suplemenGKI.com

Ketika Keadilan Diputarbalikkan

Mikha 3:1-4 

Salah satu topik yang mendominasi berita belakangan ini adalah tentang penegakan keadilan di negeri ini yang terus menerus diciderai dengan berbagai macam cara. Perenungan kita hari ini juga berbicara tentang hal yang sama. Kita juga akan mendapatkan gambaran tentang apa saja yang terjadi bila keadilan diputarbalikkan, dan bagaimana pula akhir dari semuanya itu. Karenanya, mari kita renungkan bersama

-  Seberapa dalam pengenalan Saudara terhadap GKI Residen Sudirman? Apakah Saudara sekadar tahu, ataukah paham betul seluk beluknya (mis. Berapa jumlah aktivis GKI Residen Sudirman)?

-  Ditujukan kepada orang seperti apakah firman Tuhan dalam nas bacaan kita hari ini?

-  Apakah Saudara dapat menjelaskan akibat apa saja yang timbul ketika keadilan tidak lagi ditegakkan? 

Renungan:

Melalui ayatnya yang pertama kita mengetahui bahwa firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi Mikha dalam nas bacaan kita hari ini ditujukan kepada para pemimpin bangsa Israel. Para pemimpin ini adalah orang-orang yang seharusnya mengetahui keadilan. Kata “mengetahui” yang digunakan di sini memiliki pengertian intensitas yang dalam. Sebagai gambaran, mengetahui di sini bukan sekadar mengetahui ada GKI Residen Sudirman di kota Surabaya ini, melainkan mengenal dengan betul seluk beluk GKI Residen Sudirman. Bahkan mungkin pengenalan yang sedemikian dalam itu dapat membuat kita menyebutkan berapa jumlah ruangan yang ada di GKI Residen Sudirman, berapa orang yang sudah dan sedang menjabat sebagai penatua, berapa jumlah dana yang ada, dsb. Dalam konteks bacaan kita hari ini, pengetahuan mereka sedemikian rupa dalamnya sampai mereka juga sanggup untuk mengajarkan keadilan tersebut.

Akan tetapi sangat disayangkan kalau pengetahuan yang sedemikian ini justru digunakan untuk hal yang salah. Mereka yang mengetahui keadilan itu justru membenci kebaikan dan sebaliknya, mencintai kejahatan. Kedua kata kerja yang dipakai di sini bersifat aktif. Hal ini menegaskan adanya unsur kesengajaan dalam tindakan mereka. Kalau mereka tidak melakukan apa yang baik, itu bukan sekadar “khilaf”, melainkan karena mereka tidak mau melakukan apa yang baik itu sehingga merancang untuk menghadang kebaikan tersebut. Demikian pula halnya kalau mereka melakukan kejahatan, tindakan tersebut bukanlah karena mereka sedang “terpeleset” sehingga jatuh, tetapi karena mereka memang memilih, mengambil inisiatif untuk melakukan kejahatan tersebut. Merujuk kepada ayat pertama, maka nampaknya “membenci kebaikan dan mencintai kejahatan” di sini berkaitan dengan menegakkan keadilan. Orang-orang yang paham betul tentang keadilan itu justru tidak menegakkan keadilan. Pemahaman mereka tentang keadilan tersebut malah mereka pakai sebagai alat untuk “memakan” orang lain sehingga menimbulkan penderitaan sedemikian rupa pada kehidupan orang lain itu. Nabi Mikha menggambarkan mereka seperti kanibal yang memangsa sesamanya.

Nampaknya ada satu hal yang tidak disadari oleh para pelaku kejahatan ini, yaitu bahwa mereka bukan hanya sekadar menjahati sesamanya, tetapi sedang menjahati Tuhan. Pada akhirnya hal ini juga akan menghancurkan diri mereka sendiri. Sebab ketidakadilan itu akan mengundang murka Tuhan turun. Dan kalau murka Tuhan itu turun kemudian mereka berseru-seru kepada Tuhan, maka seruan mereka itu tidak akan didengar. Hal ini bukan karena mereka ditinggalkan Tuhan, tapi karena mereka membuang Tuhan. Sejarah mencatat bahwa buah dari kejahatan ini adalah bangsa Israel dihancurkan pada tahun 587. Hal ini membuktikan bahwa ketika keadilan diputarbalikkan, maka kehidupan akan ditunggangbalikkan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«