suplemenGKI.com

Senin, 24 Juli 2017

23/07/2017

TIDAK KOMPROMI

I Raja-raja 3:1-3

 

PENGANTAR
Bermula dari sebuah benih yang tumbuh di lereng pegunungan.  Setelah beberapa tahun, sebuah benih tumbuh menjadi pohon yang tinggi dan tahan uji tantangan alam. Namun, pohon itu tinggal gundukan kayu yang membusuk. Penyebabnya, sekelompok kumbang menyerangnya, menggerogotinya, sehingga pohon itu tumbang.  Demikian pula cerita tragis raja Salomo yang terkenal bijaksana dan dihormati, namun akhirnya ‘tumbang’ karena masih berkompromi dengan dosa.  Mari kita renungkan bersama.

PEMAHAMAN

  • Ayat 1 :  Apa yang raja Salomo lakukan di bagian ini?
  • Ayat 2 :  Apa yang masih bangsa Israel lakukan di masa raja Salomo?
  • Ayat 3:   Di sisi lain bagaimana sikap Daud kepada Tuhan?
  • Pernahkah saudara berada dalam situasi tergoda untuk melakukan kompromi?

Entah apa pertimbangan Salomo sehingga di masa pemerintahannya, ia tetap mengijinkan orang-orang Israel pergi ke bukit-bukit pengorbanan (ayat 2).  Bukit-bukit pengorbanan, merupakan tempat penyembahan di atas gundukan tanah yang tinggi.  Bukit-bukit pengorbanan ditujukan untuk memuja ilah-ilah (Bil 33:52; Im 26:30) atau benda-benda keramat seperti pilar batu atau tiang kayu dalam berbagai bentuk, yang dapat dikenali dengan adanya objek yang disembah (binatang, rasi bintang, dewi-dewi, dan dewa/dewi kesuburan).  Sangat mungkin sikap kompromi Salomo berkaitan dengan posisinya sebagai menantu Firaun (bdk dg. 11:1-4).  Wajar bila kemudian, Salomo bisa menyandingkan bukit-bukit pengorbanan dengan proyek membangun “rumah TUHAN” (ayat 1).  Bagi Salomo, pengakuan orang lain terhadap kekuasaannya menjadi  kebutuhan yang lebih besar dibanding  sikap menghargai TUHAN.  Salomo memandang remeh dosa dalam peribadahan. Mestinya sebagai raja, Salomo menjadi teladan yang baik.  Bukan sebaliknya!

Apa yang bisa kita pelajari dari kejatuhan Salomo?  Pertama: sebagai orang percaya, kompromi merupakan sikap yang bertentangan dengan pola hidup Illahi. Sebab dengan kompromi seseorang cenderung mengabaikan kebenaran demi tujuan tertentu, dengan cara melakukan yang tidak benar.  Kedua: hati-hati dengan ambisi pribadi atau kebutuhan diri.  Setiap orang pasti mempunyai kebutuhan diri, tetapi jangan sampai pemenuhannya mendominasi sehingga mengabaikan ketaatan pada hukum TUHAN.  Ketiga: belajar mengembangkan sikap hidup yang berpola Illahi.  Artinya, apa yang dilakukan harus bersumber dari kebenaran Allah bukan bersumber dari kebutuhan pemenuhan diri.  Allah harus tetap menjadi pusat hidup;  bukan sebaliknya, malah berpusat pada diri sendiri.  Mari kita mengembangkan pola hidup Illahi, tanpa kompromi.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Terus belajar mengembangkan pola hidup Illahi, sehingga menjadi benteng terhindar dari kompromi.

TEKADKU
Tuhan tolonglah aku agar mampu mengembangkan pola hidup Illahi, sehingga tidak mudah berkompromi dengan ketidakbenaran.

TINDAKANKU
Aku mau memperkuat iman dan karakter sebagai wujud pola hidup Illahi sehingga dapat tegas menolak segala bentuk kompromi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«