suplemenGKI.com

Senin, 24 Mei 2010

23/05/2010

Amsal 8:1-4

HIKMAT BERGUNA DALAM HIDUP

Secara keseluruhan kitab Amsal berbicara tentang bagaimana cara hidup yang tepat di dunia ini.  Setiap orang harus memiliki hikmat dan kebijaksanaan dalam hidup agar dapat hidup dengan tepat.  Apabila kita perhatikan maka, Amsal 7 – 8 menggambarkan ada pilihan yang berhikmat, yang tentu saja menghasilkan sesuatu yang baik dan benar dan ada pilihan yang tidak berhikmat (dalam bahasa Amsal “bodoh”) yang menghasilkan sesuatu yang sia-sia.  Amsal 8: 1-4 secara khusus mengemukakan panggilan kepada orang percaya untuk memiliki hikmat sebagai bekal dalam menjalani hidup di dunia ini.

  • Di mana hikmat itu harusnya ditempatkan? (ay. 2-3).  Apa artinya?
  • Apa dampak hidup yang memiliki hikmat?
  • Apakah saudara sudah menempatkan hikmat pada tempat yang seharusnya dalam hidup?

RENUNGAN

Setiap orang percaya dipanggil untuk memiliki hikmat dalam hidup ini.  Panggilan untuk memiliki hikmat dalam hidup secara aktif disampaikan Amsal melalui kalimat “Bukankah hikmat berseru-seru” dan “kepandaian memperdengarkan suaranya” (ay. 1).  “Berseru-seru” dan “memperdengarkan” merupakan tindakan aktif dari hikmat yang tidak henti-hentinya memanggil untuk mengingatkan agar setiap orang dapat menggunakan hikmat dalam hidup.  Harapannya adalah setiap orang memandang penting hikmat dalam hidupnya.

Di mana hikmat itu harus ditempatkan dalam hidup manusia? Ay. 2 -3 menyatakan “di atas tempat-tempat yang tinggi”, “dipersimpangan jalan”, “di samping pintu-pintu gerbang, di depan kota, pada jalan masuk”.  Artinya, hikmat itu harus ditempatkan pada tempat yang strategis.  Di tempat-tempat yang tinggi, menunjukkan bahwa ketika hikmat itu kita utamakan dalam hidup maka kita dapat melihat dengan tepat, membedakan dengan cermat walaupun di sekitar kita banyak pilihan yang kelihatan nikmat, baik, benar atau menggiurkan.  Namun ketika kita menggunakan hikmat dalam melihat maka kita akan mendapatkan yang paling tepat dan benar dalam hidup.  Hikmat itu ditempatkan dipersimpangan jalan, bukankah itu tempat yang tepat sebab pada saat dipersimpangan jalan kita seringkali binggung.  Ketika berada dipersimpangan jalan, supaya kita tidak salah arah dibutuhkan petunjuk yang menuntun pada jalan yang benar dan tepat.  Begitu juga hidup kita, ketika binggung harus memilih jalan mana yang harus kita tempuh kita membutuhkan hikmat yaitu pertimbangan-pertimbangan yang matang, pengamatan yang jeli dan pikiran yang jernih dalam hidup.  Ayat 3 menyatakan hikmat berseru-seru dan memperdengarkan suaranya di samping pintu gerbang, di depan kota, pada jalan masuk.  Bukankah hikmat berada pada tempat yang tepat seolah-olah sebagai penjaga yang selalu waspada dan berjaga-jaga, untuk mendatangkan kebaikan.

Hikmat itu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidup, yang tak dapat disamakan dengan apa pun juga.  Hikmat tidak akan dimiliki orang yang mengandalkan kekayaan, kekuasaan, kepandaian, atau kedudukannya,  Tetapi hikmat menjadi milik orang yang hidup takut akan Tuhan, yaitu: yang membenci kejahatan, membenci kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat. Itulah sumber hikmat.  Orang yang menghargai hikmat akan hidup dalam pimpinan hikmat-Nya, sehingga hidupnya menjadi berharga di mata Allah dan manusia.

Hikmat Tuhan menuntun kita memiliki hidup yang berkenan kepada-Nya

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«