suplemenGKI.com

SENIN, 23 JUNI 2014

22/06/2014

Kejadian 22:1-6  

JALAN KETAATAN

 

Pengantar
“Orang bijak, taat membayar pajak,” demikian bunyi salah satu iklan yang mengajak para pemirsa dan pembaca media sosial untuk taat dalam membayar pajak.  Namun semudah itukah melakukannya?  Terlepas dari alasan-alasan yang bersifat pro dan kontra, kalimat ajakan ini mengindikasikan betapa sulitnya mengajak warga negara ini untuk taat dalam membayar pajak.  Benarkah taat itu sulit? Kita lihat pengalaman Abraham. Pemahaman :
Ayat 2:  Apa yang Allah kehendaki supaya Abraham lakukan?
Ayat 1, 3:  Apa respons Abraham ketika mendengar kehendak Allah?
Ayat 4:  Berapa lama Abraham menuju gunung Moria?
Ayat 3-6:  Apakah di sepanjang perjalanan, Abraham tampak berbincang dengan anaknya?  Mengapa?

Membaca ulang bagian ini kembali membuat kita ingin tahu bagaimana perasaan Abraham ketika itu.  Pertanyaan-pertanyaan semacam apa yang mungkin ia ajukan dan simpan dalam hatinya, khususnya ketika mendengar kehendak Allah dinyatakan, “ambillah anakmu yang tunggal itu . . . dan persembahkanlah dia sebagai korban bakaran” (ayat 2).  Tidakkah  Abraham protes atas permintaan ‘aneh’ seperti itu?  Tidakkah Abraham seharusnya mencoba menawar supaya bukan anaknya, tetapi hewan ternak  yang ia miliki untuk diberikan sebagai korban bakaran?  Atau mungkin Abraham seharusnya mencoba mencari alasan lain, supaya terhindar dari perintah semacam itu.  Nyatanya, tidak ada satupun catatan tentang perasaan hati Abraham ketika perintah itu diberikan. Abraham pasti bergumul menerima perintah semacam itu.  Apalagi, usia Ishak pada waktu itu masih belasan.  Artinya, belum terlalu lama juga Abraham menikmati penggenapan janji Allah yang akan memberikan keturunan.  Tapi mengapa sekarang seolah diambil kembali.  Seolah Allah bermain dengan janjiNya sendiri.

Mungkin saat ini kita mengalami hal yang sama dengan Abraham.  Apa yang kita anggap bisa memberikan kebahagiaan, hilang begitu saja.  Sementara menikmati pekerjaan dengan penghasilan yang lumayan, Allah menegaskan panggilannya kepada kita untuk menjadi hamba Tuhan.  Harus diakui, tidak mudah mengambil keputusan untuk taat.  Lantas apa yang menjadi kekuatan Abraham?  Saya yakin, keheningan di sepanjang perjalanan menuju gunung Moria itulah, menjadi momen yang tepat bagi Abraham mencerna maksud Allah.  Dalam diam yang seolah tak berujung jawab itu, Abraham mungkin mencoba menapaki kembali apa yang sudah Allah lakukan di masa lalu.   Abraham sampai pada satu kesimpulan, “Allah yang menyediakan” (ayat 8).  Abraham sadar bahwa Allah yang memberi, Allah pula yang mengambil.   Ketaatan bukan berarti kondisi tanpa tanya;  atau menerima begitu saja tanpa memberi kesempatan rasa berbicara.  Ketaatan mengajarkan kepada kita untuk terlebih dulu berdiam diri.  Tidak terburu protes atau menolak.  Tetapi berupaya untuk menerima, mencerna dan menemukan makna dibalik berita yang kita terima.  Dalam keheningan, kekuatan yang tak terpahami dari Allah akan memampukan untuk menjalani ketaatan.

Refleksi
Berdiam diri dalam doa dan tanya, akan membangkitkan kekuatan dalam menjalani ketaatan.

Tekadku
Sesulit apapun jalan di depanku, aku mau taat.

Tindakanku
Aku mau merenungkan karya Allah dalam hidupku supaya aku selalu punya alasan untuk mentaati perintahMu.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«