suplemenGKI.com

MEMANGGIL & MENYERTAI

Yeremia 1:4-10

 

PENGANTAR
Tidak mudah bagi Yeremia menerima panggilan Allah dalam hidupnya menjadi nabi.  Sebab bukan hanya mendadak (bagi Yeremia) dan seolah tidak memberi pilihan, tetapi juga karena ia diutus kepada bangsanya sendiri, yang notabene sedang mengalami kemunduran.  Lantas bagaimana respons Yeremia?  Apa yang Yeremia yakini melalui peristiwa itu? Mari kita pelajari!

PEMAHAMAN

Ayat 5-6 :  Apa yang Allah katakan tentang Yeremia?  Dan apa jawab Yeremia?

Ayat 7-10 :  Apa yang Allah kembali tegaskan kepada Yeremia?

Bagaimana pendapat anda tentang panggilan Yeremia?

Pernahkah anda menyakini panggilan dan pengutusan dari Allah?

Ada kesan Yeremia kaget dan sejenak merasa tidak siap ketika Allah menyatakan panggilanNya.  Wajar Yeremia kaget sebab penugasan dari Allah bukan hal yang biasa.  Bukan hanya menyangkut menjadi apa tetapi juga kepada siapa penugasan tersebut dijalankan.  Berdasarkan pilihan Allah, Yeremia diutus sebagai nabi di tengah kehidupan bangsanya yang justru ketika itu menjadi tawanan dan dibuang  jauh dari Yerusalem.  Spontan bila kemudian Yeremia menolak dengan alasan, “sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda” (ay.6).  Allah menolak argumentasi Yeremia, “tetapi kepada siapa pun engkau kuutus, haruslah engkau pergi dan apapun yang kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan” (ay.7).

Allah menggunakan kedaulatan-Nya untuk memilih dan menentukan siapa hamba-Nya yang akan diutus.  Namun kedaulatan Allah bukan hanya dinyatakan melalui tindakan memilih, tetapi juga menyertai.  Allah sendiri yang menjamin bahwa penugasan Yeremia tidak akan lepas dari komitmen-Nya: “Jangan takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau” (ay.8).  Penyertaan Allah dipertegas melalui tindakan-Nya yang “menaruh perkataan-perkataan-Ku” ke dalam mulut Yeremia.  Dengan demikian Yeremia hanya akan pergi dan menyatakan apa yang Allah maksudkan melalui penyertaan-Nya.  Allah yang memanggil adalah pribadi yang juga menyertai.

Pengalaman Yeremia menegaskan bahwa melayani bukanlah soal siap atau tidak, suka atau tidak tetapi lebih kepada keyakinan bahwa sejak semula Tuhan menghendaki setiap kita untuk turut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya.  Bukan karena kita yang mau tetapi Allah yang memilih dan senantiasa menyatakan penyertaan-Nya.  Sehingga apa yang kita lakukan dalam pelayanan, termasuk segala tutur kata kita, seturut dengan kehendak-Nya.  Jadi tidak ada alasan untuk tidak mengambil bagian dalam pelayanan, di atas pengakuan Allah yang memanggil dan Dia berjanji menyertai.  Konsekuensi dari keyakinan itu adalah tanggung jawab untuk mengerjakan segala hal yang baik dan benar di dalam dan melalui pelayanan.

REFLEKSI                                                                          
Mari hening sejenak untuk merenungkan: Allah berjanji tidak pernah meninggalkan setiap orang yang dipilih dan diutusNya, walaupun kita tetap melewati tantangan dan pergumulan.

TEKADKU
Tuhan tolong aku untuk terus menyakini pilihan dan janji penyertaan-Mu dalam hidup dan pelayanan.

TINDAKANKU
Aku mau menjaga hidup dan pelayananku agar senantiasa selaras dengan kehendak Dia yang sudah memanggil dan mengutusku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*