
Ayat 18 – 20        :  Apakah yang TUHAN harapkan untuk didengar Umat-NYA?

Dalam ayat 17, TUHAN menyatakan bahwa apa yang umat-NYA katakan itu baik. Hal apa yang dikatakan umat TUHAN, dan apa maksud perkataan mereka?. Ternyata umat TUHAN di waktu sebelumnya (sebagaimana tertulis pada ayat 16), pernah meminta kepada TUHAN di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, bahwa mereka tidak mau mendengar lagi suara TUHAN, dan api yang besar ini tidak mau mereka melihatnya lagi, supaya jangan mereka mati.

Nampaknya kehadiran TUHAN ‘secara langsung’ kepada umat-NYA membawa kegentaran yang luar biasa, sehingga TUHAN mengabulkan (mendengarkan) permintaan umat-NYA dengan membangkitkan (memberi) seorang nabi bagi mereka, yang berasal dari kalangan mereka juga agar mereka dapat (merasa aman) mendengar TUHAN melalui nabi tersebut.

Melalui seorang nabi ini, TUHAN akan menaruh firman-NYA dalam mulutnya, dan seorang nabi ini akan mengatakan kepada umat-NYA segala yang TUHAN perintahkan kepadanya. Namun dengan harapan dan  konsekuensi (ayat 19 – 20) sebagai berikut:

  • Orang yang tidak mendengarkan segala firman TUHAN yang akan diucapkan nabi itu demi nama TUHAN, dari padanya akan TUHAN tuntut pertanggungjawaban.
  • Nabi yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama TUHAN perkataan yang tidak TUHAN perintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.

Jadi, marilah kita memegang pesan pentingnya, yaitu: agar dengar (renung dan lakukan) suara TUHAN, karena TUHAN telah terlebih dahulu mendengar dan memahami kita.

Refleksi
Marilah kita berdiam diri sejenak dan mencoba merenungkan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apakah kita pernah meminta sesuatu kepada TUHAN, dan didengar (dijawab) TUHAN?
  • Apakah kita sedia mendengarkan suara (firman) TUHAN secara baik? (merenungkan dan melakukan) 

Tekadku
TUHAN, jadikan aku sebagai umat-MU yang terus setia mendengar, dengan merenungkan dan melakukan firman-MU dalam kehidupanku. 

Tindakanku
Dalam situasi pandemi Covid-19 dan di segala waktu, saya akan belajar untuk makin mendengar (merenungkan dan melakukan) suara (firman) TUHAN secara baik.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«