suplemenGKI.com

Perikop ini berbicara tentang panggilan Allah terhadap Yeremia untuk menjadi nabi atau hamba-Nya. Dipanggil menjadi hamba Allah adalah karunia, karena tidak semua orang bisa dipanggil oleh Allah tetapi juga tidak ada orang (siapapun juga) yang dapat memenuhi kriteria Allah sehingga ia dianggap pantas dipanggil menjadi hamba Allah. Maka jika ada orang seperti anda dan saya termasuk Yeremia dipanggil oleh Allah untuk menjadi hamba-Nya itu bukan karena anda dan saya memenuhi syarat Allah tetapi karena kebebasan Allah memilih anda dan saya. Itulah sebabnya bahwa panggilan Allah itu disebut karunia.

Pertanyaan-Pertanyaan Penuntun:

  1. Bagaimanakah cara Allah memanggil seseorang untuk menjadi hamba-Nya? (ay. 5)
  2. Apakah Allah bisa keliru menjadikan seseorang hamba/milik-Nya? (ay. 5)

Renungan:

Menarik sekali perikop ini diawali dengan kalimat tegas “Firman TUHAN datang kepadaku” Kata Tuhan dicetak dengan capital letter. Saudara tahu maksudnya? Itu menunjukan bahwa yang memanggil manusia menjadi hamba-Nya adalah satu pribadi yang luar biasa yang bersifat Transendan (yang maha segala-galanya sehingga tidak mungkin dijangkau oleh mahluk hina seperti manusia) yaitu TUHAN: yang menciptakan alam semesta dan segala isinya dan yang memiliki seluruh yang dapat dilihat, diraba dan dirasa atau yang tidak dapat dilihat, diraba dan dirasa.

Tetapi kalimat “datang kepadaku” Artinya Allah yang luar biasa itu datang kepada manusia yang hina. Kata datang menunjukan bahwa Dia menghampiri, mendekati, menyatu dan kemudian berkomunikasi dengan manusia salayaknya sebagai orang yang begitu dekat dan mengenal manusia. Itulah sebabnya Allah juga disebut Allah yang bersifat Imanen (yang dapat dijangkau, dapat dikenal dan dapat menjadi rekan bagi manusia)

Kedua sifat-Nya itu ditunjukan ketika Dia memanggil manusia menjadi hamba-Nya. Dia tidak memanggil manusia seenaknya, karena berkuasa maka asal memerintah. Tetapi dikatakan bahwa sejak sebelum dibentuk, sejak sebelum keluar dari rahim ibu, Dia telah mengenal, telah menguduskan dan telah menetapkan. Kata mengenal lebih dekat dengan “mempersiapkan” kata menguduskan lebih dekat dengan memisahkan/mengkhususkan dan kata menetapkan lebih dekat dengan memposisikan/mempercayakan.

Menjadi gamblang bagi kita untuk memahaminya. Bahwa setiap orang yang dipanggil-Nya itu tidak secara kebetulan, tetapi telah dipersiapkan, diarahkan, dimatangkan terlebih dahulu sejak sebelum dibentuk dan sebelum lahir. Bahkan yang bersangkutan sendiri belum pernah menyadari hal itu tetapi Allah telah mempersiapkannya. Kalau Allah yang telah mempersiapkan maka yang bersangkutan tidak bisa lalu berkata “akukan tidak cocok, tidak dikhususkan atau bisa memilih pilihan yang lain” tidak bisa. Engkau telah dikhuduskan/dikhususkan. Jadi bisakah Tuhan keliru memanggil seseorang menjadi hamba-Nya, menjadi milik-Nya atau menjadi pelayan-Nya. Itu tidak mungkin.

Alangkah salahnya kita apabila mengira bahwa kita menjadi hamba Tuhan karena terpaksa, karena tidak ada pekerjaan lain atau karena lebih mudah masuk sekolah teologia. Dan alangkah cilakanya kita apabila berpikir: menjadi anak Tuhan, menjadi jemaat Tuhan,  atau menjadi pelayan Tuhan itu karena terpaksa, karena diajak teman, karena cari teman, karena waktu luang atau apapun karenanya itu tidak benar. Sebab anda dan saya menjadi hamba Tuhan (apapun bentuknya) itu karena TUHAN telah mempersipkan, mengkhususkan dan menetapkan/mempercayakan kita sejak sebelum kita ada di dunia ini.

Yang terbaik bagi kita yang telah dipanggil adalah nikmati panggilan-Nya dengan sukacita berdasarkan ketaatan dan kesetiaan dan jangan coba-coba ngacir!

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*